Bagi yang sering mengikuti acara seminar Pak Andrie Wongso, tentu sering mendengarkan cerita tentang diri saya semasa menjadi pemain bulutangkis. Memang, saya adalah salah satu anak didik Pak Andrie dalam hal motivasi.
Sekarang kegiatan saya adalah menjadi pelatih bulutangkis tunggal putra dan putri di Pelatnas Bulutangkis Indonesia. Sebagai Kepala Pelatih, saya menangani 7 pebulutangkis putri dan 6 pebulutangkis putra, di antaranya:
- Sonny Dwi Kuncoro (peraih medali perunggu Olimpiade Athena 2004 dan peraih medali emas SEA Games 2005)
- Simon Santoso (peraih medali perak SEA Games 2005 dan pemain tunggal ketiga Tim Piala Thomas 2006)
- Adrianti Firdasari (peraih medali emas SEA Games 2005 dan juara Belanda Terbuka 2006).
Baru kali ini dalam sejarah pelatnas, tim putra dan putri digabung jadi satu. Dan saya ditunjuk menjadi penanggungjawabnya. Tentunya ini bukan pekerjaan mudah. Apalagi waktu saya menerima tugas ini dikatakan oleh Pengurus PBSI bahwa saya harus membuat prestasi tunggal putra dan putri ini lebih baik dari yang sekarang. Kita semuajuga tahu bahwa bulutangkis di Indonesia selalu dituntut untuk menjadi juara. Menjadi nomor dua akan dianggap gagal.
Dalam konteks profesi sebagai pelatih, saya sekarang ibarat guru yang membagikan pengalaman kepada muridnya.Dulu saya dikenal sebagai pemain dengan bakat "biasa-biasa saja", akan tetapi diimbangi dengan semangat yang luar biasa, kerja keras, disiplin, pantang menyerah, dan sebuah niat baik, sehingga akhirnya mampu menunjukkan prestasi yang dianggap orang "luar biasa".
Dengan bekal "kemampuan dari dalam diri" inilah, saya berhasil melewati masa-masa sulit sebagai pemain. Sebagai pemain, tidak selamanya saya mencapai prestasi tertinggi. Ada kalanya juga mengalami kekalahan atau kemunduran prestasi. Semua sudah pernah saya rasakan. Namun saya selalu mencoba untuk berpikir positif terus. Dan bangkit ketika mengalami kekalahan. Semua itu akhirnya membuat dan membentuk citra diri saya sebagai seorang pekerja keras, disiplin, pantang menyerah.
Sekarang citra diri berkarakter kuat inilah yang saya maksimalkan sebagai pelatih. Selalu saya tekankan kepada pemain untuk memiliki semangat yang luar biasa, kerja keras, disiplin, pantang menyerah, dan sebuah niat baik. Sebagai contoh, tidak ada perbedaan dalam hal "kerja keras" antara dulu saya sebagai atlit dan sekarang sebagai pelatih.
Kini, sebagai pelatih, setiap hari Senin, Rabu, Jum'at saya mulai melatih pada pukul 05.30, dilanjutkan pada pukul 08.00-11.00, dan sore hari pukul 15.30-18.00, guna mengajarkan apa arti sebuah "kerja keras". Berkat citra diri yang positif inilah, akhirnya saya mampu mempengaruhi dan menggerakkan semangat yang luar biasa pada anak didik saya dalam berlatih. Pelan namun pasti, mereka akan berubah dari "anak ayam" menjadi "RAJAWALI".
Bangunkan sikap citra diri Anda yang positif, maka akan mempengaruhi orang-orang yang di sekeliling Anda untuk menjadi positif juga.
Bagikan ke teman Anda, Share & Be Happy!