|
Begini Seharusnya Pelayanan Call Center (bagian 2 - Tamat) Ponijan Liaw
Tingkatkan Product Knowlede
Corporate sebaiknya segera mengoreksi dan
memberikan pelatihan kepada seluruh petugas call
center-nya dalam hal pemahaman produk
secara komprehensif dan terkoordinasi. Tidak jarang, kita menemukan informasi
yang berbeda antara satu petugas dengan petugas lainnya di call center yang sama. Info itu akan berbeda lagi jika dicocokkan
dengan petugas di lapangan (ground
staff). Hal ini tentu akan merugikan
dan mengecewakan pelanggan. Sadarilah bahwa citra corporate terletak di ujung tombak pelayanannya yang bernama call center
itu. Dan, karena informasi itu keluar dari badan resmi, corporate call center,
pada umumnya pelanggan akan memegangnya sebagai sebuah kebenaran (das sollen), namun jika di lapangan
ternyata berbeda (das sein), tentu corporate harus siap menerima gugatan tanpa
reserve karena kesalahan murni di
pihak corporate. Pertemuan berkala
dan situasional terutama jika ada produk baru dan diiklankan di media, harus
segera digelar. Hal ini untuk menjaga akurasi, konsistensi dan informasi yang
sistematis dan sistemik. Selain itu, pertemuan seperti itu dapat dijadikan sebagai
ajang untuk menciptakan standard
operational procedure (SOP) corporate
bersangkutan. Manajer public relation atau yang terkait harus
berinisiatif melakukan itu dan corporate
harus menyiapkan seluruh keperluan untuk itu dengan memproyeksikan bahwa
petugas di call center itu nantinya akan mengembalikan cost yang dikeluarkan dan pada gilirannya nanti akan berfungsi
sebagai profit center buat perusahaannya dengan captive market yang
setia.
Bicaralah Singkat, Padat dan Memikat
Hematlah bicara jika ditanya. Jawablah sesuai yang
dibutuhkan dengan kalimat-kalimat yang pendek dan jelas. Pikirkan dan latihlah
(hal ini bisa dilatih) untuk mengucapkan kata-kata yang akan dirangkai menjadi
kalimat. Koleksilah diksi yang strategis. Artinya, kata yang diucapkan cukup
dimengerti tanpa harus menghamburkan bunga kata secara berlebihan. Selain
memberikan nuansa profesional dan mantap, kalimat-kalimat pendek akan membuat
pelanggan tidak menanyakan hal-hal yang tidak urgen. Bukankah hal ini menghemat
energi dan waktu untuk digunakan buat incoming
callers lainnya? Dan tambahan lagi, jika menyampaikan sebuah
prosedur, pakailah langkah-langkah numerik. Maksudnya, gunakan penomoran
hirarkis (jika ada). Langkah numerik ini ditujukan agar callers menjadi lebih jelas akan tahapan-tahapan yang harus
dilakukan. Perjelas dengan konfirmasi melalui afirmasi informasi kepada
penelepon agar semuanya menjadi terarah, terutama untuk pelanggan yang memang
sangat awam.
Bedakan Cara Melayani
Laki-laki dan perempuan adalah anugrah Ilahi yang
berbeda dan penuh misteri. Mereka berbeda dalam fisiknya, struktur otaknya,
minatnya dan kebiasaannya. Kompartemen otak, misalnya, laki-laki dan perempuan
memiliki jumlah ruang yang berbeda. Laki-laki memiliki mono-compartment, sedangkan perempuan multi-compartment.
Artinya, perempuan bisa melakukan beberapa kegiatan otak pada waktu bersamaan,
sementara laki-laki sulit melakukan itu. Oleh karena itu, perempuan lebih suka
kelebaran (topik beragam, tidak perlu rinci), sedangkan laki-laki lebih suka
kedalaman (topik tunggal namun mendalam). Karenanya, call center harus mengantisipasi hal ini dengan memberikan
penjelasan sesuai dengan jendernya. Untuk yang laki-laki cukup disampaikan
garis-garis besar solusinya. Sementara untuk perempuan, informasi relatif lebih
panjang dan beragam diperlukan.
Masih banyak sebenarnya hal-hal yang harus
diperhatikan oleh Call Center dalam melayani incoming callers, namun dengan
berpedoman pada pemaparan singkat dan praktis di atas, rasanya, kita sudah
boleh bersiap-siap mendapatkan pelayanan yang lebih manusiawi, mantap dan
profesional. Mesin suara tidak akan lagi berkata: "Jurusan yang anda tuju sedang istirahat, silahkan menunggu sambil
beristirahat juga." Semoga tidak begitu!
|