|
Berani Saja Tidak Cukup Agoeng Widyatmoko
Dalam beberapa kali seminar soal kewirausahaan, saya sering
mendengar orang yang berkata bahwa modal utama usaha adalah keberanian alias
kenekadan. Karena mendapat masukan semacam itu, otak saya pun terpacu untuk
menjalankan berbagai usaha, dari sejak saya sekolah menengah atas (SMA),
kuliah, dan bahkan ketika bekerja pada sebuah institusi. Usaha saya kala itu
memang tergolong mikro. Skalanya memang tak besar. Tapi, modal yang saya
keluarkan untuk beberapa usaha tersebut, dari jualan jam tangan, jualan aneka
aksesoris, buka pengetikan komputer, broker cetakan, hingga event organizing
(EO) tetap saja ukurannya cukup besar untuk kantong saya saat itu.
Asal berani dan asal ada peluang, saya pasti akan langsung
maju dengan modal yang saya miliki. Hasilnya? Secara hitung-hitungan angka
sangat tidak memuaskan. Tapi, secara hitung-hitungan "modal masa depan", saya
merasa tak rugi sama sekali. Tapi, sebagai manusia biasa, siapa sih yang tidak
kecewa modal hilang begitu saja? Herannya, entah kenapa, suatu ketika seorang
teman menawarkan sebuah peluang bisnis, karena di mata saya usaha itu cukup
berprospek, tanpa memikir lagi saya invest modal saya. Dan, lagi-lagi saya kejeblos.
Modal tak balik seperti harapan.
Tapi, anehnya, keberanian membuka usaha itu tak pernah
surut. Hanya saja, kali ini saya lebih memakai perhitungan berdasar pengalaman.
Hasilnya beberapa memang mulai menunjukkan grafik kenaikan. Meskipun, proses
jatuh bangun it uterus saya alami.
Nah, berangkat dari pengalaman tersebut, saya hanya ingin berbagi.
Jika setuju, silakan dipakai cara saya, kalaupun tidak, semua itu adalah hak
Anda. Berbagai pengalaman tersebut membuat saya menyimpulkan beberapa hal
berikut:
- Berani
butuh kekuatan mental
Jika tidak kuat mental dan tahan
banting, jangan asal berani. Nekad alias berani kalau hasilnya tak sesuai
harapan, akan sangat menyakitkan. Maka, hanya bagi yang kuat mental sajalah
yang saya anjurkan untuk mengambil langkah berani ini. Tapi, bukan berarti
nekad menjadi satu hal yang salah. Melainkan, nekadlah dengan perhitungan. Yang
saya maksud penuh perhitungan di sini adalah saat berpikir ada peluang, jika
punya kemampuan dan kemauan kuat, segera ambil tindakan (action). Sebab, kalau
tanpa tindakan, sebagus apapun rencana, hanya akan tinggal harapan. Jadi, yang
dihitung bukan soal kemungkinan untung rugi dan balik modalnya, melainkan asal
punya keyakinan kuat tentang sebuah peluang, daripada hanya berhenti sebagai
ide, kenapa tidak segera dieksekusi.
Tapi, kembali ke soal keberanian,
perhitungan kita pun masih bisa meleset. Karena itulah, kembali ke soal mental.
Hanya yang punya bekal mental tahan bantinglah yang akan berhasil melewati
berbagai ujian di depan.
- Berani
butuh kecerdasan
Cerdas di sini adalah ketika kita
sudah memutuskan terjun ke dunia entrepreneurship, kita harus mampu mengelola
aneka sumber daya yang ada. Kadang, saat gagal, kita langsung patah semangat
dan tak sadar hadirnya peluang besar di balik kegagalan itu. Padahal, dengan
sedikit kejelian (baca: kecerdasan), pasti ada hal positif yang bisa dikerjakan
dari kegagalan tersebut. Ini terjadi ketika sekolah penulisan yang saya dirikan
bersama beberapa teman mengalami kekurangan murid. Dengan sedikit kejelian,
ternyata tim kami justru berhasil meng-create
sebuah program yang mendatangkan keuntungan lebih besar dibanding kelas regular
pada umumnya.
- Berani
butuh pengorbanan
Pengorbanan di sini saya
umpamakan dengan para martir di medan
perang. Pengorbanan prajurit di barisan paling depan biasanya akan membuka
jalan menuju kemenangan. Kalau istilah "kasar" saya, kita butuh "tumbal". Saat
hendak menjalankan sebuah bisnis, kadang kita perlu "mengorbankan" salah satu
bisnis untuk menjaring bisnis yang lebih besar. Bukankah untuk menangkap ikan
besar di laut kita tak bisa hanya menggunakan umpan cacing?
Cara berbisnis semacam ini lazim
adanya. Seperti yang dilakukan oleh peritel besar yang memberikan harga diskon
besar untuk satu dua produk yang laris di pasaran. Dengan memotong keuntungan
dari produk tersebut, orang akan memunyai image
bahwa retailer itu murah. Dengan begitu, meski produk lain lebih mahal, orang
tetap merasa produk di sana
lebih murah.
Sekali lagi, soal keberanian ini semata bukan hanya urusan
nekad. Tapi, perlu juga menggunakan perhitungan yang matang. Jadi, masih
nekadkah Anda?
|