Maling Di Rumahku
AW, Andrie Wongso - Action & Wisdom Motivation Training - Artikel Anda

Maling Di Rumahku
Agoeng Widyatmoko - Konsultan independen usaha kecil (UKM)

Beberapa hari lalu rumahku seperti kapal pecah. Bukan karena kelakuan anak kecil yang sering memberantakkan rumah dengan aneka jenis mainan. Bukan juga karena pertengkaran hebat dengan istri yang acapkali justru berujung pada rasa makin cinta. Namun, kali ini yang membuat berantakan adalah tamu tak diundang.

Seperti biasa, pergi pagi, pulang malam, demi status agar tak dicap pengangguran, membuat aku jarang di rumah. Interaksi dengan tetangga pun hanya terjadi selintasan saat berangkat dan pulang. Paling-paling kalau ada kerja bakti dan obrolan ringan sabtu dan minggu pagi. Rutinitas itu sudah berjalan setahun lebih sejak aku ngontrak di sebuah rumah sederhana, agar tak jauh dari mengantarkan isteri bekerja.

Rutinitas yang nyaman dan menyenangkan. Sampai satu hari, aku mendapati rumahku berantakan saat aku membuka kunci depan rumah. Buku-buku ditumpahkan begitu saja di lantai. Laci-laci keluar dari raknya. Bahkan foto keluarga pun berserakan ke mana-mana. Mirip film American Gangster yang barusan kutonton, saat sang tokoh menggeledah seisi rumah. Hampir tak ada sudut rumah rapi yang bersisa.

Lemari dalam kamar apalagi. Laci-laci yang biasa kugunakan menyimpan benda-benda bersejarah dalam hidup-cincin kawin, perhiasan warisan orang tua dan mertua-ludes digondol maling. Uniknya, sang maling tahu persis jam kosong di rumahku. Bahkan, jam kosong di tetanggaku. Saat itu, memang ada penimbangan bayi di posyandu, sehingga ibu-ibu yang biasa selalu nongkrong di sekitar rumah pergi ke penimbangan semuanya. Mungkin, sang maling terinspirasi dengan film Ocean Thirteen, yakni kisah maling kelas atas yang bekerja ala James Bond. Rapi, teliti, dan cermat mengamati.

Sejenak, mendapati rumah dalam kondisi seperti itu membuat batin terhenyak. Kaget. Tak sepatah kata sempat terucap, kecuali satu, Innalillah. Semua milik Allah. Aku cuma punya status peminjam. Dan, kata itu rupanya cukup sakti untuk menyadarkan aku dan isteri yang sedikit syok akibat kasus ini.

Semua milik Allah dan akan kembali kapanpun sang Khalik berkehendak. Siang sebelum kejadian, memang aku melihat tayangan mantan Presiden di negeri ini dikubur rapi. Kali ini, yang dikubur mungkin sejumlah kenangan aku pada cincin kawin yang dibawa lari pencuri. Padahal, untuk sebuah cincin itu aku dulu rela utang ke sana kemari.

Saat kusadari semua milik Allah, hati ini memang terasa lebih plong. Meski kehilangan, keikhlasan berserah pada Illahi membuat malam penuh ketegangan itu berubah jadi malam penuh pembelajaran, bahkan keindahan. Interaksi dengan tetangga yang hanya rutinitas, berubah jadi lebih akrab. Kepedulian sesama orang rantau membuat malam itu justru penuh canda tawa. Meski duka, hadirnya mereka membuat kami-saya dan isteri-lega. Bahwa sang maling telah membawa kami pada suasana keakraban antartetangga.

Belum lagi aksi sang polisi. Mereka begitu peduli. Datang cepat begitu dipanggil dan beraksi layaknya detektif. Sebuah drama detektif yang biasa hanya kubaca di novel atau komik, kini kualami sendiri. Polisi yang biasa kubenci-karena berbagai kisah sogokan yang kudengar-kini bisa tampil heroik di depanku. Sirna sudah kebencian tak beralasan yang kupendam selama ini.

Kejadian malam itu sungguh berbuah makna. Dari kehilangan, aku justru mendapat banyak hal yang nilainya jauh dari ukuran materi. Kupeluk isteriku dengan hangat. Ketentramkan dengan sapuan sapu tangan pada air matanya. Malam itu, selepas semua tetangga kembali ke rumah masing-masing untuk pergi istirahat, aku merasakan, inilah pelukan paling hangat yang kurasakan selama ini.

Terima kasih wahai maling. Kau telah sadarkan arti kebahagiaan sesungguhnya. Bagi Anda sang pencuri, ingat juga satu hal ini. Semua milik Allah. Apapun yang berhasil kau curi, mungkin suatu saat akan kembali jika sang Khalik menghendaki. Bahkan, bisa jadi, jika tak hati-hati, nyawamu pun mungkin bisa diambil, saat sedang asyik beraksi. Bertobatlah sebelum Allah yang bertindak...