|
Seperti Jenderal Di Medan Perang Ippho Santosa
Dewasa ini, adalah susah untuk menetapkan keputusan jika hanya mengharapkan
otak kiri yang mengharuskan data serba lengkap. Persis seperti seorang jenderal
yang tengah menjajaki kekuatan musuh di medan perang. Petunjuk-petunjuk sering
tidak komplit. Iya ‘kan? Walhasil, tidak jarang sang jenderal mengira-ngira
berdasarkan intuisinya.
Serupa dengan sepasang suami-istri. Ketika si suami selingkuh, kok bisa-bisanya
si istri tahu? Padahal si istri tidak melihat langsung. Saksi tidak ada. Bukti
juga tidak ada. Rupa-rupanya intuisi si istri yang mendelik. Secepat kedipan mata! Blink! Secara umum dapat dikatakan,
wanita memang lebih intuitif daripada pria. Kemampuan intuitif ini juga melekat
pada pemimpin, pengusaha, seniman, dan Bangsa Asia.
Itu 'kan kalau datanya tidak komplit? Lantas, bagaimana kalau sebaliknya? Data tumpah-ruah.
Pahamilah, intuisi tetap diperlukan. Mutlak! Yah, Anda mana punya waktu untuk
memilah dan memilih? Belum lagi ganasnya persaingan belakangan ini. Nah,
situasi sedemikian rupa memaksa Anda untuk membuat keputusan dengan sekali
sambar -tidak bisa berlama-lama. Di sini lagi-lagi intuisi diharapkan untuk unjuk
kerja dan kinerja.
Sebagai entrepreneur di bidang
properti, musik, dan makanan, entah berapa intuisi membimbing, bahkan
menyelamatkan saya. Anda tidak percaya? Bawalah orang-orang yang Anda anggap
dahsyat ke hadapan saya. Di waktu sama, saya akan tunjukkan kepada Anda,
orang-orang yang tajam intuisinya. Dengan intuisi yang terasah, mereka mengupas
dan menguliti problema demi problema. Buntut-buntutnya, mereka dapat mempercepat
kesuksesan. Pasti itu!
Berbekal intuisi, Anda bagai melihat sesuatu yang tak terlihat oleh
kebanyakan orang. Hei, ini bukan berarti Anda harus mengarduskan riset, analisis,
dan kalkulasi. Tidak, tidak! Itu semua tetap ada gunanya, tetapi lebih sebagai
penguat, pelengkap, dan pengiring. Oleh karena itulah, bagi orang manajemen dan
orang pendidikan, intuisi itu dianggap terlarang.
Mulailah dengan yang kanan. Kemudian? Barulah dijabarkan dengan yang kiri.
Itu artinya, intuisi dulu, baru analisis. Blink
dulu, baru think. Seorang entrepreneur yang ditawarkan suatu
lokasi, hatinya mungkin membatin, "Sepertinya di sini cocok dibuka
pujasera." Yap, intuisinya yang berbicara. Setelah itu, barulah otak kirinya
yang berputar. Data-data pun dikumpulkan, dicermati, dan ditimbang-timbang.
Seorang pria yang dipertemukan dengan seorang wanita, hatinya mungkin
membatin, "Sepertinya dia cocok buat saya." Yap, intuisinya yang
berbicara. Setelah itu, barulah otak kirinya yang berputar. Ia pun memikirkan aspek
kepribadian, pendidikan, ekonomi, latar belakang keluarga, dan lain-lain. Jelas
'kan? Kanan dulu, baru kiri. Menurut saya, kalau awal-awal kanan sudah bilang 'no', tidak ada gunanya kiri memaksakan
diri bilang 'yes'.
Ippho Santosa adalah Creative
Marketer, dengan latarbelakang entrepreneur
di bidang properti, musik, makanan, dan penulis bestseller 10 Jurus Terlarang!
|