|
Jangan Dorong Menjadi Tua Ardian Syam
Waduh, ngerepotin banget judulnya. Kan sekarang justru banyak produk untuk menahan proses penuaan atau anti aging. Kok
masih ada yang mendorong untuk menjadi tua? Benar, memang ada orang
atau perusahaan yang tanpa sengaja mendorong produknya menjadi mature dan decline. Oh, ini tentang product life cycle tho?
Bukan tentang wajah? Bukan, jelas tentang product life cycle
dan seringkali orang menjerumuskan diri sendiri karena tidak peduli
dengan konsep PLC ini. Konsep ini memang sudah sangat usang tetapi
masih bisa dipergunakan sebagai acuan. Rasanya kita sama-sama ingat bahwa ada tahap kelahir, pertumbuhan, matang / mature, dan kemudian decline. Nah masing-masing tahap akan berbeda durasinya untuk setiap produk atau jasa. Tapi kan pelanggan yang membuat produk atau jasa terdorong ke tiap tahap? Tidak
juga ternyata. Benar bahwa ketika kebutuhan pelanggan terhadap barang
atau jasa yang kita sediakan menjadi berubah maka menjadi berubah pula
tahapan produk kita dalam PLC.
Nah,
kebutuhan sangat tergantung pada ketersediaan dan kemudahan untuk
mendapatkan. Artinya ketika sebuah produk atau jasa tersedia sangat
banyak di pasar dan dijual siapa saja, maka akan menjadi mudah untuk
didapatkan. Belum lagi bila karena banyak penjual, maka terjadi perang
harga, sehingga barang atau jasa tersebut bukan hanya tersedia dalam
jumlah banyak dan mudah didapat, tetapi sekaligus juga dapat diperoleh
dengan mengeluarkan sedikit uang saja, maka persepsi pasar akan berubah. Bagaimana bisa berubah?
Tentu
saja berubah. Ketika barang atau jasa tersebut susah didapat karena
stoknya tidak banyak dan harganya mahal, maka akan menjadi kebanggaan
bagi banyak orang bila diketahui sedang mengkonsumsi barang atau jasa
tersebut. Kebutuhan
yang dipuaskan bukan hanya kebutuhan secara fisikal, tetapi kebutuhan
secara mental karena prestise mereka menjadi naik. Nah,
bagaimana ketika barang atau jasa menjadi komoditas saking banyaknya?
Belum lagi bila akibat perang harga, maka nilai pasar barang atau jasa
menjadi sangat murah? Padahal
barang atau jasa yang dipasarkan sekarang sangat tergantung pada
persepsi pelanggan, pembeli dan calon pembeli. Nah, ketika barang atau
jasa sudah menjadi sangat rendah nilainya, maka hilanglah peluang dari
orang-orang yang mengharapkan mendapat peningkatan prestise karena
membeli barang atau jasa dari Anda. Sehingga
strategi untuk membuat barang atau jasa semakin banyak tersedia dan
semakin mudah didapat, juga bukan strategi yang sangat baik. Karena itu
akan mendorong life cycle menjadi semakin cepat. Jadi perang harga bisa mendorong barang atau jasa cepat menjadi tua?
Tentu
saja. Satu hal lagi, perang harga mengakibatkan nilai barang atau jasa
menjadi lebih rendah. Harga yang menjadi turun dapat pula berakibat
pada penurunan dalam persepsi pembeli terhadap barang atau jasa yang
Anda berikan. Kalau begitu jangan ikut dalam perang harga? Sebaiknya tidak. Karena perang harga hanya akan membunuh Anda sendiri. Karena harga barang atau jasa yang Anda sediakan adalah cost of goods sold ditambah dengan profit yang Anda harapkan. Maka ketika Anda ikut perang harga, Anda akan tiba pada harga jual yang lebih rendah daripada cost of goods sold. Dan
itu berarti, sangat tergantung pada kekuatan finansial Anda, menanti
masa perang harga benar-benar berakhir. Atau Anda mati sebelum perang
harga tersebut berhenti. Mengapa
Anda tidak berfikir terbalik bahwa harga barang atau jasa yang Anda
sediakan berada di tingkat persepsian yang tetap dan tidak berarti Anda
sangat yakin bahwa kualitas Anda memang lebih baik sehingga pembeli
mendapatkan value yang sesuai dengan uang yang dia keluarkan. Memang
tidak mudah untuk meyakinkan diri sendiri (justru ini paradoksnya)
bahwa kualitas barang atau jasa yang Anda sediakan memang lebih baik
daripada yang disediakan kompetitor.
Syukur, bila Anda memang tidak
mudah meyakinkan diri tentang kualitas barang atau jasa yang Anda
sediakan. Tetapi tindak lanjutilah dengan melakukan monitor terus
menerus terhadap kualitas tersebut. Sudah ada sekian banyak alat untuk
mengukur kualitas termasuk yang dipersembahkan oleh penggagas dan
pendorong kepopuleran Six Sigma. Selain
itu, Anda juga tidak perlu mericuhi pasar dengan memperbanyak produk
yang tersedia di pasar. Memang seringkali perusahaan tergoda untuk
menyediakan fighting brand (product) untuk memukul kompetitor yang mulai mendekat, tanpa harus kehilangan muka bila tidak berhasil memukul. Tetapi fighting brand justru semakin mendorong barang atau jasa yang Anda sediakan justru menjadi komoditas. Jadi kapan Anda berhenti mendorong barang atau jasa itu cepat menjadi lebih tua?
|