|
Kucing Yang Bertamu Prie GS - Budayawan dan penulis SKETSA INDONESIA
Di rumahku pada jam-jam
tertentu, selalu kedatangan seekor kucing sebagai tamu. Mula-mulai ia cuma tidur-tiduran
di bangku depan, lama-lama masuk ke dalam dan akhirnya menjelajah ke sekujur ruangan.
Terakhir, sebagai bukti bahwa ia sudah akrap dengan keluargaku,
ia telah diizinkan tidur di atas bantal besar kesayangan anak lelakiku. Sementara
si kucing tidur dengan nyenyak di bantal besarnya, anakku cukup mengambil
tempat di sebelahnya, tidur dengan alas seadanya. Keduanya tidur bersama tetapi
tidak benar-benar tidur. Sebentar-sebentar si kucing ini melenguh dan merubah posisi
tubuhnya. Sebentar-sebentar anakku terjaga untuk mengamati
seluruh gerakan kucingnya.
Tak bisa berlama-lama kucing itu dengan tidurnya, karena akan
datang istri dan anak perempuanku untuk merubungnya. Berebut mengelus
bulu-bulunya. Jika mereka hendak tertawa
kucing ini digodanya sedemikian rupa. Jika kedua belah pihak telah merasa cukup
bemain, sang kucing akan pamit pergi dengan caranya sendiri yang keluargaku
telah menghafalinya. Jika pintu kami tertutup, ia akan mengetuk-etukkan kakinya
sampai pintu itu terbuka. Jika ia hendak pergi, anak dan istriku akan mengantarnya di depan
pintu. Jika jam-jam kucing itu hendak datang, keluargaku tegang menunggu.
Jika tamu itu benar-benar datang, semuanya berteriak girang. Sudah tentu,
kecuali aku.
Dari seluruh keriuhan itu biasanya aku memang cuma mengamati dari kejauhan.
Sikap inilah yang dianggap mengurangi kegembiraan keluargaku. Dianggapnya aku
sama sekali tidak ikut bergembira bersama mereka. Anggapan itu pasti keliru.
Ketika aku melihat anak lelakiku merelakan bantal besarnya untuk tidur si
kucing, sementara ia sendiri cukup
beralas apa saja, dari jauh mataku sesunggunya telah berkaca-kaca. Tetapi pasti
aku tidak mau kehilangan muka. Menangis di hadapan anak dan istri? Huh, gengsi!
Maka biarlah aku terharu dengan caraku sendiri.
Ini bukan sekadar keharuan bapak atas anak, melainkan
keharuan atas hasutan imajinasiku sendiri. Begitulah sejatinya seluruh hati
anak-anak di dunia, seluruh hati manusia, ia selalu memiliki ruang-ruang yang besar
untuk cinta, untuk menyayangi sesamanya. Dan ruang-ruang itu jika dibuka
lebar-lebar, seluruh dunia ini akan berisi cinta. Cinta yang besar itu cukup
disulut dengan soal-soal sederhana.
Kucing ini sama sekali kucing liar, ia bukan jenis anggora yang ningrat dan
manja. Hewan ini datang tanpa diminta dan pergi tanpa dipaksa. Sesungguhnya, ia tetaplah
kucing tanpa kelas. Tapi tak peduli siapapun dia, kedatangannya di rumah kami seperti
menyalakan lampu raksasa.
Setiap meong pertama di kemunculannya akan langsung disambut
suka cita. Anak-anakku akan berlarian dan istriku dengan sok anggun
mengikutinya. Tapi sebetulnya tidak. Perasaan
istriku itu pasti setara saja dangan anak-anaknya yang gegap-gempita. Cuma karena
kedudukannya sebagai ibu, ia merasa perlu menganggun-anggunkan diri. Untuk
menggembirakan seluruh keluarga, cukup dengan hanya meongan seekor kucing,
betapa murahnya. Dan ketika kucing ini tiba gilirannya pergi, seluluruh keluargaku
serentak terharu bersama.
Jangan disangka
bobot keharuan lebih rendah katimbang kegembiraan. Keduanya setara dan sama
menakjubkannya. Keharuan adalah kegembiran yang tengah bermetamorfosa. Maka
ketika dalam sehari kami setidaknya memilik
sekali kegembiraan dan sekali keharuan, sesungguhnya kami telah gembira
berkali-kali. Belum lagi, kegembiraan atas kucing ini bisa kami perpanjang.
Jika malam menjelang, kepada anak-anak, kami dongengkan betapa esok pagi ia
akan ketemu kucingnya lagi. Dan tidur berbekal kerinduan atas kegembiraan esok
hari, pasti tidur yang menyenangkan. Dan pagi hari ketika mereka hendak ke sekolah, bersiap menempuh
hari-hari yang berat, kamu ingatkan,
bahwa sepulang sekolah nanti, kucingnya telah menanti. Jika kegembiraan menjadi bekalnya, keberatan
hidup itu pasti akan meringan dengan sendirinya.
Cuma dengan seekor kucing liar yang tak jelas asal-usulnya,
keluarga kami gembira setiap hari. Ini bukti satu lagi, bahwa kegembiraan itu sejatinya
murah sekali!
|