Suatu hari saya mendengar
keluhan dari seorang teman yang berprofesi sebagai dosen di sebuah universitas
ternama di Jakarta. "Saya sekarang merasa gamang untuk mengajar. Sedari masih
jadi asisten sampai jadi dosen, saya berusaha mengajar sebaik-baiknya. Saya
ingin sarjana lulusan sini adalah yang berkualitas, bukan sekedar lulus. Tapi
tanggapan mahasiswa sangat negatif dan mengecewakan. Saya dianggap dosen
killer, profesor tega, bahkan dikata-katai dan dibenci oleh mahasiswa saya sendiri.
Saya sempat marah dan sakit hati. Biarpun dosen kan juga manusia, ya kan bu" ucap si dosen muda sambil tersenyum. "Saya masih
ingat, dulu saya punya dosen yang juga killer, ampun deh, masak skripsi disuruh
ganti judul. Aduh rasanya kheqi banget. Bayangin bu, ganti judul kan artinya memulai dari awal lagi, nol. Tapi setelah
dengan terpaksa saya ikuti kemauan si dosen, sekarang saya bersyukur banget!
Proses pembuatan skripsi yang serba sulit itu ternyata mampu merubah mindset
saya. 6 bulan terakhir di bangku kuliah itu adalah pelajaran yang paling
berharga dibandingkan seluruh pelajaran yang saya dapatkan sepanjang kuliah
saya. Berkat dosen killer itu, saya menjadi lulusan terbaik! Dan... sekarang
rasanya aneh, seolah-olah kejadian berulang sama persis seperti waktu saya
kuliah dulu", lanjutnya dibayangi kesedihan. " Saya ingin berhenti ngajar aja,
capek rasanya. Ngajar buat kebaikan siswa, eh malah disebelin dan dibenci
mereka" ucapnya sendu.
Sambil becanda saya
menanggapi, "Pak Dosen yang baik. Sebenarnya jawabannya udah ada tuh" "Maksud
ibu?" "Saat kita jadi siswa atau mahasiswa sekalipun, guru killer pasti
dimusuhi tanpa pernah berpikir panjang bahwa ‘perintah dan kekileran' tersebut
adalah untuk kebaikan si mahasiswa itu sendiri. Setelah lulus dan merasa
bersyukur karena ternyata kekileran si dosen yang membuat kita hari ini ‘jadi
orang', kita lupa mengucapkan terimakasih. Gitu kan? Menurut saya, jangan merespon kesebalan dan emosi
mahasiswa dengan menghancurkan prinsip kita sendiri yang jelas2 benar dan baik.
Inget lho, mahasiswa juga manusia, saat merasa dirugikan atau dipersulit,
pastilah yang muncul respon negative! Siapa tau, mereka juga berterimakasih
kepada kita karena berkat kekileran kita, mereka berhasil lulus sebagai sarjana
yang bermutu. Yang penting tujuan dan niat baik kita mengajar harus dilandasi
dengan pengertian benar. Kesadaran akan kebaikan dan kebenaran memang butuh
waktu dan pendewasaan. Dosen baik dan bermutu nggak banyak lho, jangan mundur
ngajar karena alasan yang keliru, ntar nyesel lagi".
Netter yang berbahagia,
Memang tidak mudah berjalan
diatas prinsip yang baik dan benar tetapi dibayang-bayangi dengan kebencian
orang lain, yang kemungkinan justru orang yang kita sayangi dan berusaha kita
bantu.
Yang baik belum tentu benar.
Tetapi yang benar harus bermakna kebaikan.
Salam sukses luar biasa!
Lenny Wongso
Bagikan ke teman Anda, Share & Be Happy!
|
|
Baca juga artikel lainnya dari Lenny Wongso
|
 |
MaafDanLupakan!!!
|
 |
EraKeterbukaanOrtuDengan Anak
|
 |
Skul Ke Luar Negeri? Gengsi Boo!
|
 |
Ulang Tahun
|
 |
Kalkulasi Cinta
|
|
|
| Artikel Selanjutnya : |
 |
Nilai Usia
(Family Corner) -
Sabtu, 22 Maret 2008
|
 |
EraKeterbukaanOrtuDengan Anak
(Family Corner) -
Selasa, 10 Juni 2008
|
 |
BiarTuaTetapBelajar
(Family Corner) -
Jumat, 27 Juni 2008
|
 |
Saat Sedang Lelah, Kecewa, Sedih, Dan Terpuruk, Apa Yang Bisa Membuat Anda Merasa Lebih Baik?
(Family Corner) -
Jumat, 22 Mei 2009
|
 |
Rumput Tetangga Tidak Selalu Lebih Hijau
(Family Corner) -
Selasa, 01 September 2009
|
|
| Baca juga artikel sebelumnya : |
 |
MaafDanLupakan!!!
(Family Corner) -
Rabu, 10 Oktober 2007
|
 |
Selingkuh? Amit-amit, No Way Lah
(Family Corner) -
Selasa, 14 Agustus 2007
|
 |
Toloooong
(Family Corner) -
Rabu, 13 Juni 2007
|
 |
Skul Ke Luar Negeri? Gengsi Boo!
(Family Corner) -
Kamis, 22 Februari 2007
|
 |
Rumah Tangga Berantem?
(Family Corner) -
Rabu, 24 Januari 2007
|
|
|