|
Jurus Menghibur Diri Prie GS - Budayawan dan penulis SKETSA INDONESIA
Tak terbayangkan betapa berat
beban hidup ini jika manusia tak dilengkapi dengan kemampuan menghibur diri.
Lihatlah jumlah penderitaan itu, sejauh-jauh mata memandang, rasanya manusia cuma
akan melihat derita dan persoalan. Lihatlah daftar persoalan itu,
sambung-menyambung tanpa henti mulai lahir sampai mati. Tetapi jika hidup cuma
berisi penderitaan, manusia pasti tak kuat bertahan. Begitu lahir, ia pasti
akan langsung mati. Setengah dari hidup itu, pastilah berisi sang kebalikan. Maka
antara derita dan kegembiraan, pasti sama banyaknya. Inilahlah yang membuat bahkan
filsuf seperti Sartre kebingungan. Fakta
bahwa manusia bisa bertahan hidup tanpa bunuh diri itu saja baginya sudah amat mengherankan.
Ya, banyak orang tergoda untuk mati karena daftar derita
yang tak ada rampung-rampungnya. Tapi fakta bahwa jauh lebih banyak orang
berani hidup katimbang berani mati juga bukti yang nyata bahwa di dalam hidup, seseorang boleh bergembira kapan saja dia mau, karena kegembiraan itu jumlahnya
tak terhingga dan tinggal memungut begitu saja. Salah satu pintu kegembiraan
itu adalah kemampuan menghibur diri seperti
yang telah saya sebutkan. Dan jujur saja, hingga saat ini, jurus menghibur ini menolong saya dari bermacam-macam persoalan.
Saya tidak malu disebut sebagai suka
menghibur diri atas banyak kegagalan. Jika setelah gagal saya tak boleh
menghibur diri, tak akan pernah bisa saya melahirkan kolom ini.
Misalnya saja ketika saya memiliki sepetak tanah, kecil
saja, yang saya beli dengan menabung serupiah demi serupiah, tetapi ternyata
suratnya tak juga rampung selama bertahun-tahun. Geram belaka bawaan saya
setiap mengingatnya. Setiap melihat tanah ini bukannya seperti melihat harta
karun, melainkan malah seperti melihat sumber kegeraman. Lalu apa yang saya
lakukan? Tanah itu pelan-pelang saya buang dari pikiran. Tanah itu tetap di
tempatnya, tetapi lokasi di pikiran saya telah berubah. Katimbang menatap tanah
itu, saya lebih suka menatap gunung-gunung di sekitar yang terlihat dari rumah
saya. Saya suka naik ke atas rumah dan menengadah melihat langit. Waa.. dunia
ini luas sekali.
Begitu
luasnya sehingga menempatkan pikiran hanya untuk berpikir tentang tanah secuil
itu sungguh merupakan ketololan. Saya mengembangkan dada seluas yang saya bisa. Saya berjanji kepada
diri sendiri, bahwa tanah itu terlalu kecil untuk dipikirkan. Kalau perlu saya
akan membeli pantai, membeli gunung dan lautan
sebagai gantinya. Saya tidak tahu apakah
keinginan saya ini masuk akal. Tetapi baru memikirkan keinginan ini saja hati
saya sudah gembira luar biasa. Hati itu tiba-tiba terbimbing untuk menuju
keumungkinan-kemungkinan yang luas tanpa batas. Hati dan pikiran itu akhirnya
tidak cuma tergadai untuk soal-soal yang terlalu remeh jika badingannya adalah seluruh
hidup kita.
Maka
setiap memandangi tanah itu, saya tidak lagi terpaku pada surat-suratnya yang
hingga tulisan ini saya buat belum rampung juga, melainkan malah seperti melihat
seorang yang menegur saya untuk mau terbang lebih tinggi, untuk lari lebih kencang,
untuk membeli apa saja karena dunia menyediakan apa saja jika saya
menginginkan. Ya, banyak sekali soal-soal sederhana yang kita biarkan menyita
hampir seluruh pikran padahal ia murah sekali jika bandingannya adalah seluruh
dari kehidupan.
Prie GS -
Budayawan dan penulis SKETSA INDONESIA
|