Banyak orang yang
mengatakan bermimpilah, sebelum mimpi itu dilarang. Ada juga yang menambahkan, mimpi aja,
wong gratis...
hehehe. Pesan yang terdengar bernada
slenge'an itu sebenarnya mengandung makna yang sangat dalam. Sebab,
banyak hal, banyak peristiwa, banyak kejadian, banyak orang besar dan sukses di
dunia, mengawalinya dari sebuah mimpi. Impian mengubah dunia, impian meraih
sukses, telah banyak mengantarkan orang-orang itu menjadi "
somebody", bahkan, ada yang
from
zero to hero!
Lantas, bagi kita sebagai
pengusaha, mimpi seperti apa yang harus kita canangkan untuk kita raih? Tentu,
siapa pun menginginkan sebuah gambaran kesuksesan yang berlipat-lipat.
Perusahaan bisa beranak pinak, dan, kalau bisa menghidupi tujuh turunan. Sebuah
impian yang sangat indah bukan?
STOP!!! Tapi, sebelum Anda
bermimpi lebih jauh, ijinkan saya menghentikan mimpi indah Anda. Mengapa?
Sebab, dari banyak kasus, bahkan saya sendiri pernah mengalami, mimpi indah itu
kadang hanya jadi mimpi belaka. Malah, kadang itu menjadi sesuatu yang
membebani kita. Pernah, suatu ketika, saya berangan-angan untuk membesarkan
salah satu unit usaha saya. Waktu itu, saya melihat sebuah peluang cukup besar
yang tak bisa dilewatkan.
Sayang, ternyata ambisi
dan impian saya tak bertemu dengan kenyataan. Modal hilang, bisnis pun bahkan
ikut melayang. Impian yang pernah saya bangun dengan sebuah harapan akan
mendapatkan untung besar, amblas begitu saja. Dan, rupanya, banyak orang yang
berdiskusi maupun berkonsultasi dengan saya, mengalami hal yang sama. Pengennya
meraih impian, dapatnya malah kesulitan.
Sebenarnya saat ini,
membuka bisnis seolah memang sangat mudah, layaknya membalik telapak tangan
saja. Jika punya modal, beraneka jenis
franchise
dengan aneka jenis bidang usaha mudah kita jumpai di mana saja. Tinggal bayar,
lihat manualnya, kita bisa langsung membuka bisnis yang kita dambakan. Mudah
dan cepat, sangat instan.
Tapi, apakah semudah itu?
Tentu tidak. Banyak sekali orang-orang yang membeli waralaba tak berkembang
usahanya. Tidak hanya satu dua. Yang kemudian bahkan tutup alias bangkrut juga
banyak. Jika sudah begini, pelajaran apa yang bisa kita petik?
Satu hal yang ingin saya
sharing-kan. Yakni, jangan kebanyakan
mimpi! Mengapa? Mimpi yang terlalu besar, mimpi yang terlalu muluk, bisa jadi
hanya akan jadi impian di siang bolong jika tak disertai dengan usaha keras,
dan kerja dari hal-hal yang kecil dan ringan dulu. Bukankah seribu mil jarak
pun ditempuh dari satu dua langkah terlebih dahulu?
Inilah kunci utama bagi
kita yang ingin memulai bisnis. Mulai dari yang kecil-kecil, mulai dari
kemampuan kita. Tentu, ukuran kecil ini sangat relatif. Namun, yang ingin saya
bagikan di sini sebenarnya adalah tentang apa yang harus kita lakukan di awal
saat membuka usaha. Sebuah kisah dari rekan saya yang berjualan siomay ini
mungkin bisa jadi sebuah contoh.
Saat mengawali, ia membuka
usaha siomay dengan berjualan keliling dengan dua sepeda. Satu dijalankan oleh
dirinya, dan satu lagi dijalankan oleh adiknya. Dalam sehari, kedua sepeda itu
mampu menjual minimal 100 porsi dengan harga per porsi 4000. Ini berarti, saat
itu, setidaknya, dari dua sepeda, mereka membukukan keuntungan kotor mencapai
800 ribu per hari! Padahal, modal membuat siomaynya, menurut penuturan rekan
saya itu tak sampai 300 ribu. Terbayang kan berapa keuntungannya per bulan?
Kini, dengan keuntungan
itu, ia sudah mengembangkan armadanya menjadi 12 sepeda dengan wilayah
penjualan lebih luas. Dan, kini ia tak lagi ikut berjualan, ia hanya perlu mengontrol
kualitas rasa dan kebersihan armada penjualannya. Maka, dengan 12 sepeda itu, jika
masing-masing penjualan, katakanlah sama, yakni 100 porsi per sepeda, berapa
penghasilannya?
Tak perlu repot berpikir.
Yang ingin saya sampaikan adalah, bahwa dengan usaha yang kecil dan sesuai
kemampuan pun, sebuah usaha bisa menghasilkan keuntungan yang luar biasa. Tak
salah memang jika kemudian kita bermimpi membesarkan usaha, tapi, akan jauh
lebih baik jika kita bangun dan beraksi sesuai kemampuan.
Bagaimana? Siap bangun
dari mimpi dan merealisasikannya saat ini? Mulailah dari yang kecil, yang kita
bisa, sesuai kemampuan, dilandasi kesenangan, disertai tekad dan semangat
pantang menyerah, maka impian, bukan lagi sekadar khayalan....
Agoeng
Widyatmoko, konsultan
independen UKM, perencana pemasaran usaha keluarga, penulis buku best seller
100 Peluang Usaha. Ia bisa dihubungi melalui email agoeng.w@gmail.com atau
telepon 021-30316708
Bagikan ke teman Anda, Share & Be Happy!
|
|
Baca juga artikel lainnya dari Agoeng Widyatmoko - Konsultan independen usaha kecil (UKM)
|
 |
Kesempatan Itu Datangnya Berkali - Kali
|
 |
Jangan Mau Jadi Pengusaha
|
 |
Mendingan Terjun Ke Bisnis Apa Ya?
|
 |
Kkn - kekoncoan Itu Wajib
|
 |
Atur Doong Keuangan Kita...
|
|
|
| Artikel Selanjutnya : |
 |
Kepada Siapa Anda Curhat Tentang Bisnis Anda?
(Entrepreneur Corner) -
Senin, 07 Januari 2008
|
 |
Tetaplah Bertahan Dan Tetaplah Bergerak
(Entrepreneur Corner) -
Jumat, 11 Januari 2008
|
 |
Butuh Modal Usaha? Gampaaang....
(Entrepreneur Corner) -
Selasa, 29 Januari 2008
|
 |
Belajar Dari Bayi Dan Tomat Busuk
(Entrepreneur Corner) -
Selasa, 19Februari 2008
|
 |
15 Hari Lagi Menuju Full Tda
(Entrepreneur Corner) -
Jumat, 22 Februari 2008
|
|
| Baca juga artikel sebelumnya : |
 |
Kkn - Kekoncoan Itu Wajib
(Entrepreneur Corner) -
Rabu, 12 Desember 2007
|
 |
Tambahkan Satu Kata Ajaib Dalam Bisnis Anda
(Entrepreneur Corner) -
Selasa, 11 Desember 2007
|
 |
Belajar Dari Sekitar Kita
(Entrepreneur Corner) -
Rabu, 05 Desember 2007
|
 |
Mendingan Terjun Ke Bisnis Apa Ya?
(Entrepreneur Corner) -
Senin, 26 November 2007
|
 |
Mencari Harga Yang Paling Murah
(Entrepreneur Corner) -
Kamis, 15 November 2007
|
|
|