Di suatu pagi hari, saat
turun dari lantai atas, tiba-tiba mata saya melihat serangkai mawar merah
tergeletak di atas meja.
Ehm, 14 Februari, Valentine Day.
Siapa gerangan pemilik bunga mawar itu? Saya pun dengan serta merta menghampiri
pembantu untuk bertanya. "Mbak, bunga siapa tuh?" "Punya Valdy Bu. Dari kemarin
sudah nitip uang dan pesan minta dibeliin bunga mawar", jawab si pembantu. "Mau dikasih ke siapa bunganya?" tanya saya penasaran.
"Nggak tau mau dikasih siapa. Harganya pas mahal lagi bu, kan hari ini valentine. Satu tangkai aja
Rp......, Valdy minta dibeliin 8 tangkai." Urusan tanya jawab pun tidak berlanjut karena yang
bersangkutan sudah pergi ke sekolah.
Siang hari, tiba-tiba telepon berbunyi dari Valdy, "Ma, aku minta ijin
nggak pulang rumah ya, mau pergi ke rumah duka di....", "Siapa yang meninggal
Val?" Tanya saya. "Papanya si anu, kasihan lho ma, umurnya baru 41 tahun,"
jawab Valdy. Setelah memberi ijin dan berpesan untuk hati-hati di jalan dan
memberi kabar lebih lanjut, kami pun bertemu lagi saat malam hari.
Valdy bercerita tentang kesedihannya melihat teman dan keluarganya menangis
dan berduka. Usaha teman-teman untuk menghibur pun sia-sia.
Tiba-tiba saya teringat bunga mawar tadi pagi dan dengan bercanda menanyakan
kepada Valdy, "Val, minta mbak beli bunga mawar mau kasih siapa sih, mama boleh
tahu nggak?" "Buat si anu ma, kan kasihan papanya meninggal," jawab Valdy
dengan polos. "Pake uang tabunganku sendiri lho ma. Boleh ditukerin nggak ma? Biar besok
aku bisa jajan kalau laper hehehe."
Menjelang tidur, ada perasaan lega, senang dan sedikit malu mengiringi.
Prasangka bahwa anakku yang "masih" 12 tahun sudah berpikir mau "nembak" temen
ceweknya ternyata salah. Keinginannya menghibur teman yang sedang berduka (walaupun
harus menguras dompet) memberi gambaran bahwa anakku memiliki sensitivitas pada
penderitaan orang lain, sungguh membanggakan dan luar biasa!
Tak dipungkiri, meninggal di usia yang relatif muda, mencerminkan bahwa
usia manusia tidak dapat diprediksi. Entah seberapa pun panjang umur yang dapat
kita nikmati, yang utama adalah seberapa bekal kita untuk pindah alam
mempertanggungjawabkan semua tindakan kita di hadapan sang khalik?
Suatu pagi, datang ke rumah
saya, ibu guru les mandarin anak-anak yang usianya sudah di atas 70 tahun
tetapi masih tampak enerjik. Dia bercerita diminta memberikan testimoni oleh
dokter jantungnya di Metro TV untuk berbagi kepada pemirsa dan sesama penderita
(dia divonis dokter 30% jantungnya tidak lagi berfungsi dengan baik). Ibu guru
tersebut menanyakan bagaimana tata cara muncul di TV karena dia tahu beberapa
hari sebelumnya kami sekeluarga rekaman untuk acara Kick Andy di Metro TV.
Walaupun tampak ada ketegangan karena hendak berbicara di stasiun TV, tetapi
dia puas telah berjumpa dan mendengarkan pesan yang saya sampaikan kepadanya.
Netter yang
berbahagia,
Ibu guru yang telah berusia
lanjut, dengan penuh semangat, setiap hari memanfaatkan waktu dengan
sebaik-baiknya demi mengajar ilmu kepada anak didiknya. Walaupun saat ini,
tenaga yang dipunyai sangatlah terbatas karena kondisi kesehatannya, tetapi dia
tidak pernah berhenti dan menyerah! Maka untuk acara di TV, saya memberi
masukan agar menularkan semangat hidup yang dipunyainya kepada para pemirsa
yang menonton acara tersebut. Kondisi tubuh bisa melemah, penyakitpun bisa
mendera, tetapi bukanlah alasan untuk patah semangat dalam mengisi sisa hidup
yang kita punyai dengan hal-hal yang positif dan bermanfaat.
Kita bisa berkaca dan belajar dari sikap dan semangat sang ibu guru.
Tentu kita patut bersyukur, dengan apa yang kita miliki saaat ini,
kesehatan dan usia muda. Teman-teman dan keluarga, sepantasnya kita jaga dengan
baik melalui memelihara pikiran positif dan meluangkan waktu untuk berolah raga.
Salam sukses luar biasa!
Bagikan ke teman Anda, Share & Be Happy!
|
|
Baca juga artikel lainnya dari Lenny Wongso
|
 |
Skul Ke Luar Negeri? Gengsi Boo!
|
 |
Ulang Tahun
|
 |
Kalkulasi Cinta
|
 |
BiarTuaTetapBelajar
|
 |
Rumah Tangga Berantem?
|
|
|
| Artikel Selanjutnya : |
 |
EraKeterbukaanOrtuDengan Anak
(Family Corner) -
Selasa, 10 Juni 2008
|
 |
BiarTuaTetapBelajar
(Family Corner) -
Jumat, 27 Juni 2008
|
 |
Saat Sedang Lelah, Kecewa, Sedih, Dan Terpuruk, Apa Yang Bisa Membuat Anda Merasa Lebih Baik?
(Family Corner) -
Jumat, 22 Mei 2009
|
 |
Rumput Tetangga Tidak Selalu Lebih Hijau
(Family Corner) -
Selasa, 01 September 2009
|
 |
Wajarkah Merasa Cemburu?
(Family Corner) -
Jumat, 16 Oktober 2009
|
|
| Baca juga artikel sebelumnya : |
 |
DosenJugaManusia
(Family Corner) -
Senin, 29 Oktober 2007
|
 |
MaafDanLupakan!!!
(Family Corner) -
Rabu, 10 Oktober 2007
|
 |
Selingkuh? Amit-amit, No Way Lah
(Family Corner) -
Selasa, 14 Agustus 2007
|
 |
Toloooong
(Family Corner) -
Rabu, 13 Juni 2007
|
 |
Skul Ke Luar Negeri? Gengsi Boo!
(Family Corner) -
Kamis, 22 Februari 2007
|
|
|