|
Evaluasi Ardian Syam
Kita pernah
dikenai atau melakukan evaluasi. Ketika kita sekolah semua guru atau dosen akan
melakukan evaluasi atas pemahaman kita pada topik-topik yang mereka ajarkan. Kemudian
ketika kita bekerja maka ada atasan yang kemudian mengevaluasi pekerjaan yang
telah kita lakukan. Ketika kita diserahi suatu tugas, kita bahkan dapat
melakukan evaluasi atas perkembangan performansi tugas tersebut.
Ingat konsep
80:20. Orang-orang mendengung-dengungkan bahwa dari seluruh konsumen atau
pelanggan perusahaan ada 20% pelanggan yang memberikan kontribusi 80%
pendapatan bagi produsen. Beberapa perusahaan kemudian membuat unit organisasi
khusus untuk mengelola pelanggan yang 20% tersebut.
Pengelolaan atau
bahkan unit organisasi khusus itu berarti ada effort tambahan yang harus dikeluarkan perusahaan. Dalam hal ini
berarti perusahaan harus mengalokasikan sejumlah sumber daya; manusia,
peralatan dan dana untuk pengelolaan tersebut.
Apa yang kemudian
terjadi bila sumber daya manusia dialokasikan kepada unit organisasi tersebut.
Mungkin unit organisasi yang ditinggalkan masing-masing sumber daya tersebut
mampu melakukan pekerjaan yang efektif dan efisien. Itu juga sangat tergantung
pada jumlah dan beratnya pekerjaan yang dilakukan di unit organisasi itu. Bila
pekerjaan di unit organisasi yang ditinggalkan cukup berat atau cukup banyak
jumlahnya, maka berarti butuh tambahan sumber daya manusia. Belum lagi karena
ada unit organisasi baru, maka diperlukan fasilitas baru seperti ruang kantor,
kendaraan dinas, komputer, meja dan banyak lagi yang lainnya.
Penambahan
peralatan tersebut berarti akan terjadi penambahan pada biaya yang harus
dikeluarkan. Padahal biaya installment seringkali
sangat tinggi. Sehingga perlu dialokasikan khusus untuk keperluan tersebut. Tentu
saja dengan harapan bahwa pendapatan yang mereka kontribusikan tetap tinggi.
Tapi ternyata tetap tinggi saja tidak lagi cukup.
Effort itu seringkali diberi nama; prioritas, wealth
management, big customer, atau apa saja. Tetapi harus tetap diperhatikan
bahwa effort tersebut diadakan karena
konsep 80:20. Maka konteks itu harus terus dijaga bahwa kurang dari 20%
pelanggan memberikan 80% pendapatan, atau 20% pelanggan memberikan kontribusi
lebih dari 80% pendapatan.
Pernah baca buku
Baik Menjadi Hebat (Good to Great) karya Jim Collins, kan? Menjadi baik saja
tidak cukup, harus bisa menjadi hebat. Sekarang mari kita lihat kondisi ketika
unit organisasi itu dibangun. Apakah memang didasarkan pada konsep yang tepat
bahwa pelanggan yang diurusi adalah 20% dari total pelanggan yang memberikan
kontribusi sekitar 80% dari total pendapatan. Ketika Anda menyadari bahwa
mungkin dasar membangun unit organisasi tersebut, maka ada baiknya Anda
melakukan evaluasi terhadap unit organisasi tersebut.
Andaikan Anda
memang sudah sangat yakin dasar penetapan pendirian unit organisasi tersebut,
maka evaluasi lanjutan perlu Anda lakukan. Apakah benar bahwa jumlah pelanggan
yang dikelola oleh unit organisasi tersebut masih sesuai dengan konsep pada
saat pendirian. Bila kontribusi pendapatan dari 20% pelanggan ternyata sudah
turun hingga di bawah 60% maka Anda perlu mengevaluasi ulang unit organisasi
tadi.
Karena pendirian
dan pengelolaan sebuah unit organisasi berarti menyerap banyak sumber daya, dan
mungkin bahkan menambah penyerapan sumber daya bila dibandingkan pada saat unit
organisasi tersebut belum didirikan. Maka sangat perlu diperbandingkan antara
tambahan biaya yang dikeluarkan dengan tambahan pendapatan yang dihasilkan.
Seringkali hasil sebuah evaluasi mendorong Anda untuk mengambil tindakan
yang tidak menyenangkan bagi pihak-pihak tertentu. Tetapi Anda tidak sedang
bersenang-senang. Anda tidak sedang bertujuan menyenangkan banyak pihak.
Perusahaan diciptakan untuk multiplying
wealth. Maka ketika unit organisasi lebih banyak menyerap tambahan biaya
dibandingkan menghasilkan tambahan pendapatan, maka Anda harus mengambil
keputusan, bahkan keputusan yang paling pahit. |
 |
|