|
Hary Tanoesudibjo, Raja Multimedia Indonesia Team Andriewongso.com
Belakangan ini, media di Indonesia
semakin ramai. Era kebebasan pers seolah telah menjadi pintu yang terbuka lebar
bagi munculnya media di tanah air. Namun ternyata, dari sekian banyak media
yang bermunculan, yang bertahan hidup dan sukses hanya sedikit. Salah satu
aktor utama pemilik media yang dianggap cukup sukses adalah seorang pria
bernama Hary Tanoesodibjo. Ia di antaranya menguasai tiga televisi, RCTI, TPI,
dan Global TV melalui jaringan Media Nusantara Citra miliknya.
Sukses Hary menjadikan dirinya
disebut sebagai spesialis "dokter" perusahaan yang bermasalah. Langkah paling
gemilang lulusan Ottawa
University, Kanada ini di
antaranya yaitu dengan membenahi Bimantara yang terbelit utang. Kini, di tangan
Hary, Bimantara semakin melebarkan sayapnya dengan memiliki stasiun Trijaya FM, majalah ekonomi dan bisnis Trust, tabloid remaja Genie, dan Koran Seputar Indonesia. Kemampuan tersebut menjadikan Hary juga berjuluk
Raja Multimedia Indonesia.
Kepiawaian Hary berbisnis sudah
nampak sejak ia di bangku kuliah. Pada saat menjadi seorang mahasiwa, Hary
bermain saham di bursa Toronto.
Di sana Hary
mengenal investor-investor kelas kakap. Maka, sepulang ke Indonesia,
bermodalkan pinjaman dari sang ayah, Hary mendirikan perusahaan sekuritas PT
Bhakti Investama di Surabaya.
Pria kelahiran tahun 1965 ini lantas
banyak terlibat dalam kegiatan investment
banking serta aksi merger dan akuisisi. Perusahaan-perusahaan bermasalah
diborong dengan harga murah, diperbaiki, lalu dijual. Dari sinilah ia
memperbesar bisnisnya. Hary piawai dalam membaca peluang dan mencari sumber
dana. Aksi akuisisinya jarang menggunakan dana sendiri. Ekspansi bisnisnya
dengan cara mencari dana dari publik melalui penawaran saham ataupun melalui konsorsium.
Dengan latar belakang sebagai
banker investasi yang terkemuka, dia membangun perusahaan bisnis dengan bendera
PT Media Nusantara Citra Tbk hingga seperti sekarang ini. Tahun 2002, Hary masuk
ke Bimantara Citra. Ia tidak membentuk konsorsium maupun melakukan pinjaman,
melainkan modalnya dari keuntungan dalam kegiatan investment bangking.
Sejak memiliki Bimantara, Hary
semakin agresif di bidang media. Buktinya, tak sampai lima tahun semejak bernaung di Media
Nusantara Citra (MNC), Hary berhasil menguasai saham mayoritas di tiga stasiun
TV (RCTI, Global TV, dan TPI). Saham MNC sendiri sebanyak 99,9 % dimiliki oleh
Bimantara Citra.
Pria yang jarang mau diwawancara
ini memang terkesan low profile.
Namun, bagi orang-orang di dekatnya, kunci sukses Hary karena ia dianggap
"sangat mencintai pasar modal". Selain gemar mengikuti berbagai seminar soal
pasar modal, jika sudah bicara soal pasar modal, ia seolah lupa waktu.
Kecintaan pada profesi inilah
yang terbukti mampu mengantarkan Presiden Direktur dan CEO PT Media Nusantara
Citra Tbk serta Group Executive Chairman PT. Bhakti Investama Tbk ini menjadi
pengusaha terkaya kelima belas di Indonesia versi Forbes tahun 2007.
Kesuksesan yang
dimiliki Hary sekarang ini tak terlepas dari kepiawaiannya membaca peluang dan
mencari sumber dana. Berkat kepiawaiannya tersebut, Hary mampu menata kembali
perusahaan yang sedang bermasalah dan membawa perusahaan tersebut di puncak
kesuksesan. Namun, kepiawaian itu didapat karena kecintaannya yang mendalam
terhadap pekerjaannya. Totalitas Hary inilah yang patut dijadikan teladan untuk
mencapai sukses untuk profesi apapun yang kita geluti |