|
Melihat Yang Tak Terlihat Ippho Santosa
Imajinasi semata, cukupkah? Saya
yakin Anda sudah tahu jawabannya. Jelas tidak cukup. Tidak bisa tidak,
imajinasi mesti dikristalkan menjadi visi -di mana kedua-duanya merupakan
inventori otak kanan. Saya dengar sendiri bahwa mantan presiden BJ Habibie muak dengan istilah
impian. Alih-alih istilah impian, ia lebih sreg dengan istilah visi. Baginya,
itu lebih konkret.
Omong-omong, visi itu apa sih? Sesungguhnya, kata lain untuk visi adalah
niat. Tentu, Anda masih ingat dengan pernyataan ‘mulailah dengan yang kanan'
yang menyiratkan makna ‘mulailah dengan otak kanan'. Nah, itu semua dapat Anda
tautkan dengan pernyataan ‘mulailah dengan niat'. Jadi, kata kuncinya adalah otak
kanan, visi, dan niat. Serangkai!
Ringkasnya, mulailah dengan visi (baca; kanan). Setelah itu, barulah iringi
dengan taktik (baca: kiri). Begin with
the end in mind, ujar Stephen Covey dalam Seven Habits-nya. Siapa sih yang sanggup menyangkal kedahsyatan sebuah visi? Sebagai contoh, visi yang melompat jauh kedepanlah
yang membuat Trihatma Haliman -1 dari 5 tokoh bisnis paling berpengaruh
sepanjang 2006 menurut majalah Warta Ekonomi- berani menggeber belasan proyek
raksasa dalam setahun, di mana masing-masing proyek memakan biaya tidak kurang
dari Rp 200 milyar, seumpama Senayan City, The Peak, dan The Pakubuwono
Residence. Padahal awal-awal banyak pihak yang ngenyek.
Seseorang pernah menanyakan cita-cita -yang merupakan sepupu dari visi-
pada lima anak kecil.
Jawab anak pertama, "Saya ingin jadi
guru!"
Jawab anak kedua, "Saya ingin jadi ulama!"
Jawab anak ketiga, "Saya ingin jadi
dokter!"
Jawab anak keempat, "Saya ingin jadi
pelukis!"
Anak kelima sedikit berbeda. Dia
mempunyai sebuah visi. Karena itu, dengan lugas dan cerdas ia menyahut, "Saya
ingin menjadi seorang pengusaha yang berjiwa sosial. Setelah bisnis-bisnis saya
mapan, akan saya bangun sekolah dan tempat ibadah, supaya guru-guru dan ulama-ulama
bisa mengajar. Saya bangun juga rumah sakit, supaya dokter-dokter bisa praktek.
Saya bangun juga sanggar, supaya pelukis-pelukis bisa berkarya."
Seperti yang diulas sebelumnya, orang kiri sejati sukar untuk berhasil.
Kenapa? Karena mereka kagok dengan imajinasi, visualisasi, dan visi. Berpikir
irrasional dan berpikir ‘seolah-olah', tidak ada dalam kamus mereka. Kasihan
‘kan?
Sadarlah, seorang negarawan tidak lagi dituntut akan kerja-kerja kiri,
tetapi lebih pada kerja-kerja kanan. Seorang pengusaha tidak lagi disibukkan dengan
kerja-kerja kiri, tetapi lebih pada kerja-kerja kanan. Seorang kepala rumah
tangga tidak lagi diuber-uber dengan kerja-kerja kiri, tetapi lebih pada
kerja-kerja kanan. Salah satunya, bervisi -melihat sesuatu yang belum terlihat
oleh orang lain. Termasuk memiliki gambaran besar. Andakah orangnya?
Ippho Santosa adalah Creative
Marketer, dengan latarbelakang entrepreneur
di bidang properti, musik, makanan, dan penulis bestseller 10 Jurus Terlarang!
|