|
Pertapa Muda Dan Kepiting Andrie Wongso
Suatu ketika di sore hari
yang terasa teduh, nampak seorang pertapa muda sedang bermeditasi di bawah pohon,
tidak jauh dari tepi sungai. Saat sedang berkonsentrasi memusatkan pikiran, tiba-tiba
perhatian pertapa itu terpecah kala mendengarkan gemericik air yang terdengar
tidak beraturan.
Perlahan-lahan, ia kemudian membuka matanya. Pertapa itu segera melihat ke arah
tepi sungai di mana sumber suara tadi berasal. Ternyata, di sana nampak seekor kepiting
yang sedang berusaha keras mengerahkan seluruh kemampuannya untuk meraih tepian
sungai sehingga tidak hanyut oleh arus sungai yang deras.
Melihat hal itu, sang pertapa merasa kasihan. Karena itu, ia segera mengulurkan
tangannya ke arah kepiting untuk membantunya. Melihat tangan terjulur, dengan
sigap kepiting menjepit jari si pertapa muda. Meskipun jarinya terluka karena
jepitan capit kepiting, tetapi hati pertapa itu puas karena bisa menyelamatkan
si kepiting.
Kemudian, dia pun melanjutkan kembali pertapaannya. Belum lama bersila dan
mulai memejamkan mata, terdengar lagi bunyi suara yang sama dari arah tepi
sungai. Ternyata kepiting tadi mengalami kejadian yang sama. Maka, si pertapa
muda kembali mengulurkan tangannya dan membiarkan jarinya dicapit oleh kepiting
demi membantunya.
Selesai membantu untuk kali kedua, ternyata kepiting terseret arus lagi.
Maka, pertapa itu menolongnya kembali sehingga jari tangannya makin membengkak
karena jepitan capit kepiting.
Melihat kejadian itu, ada seorang tua yang kemudian datang menghampiri dan
menegur si pertapa muda, "Anak muda, perbuatanmu menolong adalah cerminan
hatimu yang baik. Tetapi, mengapa demi menolong seekor kepiting engkau
membiarkan capit kepiting melukaimu hingga sobek seperti itu?"
"Paman, seekor kepiting memang menggunakan capitnya untuk memegang benda.
Dan saya sedang melatih mengembangkan rasa belas kasih. Maka, saya tidak
mempermasalahkan jari tangan ini terluka asalkan bisa menolong nyawa mahluk
lain, walaupun itu hanya seekor kepiting," jawab si pertapa muda dengan kepuasan
hati karena telah melatih sikap belas kasihnya dengan baik.
Mendengar jawaban si pertapa muda, kemudian orang tua itu memungut sebuah
ranting. Ia lantas mengulurkan ranting ke arah kepiting yang terlihat kembali
melawan arus sungai. Segera, si kepiting menangkap ranting itu dengan capitnya.
" Lihat Anak muda. Melatih mengembangkan sikap belas kasih memang baik, tetapi
harus pula disertai dengan kebijaksanaan. Bila tujuan kita baik, yakni untuk menolong mahluk
lain, bukankah tidak harus dengan cara mengorbankan diri sendiri. Ranting pun
bisa kita manfaatkan, betul kan?"
Seketika itu, si pemuda tersadar. "Terima kasih paman. Hari ini saya
belajar sesuatu. Mengembangkan cinta kasih harus disertai dengan kebijaksanaan.
Di kemudian hari, saya akan selalu ingat kebijaksanaan yang paman ajarkan."
Pembaca yang budiman,
Mempunyai sifat belas kasih, mau memerhatikan dan menolong orang lain adalah
perbuatan mulia, entah perhatian itu kita berikan kepada anak kita, orang tua,
sanak saudara, teman, atau kepada siapa pun.
Tetapi, kalau cara kita salah, seringkali perhatian atau bantuan yang kita
berikan bukannya memecahkan masalah, namun justru menjadi bumerang. Kita yang
tadinya tidak tahu apa-apa dan hanya sekadar berniat membantu, malah harus menanggung
beban dan kerugian yang tidak perlu.
Karena itu, adanya niat dan tindakan berbuat baik, seharusnya diberikan
dengan cara yang tepat dan bijak. Dengan begitu, bantuan itu nantinya tidak hanya
akan berdampak positif bagi yang dibantu, tetapi sekaligus membahagiakan dan
membawa kebaikan pula bagi kita yang membantu.
Salam sukses luar biasa!!!
Andrie Wongso
|