|
Bersyukur Dan Berjuang Andrie Wongso

Alkisah, di
beranda belakang sebuah rumah mewah, tampak seorang anak sedang berbincang dengan
ayahnya. "Ayah, nenek dulu pernah bercerita kepadaku bahwa kakek dan nenek
waktu masih muda sangat miskin, tidak punya uang sehingga tidak bisa terus
menyekolahkan ayah. Ayah pun harus bekerja membantu berjualan kue ke pasar-pasar,"
tanya sang anak. "Apa betul begitu, Yah?"
Sang ayah
kemudian bertanya, "Memang begitulah keadaannya, Nak. Mengapa kau tanyakan hal
itu anakku?"
Si anak menjawab,
"Aku membayangkan saja ngeri Yah. Lantas, Apakah Ayah pernah menyesali masa
lalu yang serba kekurangan, sekolah rendah dan susah begitu?"
Sambil mengelus
sayang putranya, ayah menjawab, "Tidak Nak, ayah tidak pernah menyesalinya dan
tidak akan mau menukar dengan apapun masa lalu itu. Bahkan, ayah mensyukurinya.
Karena, kalau tidak ada penderitaan seperti itu, mungkin ayah tidak akan punya
semangat untuk belajar dan bekerja, berjuang dan belajar lagi, hingga bisa
berhasil seperti saat ini."
Mendapat jawaban
demikian, si anak melanjutkan pertanyaannya, "Kalau begitu, aku tidak mungkin
sukses seperti Ayah dong?"
Heran dengan
pemikiran anaknya, sang ayah kembali bertanya, "Kenapa Kau berpikir tidak bisa
sukses seperti ayah?"
"Lho kata Ayah
tadi, penderitaan masa lalu yang serbasusah lah yang membuat Ayah berhasil.
Padahal aku dilahirkan dalam keluarga mampu, kan ayahku orang sukses," ujar si
anak sambil menatap bangga ayahnya. "Ayah tidak sekolah tinggi, sedangkan Ayah
menyuruhku kalau bisa sekolah sampai S2 dan menguasai 3 bahasa, Inggris, Mandarin
dan IT. Kalau aku ingin sukses seperti Ayah kan nggak bisa dong. Kan aku nggak susah
seperti Ayah dulu?"
Mengetahui
pemikiran sang anak, ayah pun tertawa. "Hahaha, memang kamu mau jadi anak orang
miskin dan jualan kue?" canda ayah.
Digoda sang ayah,
si anak menjawab, "Yaaaah, kan udah nggak bisa memilih. Tapi kayaknya kalau
bisa memilih pun, aku memilih seperti sekarang saja deh. Enak sih, punya papa
mama baik dan mampu seperti papa mamaku hehehe."
Sang ayah lantas
melanjutkan perkataannya, "Karena itulah, kamu harus bersyukur tidak perlu
susah seperti ayah dulu. Yang jelas, siapa orangtua kita dan bagaimana keadaan
masa lalu itu, kaya atau miskin, kita tidak bisa memilih, ya kan? Maka, ayah
tidak pernah menyesali masa lalu. Malah bersyukur pada masa lalu yang penuh
dengan penderitaan, dari sana ayah belajar hanya penderitaan hidup yang dapat
mengajarkan pada manusia akan arti keindahan dan nilai kehidupan. Yang jelas,
di kehidupan ini ada hukum perubahan yang berlaku. Kita bisa merubah keadaan
jika kita mau belajar, berusaha, dan berjuang habis-habisan. Tuhan memberi kita
segala kemampuan itu, gunakan sebaik-baiknya. Dimulai dari keadaan kita saat
ini, entah miskin atau kaya. Niscaya, semua usaha kita diberkati dan kamu pun bisa
sukses melebihi ayah saat ini. Ingat, teruslah berdoa serta berusaha. Belajar
dan bekerjalah lebih keras dan giat. Maka, cita-citamu akan tercapai."
Pembaca yang
budiman,
Pikiran manusia
tidak mungkin mampu menggali dan mengetahui rahasia kebesaran Tuhan. Karena
itu, sebagai manusia (puk nen sien cek) kita
tidak bisa memilih mau lahir di keluarga kaya atau miskin. Kita juga tak bisa memilih
lahir di negara barat atau di timur dan lain sebagainya.
Maka, jika kita
lahir di keluarga yang kaya, kita harus mampu mensyukuri dengan hidup penuh
semangat dan bersahaja. Sebaliknya, jika kita terlahir di keluarga yang kurang
mampu, kita pun harus tetap menyukurinya sambil terus belajar dan beriktiar
lebih keras untuk memperoleh kehidupan lebih baik. Sebab, selama kita bisa
bekerja dengan baik benar dan halal, Tuhan pasti akan membantu kita! Ingat,
bahwa Tuhan tidak akan merubah nasib seseorang, tanpa orang itu mau berusaha
merubah nasibnya sendiri.
Terus berjuang,
raih kesuksesan!
Salam sukses luar biasa!!!
Andrie Wongso
|