|
Untung Besar Atau Untung Berlipat? Agoeng Widyatmoko - Konsultan independen usaha kecil (UKM)
Barangkali, bagi sebagian orang, kedua ungkapan di atas akan
terasa sama saja. Untung besar berarti mendapat untung banyak. Untung berlipat
pun mempunyai arti mendapat keuntungan dalam jumlah yang tidak sedikit. Lantas,
apa bedanya?
Jika kita telaah lebih jauh, sebenarnya kedua hal ini memang
sama sebangun, mirip, dan tiap orang pun pasti mencarinya dari setiap usaha
yang dijalankan. Namun, ada satu hal prinsip yang membedakan antara kedua
istilah tersebut.
Untung besar menurut pandangan saya selalu akan menggiring
orang pada pengertian bagaimana memperoleh untung yang sebesar-besarnya. Tanpa
sadar, pikiran bawah sadar kita akan mengejar untung yang
sebanyak-banyaknya-yang kadang-mengorbankan kepuasan pelanggan. Yang ada adalah
bagaimana menjual dengan untung yang besar.
Sedangkan untung berlipat menurut pandangan saya adalah
mencari keuntungan dengan cara melipatgandakan potensi keuntungan, baik kecil
ataupun besar. Maksudnya, jika kita menggunakan pengertian ini, kita akan
digiring pada keuntungan yang disebabkan oleh penjualan yang berlipat alias
mengutamakan kuantitas.
Sepintas, pengertian kedua hal tersebut masih sama. Tapi
coba lihatlah praktiknya dalam contoh berikut. Misalnya kita menjual jasa
kursus bahasa. Saya pernah menjumpai sebuah kursus bahasa Inggris yang dijual
dengan harga sangat mahal untuk ukuran orang kebanyakan. Dalam hal ini, saya
kategorikan cara penjualan itu dengan upaya mencari untung besar. Akibatnya,
orang yang ikut kursus bahasa ini juga sangat selektif. Hanya orang tertentu
yang ikut kursus dengan kemampuan bayar di atas rata-rata. Memang, dari sisi
kualitas, kursus tersebut menjamin dengan menghadirkan native speaker sehingga bisa lebih memacu orang untuk lebih mahir
berbahasa Inggris.
Di lain sisi, saya pernah pula menjumpai sebuah kursus
bahasa yang dijual cukup murah-bahkan sangat murah jika mengingat layanan yang
diberikan-sehingga mampu menarik lebih banyak peserta. Menurut sang pemilik
kursus tersebut, tujuannya membuat kursus dengan biaya yang lebih murah untuk
membentuk satu komunitas, yang pada akhirnya akan membawa budaya berbahasa
Inggris dalam kelompok tersebut. Penjualan seperti ini saya kategorikan sebagai
penjualan dengan tujuan keuntungan berlipat. Sebab, dengan harga jauh lebih
murah, justru akan mendorong orang untuk ikut kursus ini. Akibatnya, jumlah
pesertanya pun jauh lebih berlimpah. Dan, ternyata, kursus itu mendapat
keuntungan selain dari murid yang banyak. Mereka sering mengadakan acara di
luar kursus rutin yang juga menghasilkan keuntungan berlipat.
Dari kedua pendekatan penjualan ini, memang masing-masing
sebenarnya punya keunggulan. Biasanya, yang metode pertama punya pasar yang
cukup besar jika ditujukan pada pembeli atau pelanggan yang sering menjadikan
gengsi (pride) sebagai ukuran. Makin
mahal harga, biasanya justru orang dengan gengsi tinggi, akan makin ingin
memiliki-tentu dengan syarat-punya kualitas yang bisa dipertanggungjawabkan
pula.
Sedangkan metode yang kedua memang ditujukan untuk pasar
yang lebih luas. Bukankah jika kita dalam posisi sebagai pembeli,
biasanya-sebagai orang kebanyakan-akan memilih harga yang lebih murah? Coba
lihat program diskon yang ada di berbagai toko. Biasanya, dengan memotong
keuntungan, akan memancing orang untuk lebih banyak melakukan pembelian.
Sebagai contoh, beberapa waktu silam, toko buku
Gramedia-dalam rangka grand opening salah
satu tokonya-meluncurkan program diskon 30 persen untuk seluruh buku yang
dijual. Ini berarti memotong keuntungan Gramedia beberapa persen dari kondisi
biasa. Namun, hasilnya sungguh luar biasa. Pembeli membludak. Bahkan, belum
pernah saya lihat sebuah toko buku antriannya mirip pasar, saking banyak nya
pembeli. Dengan memperkecil keuntungan dari tiap item barang, Gramedia berhasil
memperbanyak kuantitas pembelian barang. Inilah inti dari yang saya sebut
sebagai mencari keuntungan berlipat. Untung kecil, jumlah banyak, hasilnya
keuntungan berlipat.
Analoginya, jika ingin memperoleh keuntungan satu juta
rupiah, kita bisa menjual satu barang langsung dengan untung satu juta rupiah.
Tapi, kita bisa juga menjual 10 barang dengan keuntungan masing-masing seratus
ribu rupiah. Hasilnya sama-sama untung satu juta rupiah. Namun, sebagai
konsumen, kita pasti cenderung akan lebih senang membeli barang dengan harga
yang lebih murah bukan?
Namun, sekali lagi, hukum untung besar dan untung berlipat
yang saya ungkap tidak mungkin seratus persen berlaku di semua produk yang
dijual. Selain itu, ada berbagai faktor lain yang memengaruhi pembelian,
seperti kualitas barang, kualitas layanan, dan kemampuan memuaskan pelanggan.
Jadi, bagaimana dengan Anda sebagai pengusaha? Ingin untung besar atau untung
berlipat?
*Agoeng Widyatmoko adalah konsultan independen UKM dan perencana usaha
keluarga. Bukunya 100 Peluang Usaha masuk dalam kategori best seller dan telah menginspirasi ratusan ribu orang
untuk mulai membuka usaha. Ia dapat dihubungi melalui email: agoeng.w@gmail.com dan telepon 021-998 28
997
|