|
Garis Kehidupan Seng Guan
(Sebuah Renungan menuju Tahun Tikus)
Seberapa
kita yakin bahwa arah hidup kita telah ditentukan sejak pertama kita
menjejakkan kaki kita di dunia ini, tercatat secara resmi melalui
goresan garis-garis di telapak tangan kita?
Anda mungkin termasuk orang yang tidak mempercayainya, atau mungkin juga Anda termasuk orang yang mempercayainya. Tapi dalam hal
ini mari kita ke sampingkan perbedaan pendapat tersebut, apapun pilihan
kepercayaan Anda, mari kita setuju kalau memang garis-garis kehidupan
kita telah ditentukan sejak awal.
Seperti sebuah pedati yang dikemudikan oleh seorang sais, secara garis besar rute pedati tersebut telah ditentukan dari awal, tapi bukan berarti pedati tersebut PASTI akan melewati rute tersebut dan sampai pada tempat yang sedang ditujunya.
Pedati tersebut dapat dihentikan, dibelokkan ke arah lain, atau sama sekali tanpa arah yang jelas.
Semua ini tergantung kepada Sang Pengemudi, arah pedati itu akan bergerak sesuai dengan cara dan keinginan sang pengemudi.
Jika pedati itu adalah kehidupan kita, maka sang pengemudi itu adalah kita sendiri.
Mungkin juga kita seperti tukang kayu ini.
Seorang
tukang kayu yang telah kelelahan berkarya ingin segera menjalani
kehidupan pensiunnya, sejak awal dia adalah tukang kayu yang berbakat,
tukang kayu yang berdedikasi tinggi atas pekerjaannya, tukang kayu yang
bertanggung jawab penuh.
Ketika
ia menyampaikan keinginannya kepada BOSS, ia malah diberi tugas
terakhir sebelum pensiun, sang BOSS ingin ia membuat sebuah rumah megah
untuknya.
Tukang kayu yang berbakat itu tiba-tiba berubah, ia menjadi tukang kayu yang sembrono, tukang kayu yang asal-asalan. Dengan
terpaksa ia menyelesaikan tugas terakhirnya, ia merasa perusahaan
sungguh tidak berpihak padanya, ia sungguh kecewa. Dan kekecewaannya ia
lampiaskan pada pekerjaanya. Sebuah "Rumah Mewah" yang jauh dari arti "Mewah " akhirnya selesai tepat waktu.
Hari
pensiun telah tiba, sang tukang kayu akhirnya mendapat sebuah amplop
yang berisi sejumlah uang pensiun dan sebuah "KUNCI" rumah. Kunci dari "Rumah Mewah" yang baru selesai dibangunnya. "Hadiah
special ini dipersembahkan perusahaan padamu, karena kerjamu yang luar
biasa dan berdedikasi selama bekerja di sini." Kata Sang BOSS.
Sang Tukang kayu hanya melihat kunci rumah itu dengan "PENYESALAN".
Kita kadang-kadang lupa bahwa kita adalah pembuat rumah untuk diri kita sendiri.
Kembali ke soal goresan-goresan tangan di tangan kita, anggaplah kita semua setuju bahwa itu adalah catatan RUTE yang akan kita tempuh dalam kehidupan ini, anggaplah bahwa rute yang akan kita tempuh oleh "PAKAR garis tangan" dikatakan kita berada pada jalur yang benar menuju "KEJAYAAN" dan Rute tersebut menjanjikan hal yang luar biasa.
Apa
yang terjadi jika Rute yang begitu INDAH dan menjanjikan itu diabaikan,
atau sebagai Sang Pengemudi kita tidak menyambutnya dengan antusias dan
mengwujudkannya?
Rute tersebut akan terkubur seperti rute harta karun yang tak pernah ditemukan. Perkataan "PAKAR garis tangan" hanya berupa kata-kata yang tiada artinya, hanya mimpi dan omong kosong belaka.
Mengapa?
Karena
hidup ini begitu dinamis, segalanya berubah, tidak ada yang kekal atau
abadi, yang kekal adalah ketidak-kekalan itu sendiri, ketika kita tidak
mempersiapkan "rumah kita sendiri" dengan baik maka semua rencana pada
denah-denah yang telah dibuat Sang Arsitek akan berubah sesuai dengan sentuhan tangan Sang Tukang Kayu.
Bagaimana jika Rute yang tergaris dalam tapak kita tidak sesuai harapan kita?
Jawabannya, Ubah saja rutenya.
Kecuali
kita sendiri memang menerimanya sebagai takdir yang tak dapat
dipungkiri, dengan sukarela kita menjalaninya, kita pasrah.
Maka
jangan mengatakan "Tuhan" itu tidak adil, karena walau rute telah
ditentukan, kita tidak dipaksa untuk menempuhnya, kita masih diberi
pilihan untuk merubahnya.
Banyak di antara kita yang menganggap kita telah dilahirkan sebagai bagian yang terpinggirkan, bagian dari pelengkap penderita. Jika
kita telah menghakiminya dan mengetuk palu atas anggapan seperti itu
maka sejak ketukan terakhir dijatuhkan, kita telah terseret dalam
lubang penderitaan seperti yang "KITA INGINKAN".
Pada
saat itu, jangan menyalahkan siapa-siapa. Betapa adilnya alam ini,
bahkan pada saat itu kesempatan untuk merubah rute masih tetap terbuka
untuk kita, sampai kita sendiri benar-benar tidak menginginkan perubahan itu.
Apapun yang
telah digariskan, tercatat oleh alam untuk kita, Kita sendiri yang
menentukan ke arah mana kita akan berjalan, dan kemana kita akan berada
kelak.
Prinsipnya, "Benih yang baik akan menghasilkan buah yang baik"
Salam Sukses Selalu
Seng Guan CPLHI
Regional Manager PT Arthamas Konsulindo
(Group of Sinarmas)
|