Hari ini saya dapat pelajaran kecil. Saat hendak memarkir kendaraan, saya melihat seekor tikus kecil (orang Jawa menyebutnya celurut) berlari di depan kendaraan saya. Tikus kecil sebesar kepalan tangan anak balita itu konon tak bisa melihat, hanya bisa mengendus. Karena itu, saat berlari, ia menabrak banyak benda di depannya. Bahkan, saking cepatnya berlari, kadang ia jatuh hingga terjungkal.
Sejenak, saya perhatikan tingkah tikus itu. Ternyata, setelah terjungkal, tikus itu berhenti sejenak. Saya mengira, tikus itu akan lebih berhati-hati. Ternyata tidak! Tikus itu tetap lari dengan cepat sambil seperti mengendus-endus. Kali ini, ia mencoba mencari jalan lain. Hal yang sama terjadi, ia menabrak tembok pembatas, dan kembali terjungkal. Perlahan, ia bangkit. Dan, tak lama, ia berlari lagi. Kali ini baru saya tahu, ia berlari menuju seonggok tulang kecil yang masih ada sisa dagingnya. Begitu sampai, daging dan tulang itu dikeratnya dan dibawa lari menghilang dari pandangan saya.
Saya termenung sejenak. Ingatan saya langsung terbawa pada memori tentang orang-orang sukses dan beberapa relasi saya. Banyak dari pengusaha sukses yang saya kenal sering mengisahkan betapa berat perjuangan mereka semasa merintis usaha. Barangkali, sudah tak terhitung lagi berapa kali mereka " terjungkal " saat menghantam " tembok penghalang". Beberapa orang yang sangat sukses, menurut ukuran saya - karena ukuran sukses tiap orang selalu berbeda - adalah mereka yang tak takut terjungkal berkali-kali, bahkan dengan sakit yang amat sangat, namun bisa dengan tegar segera bangkit lagi.
Tak jarang, orang-orang seperti ini seringkali harus berjuang dari angka yang bahkan minus, alias meninggalkan utang. Berat memang, risiko untuk jadi pengusaha. Namun, bukankah setiap pekerjaan pasti mempunyai risikonya sendiri-sendiri? Layaknya si tikus yang sudah mengalami jatuh dan terjungkal, ia pun tetap berusaha mencapai tulang yang diingininya. Inilah mental yang saya kira perlu kita miliki, jika ingin sukses dalam hidup ini.
Sebagai pengusaha, calon pengusaha, atau mereka yang merasa sudah pernah gagal berwirausaha, hal-hal semacam ini harusnya sudah disadari sejak awal. Jika binatang kecil tak berdaya (buta) seperti tikus pun bisa hidup dengan semangat "berburu", maka sudah seharusnya kita pun demikian adanya.
Ada seorang relasi saya yang mengalami kegagalan dalam usaha yang dirintisnya. Tak tanggung-tanggung, jumlahnya cukup besar. Sebut saja namanya Omi. Dalam bayangan banyak orang, kemungkinan Omi akan mencari alternatif usaha lain jika ingin berwirausaha lagi. Sebab, ia memang kurang menguasai jenis usaha yang membuatnya merugi itu sebelumnya. Tapi, perkiraan itu ternyata salah! Omi justru membuka usaha yang sama lagi, meski di tempat yang berbeda. Ia juga menambah beberapa layanan yang membuat usaha itu makin komplit. Kali ini, kenekadan dia membuahkan hasil yang sangat gemilang.
Saat ini, bahkan ia telah membuka cabang kelima dari usaha tersebut. Saat saya bertanya kepadanya, apa yang membuatnya memutuskan menekuni bidang yang sama, meski sudah gagal total sebelumya, Omi menjawab dengen enteng. "Siapa bilang saya gagal? Saya sedang belajar kok, dan memang, investasinya cukup mahal. Tapi terbukti, dengan kegagalan saya yang pertama, saya justru jadi mampu mengendus banyak peluang lain untuk mendukung tumbuh kembang usaha saya," tukasnya tanpa nada mengada-ada. Omi yang tadinya "buta", setelah terjungkal, akhirnya menemukan "makanan" yang dicarinya.
Saya memang tak menganjurkan nekad sebagai pilihan untuk menerjuni dunia usaha. Jika Anda "buta" sama sekali, akan lebih baik jika Anda mengendus peluang yang terdekat dengan Anda dulu. Dengan begitu, Anda akan lebih mudah menapaki jalur wirausaha dengan melihat kemampuan Anda. Yang ingin saya sampaikan, adalah jika kita ingin memantapkan diri di bidang entrepreneurship, kita harus benar-benar mematangkan mental kita. Kita harus siap terjungkal, jatuh, jumpalitan, gagal, tapi lantas segera bangun dan berlari kembali. Kalau si tikus kecil berani, bagaimana dengan Anda?
Bagikan ke teman Anda, Share & Be Happy!
|
|
Baca juga artikel lainnya dari Agoeng Widyatmoko - Konsultan independen usaha kecil (UKM)
|
 |
Belajar Dari Bayi Dan Tomat Busuk
|
 |
Carilah Masalah
|
 |
Maling Di Rumahku
|
 |
Berjumpalitanlah, Peluang Itu Semakin Dekat
|
 |
Jangan Kebanyakan Mimpi
|
|
|
| Artikel Selanjutnya : |
 |
Jangan Remehkan Peluang Sekecil Apapun
(Entrepreneur Corner) -
Senin, 29 Oktober 2007
|
 |
Jangan Pernah Berhenti Dan Bersyukur
(Entrepreneur Corner) -
Jumat, 02 November 2007
|
 |
Group Focus Discussion
(Entrepreneur Corner) -
Senin, 12 November 2007
|
 |
Mencari Harga Yang Paling Murah
(Entrepreneur Corner) -
Kamis, 15 November 2007
|
 |
Mendingan Terjun Ke Bisnis Apa Ya?
(Entrepreneur Corner) -
Senin, 26 November 2007
|
|
| Baca juga artikel sebelumnya : |
 |
Carilah Masalah
(Entrepreneur Corner) -
Selasa, 04 September 2007
|
 |
Manfaatkan Momentum
(Entrepreneur Corner) -
Selasa, 14 Agustus 2007
|
 |
Kesempatan Itu Datangnya Berkali - Kali
(Entrepreneur Corner) -
Jumat, 13 Juli 2007
|
 |
Cari Peluang Dalam Peluang
(Entrepreneur Corner) -
Kamis, 28 Juni 2007
|
 |
Jangan Takut Untung
(Entrepreneur Corner) -
Senin, 18 Juni 2007
|
|
|