Seorang teman pernah mengeluh kepada saya. Ia mengatakan ada
atau tidak ada proyek-kebetulan dia bergerak di bidang usaha jasa-selalu saja
tak punya uang banyak untuk ditabung. Bahkan, ia mengaku sering tekor karena
harus bayar ini dan itu. Usaha dia adalah di bidang jasa desain grafis yang
notabene persaingannya sangat ketat. Karena itu, saya sangat maklum jika ia
kadang sering tidak kebagian proyek desain dalam seminggu. Akhirnya, ia hanya
nganggur jika sepi order. Target dia sebenarnya
tak muluk-muluk. Ia hanya butuh minimal dua proyek-senilai tertentu yang diukur
berdasar kebutuhan hidup dia dan anak istri serta dua orang asisten-dalam
seminggu. Tapi, entah kenapa, menurut dia, pendapatnya selalu habis sebelum
ditabung. Kalaupun ada yang ditabung, hanya sedikit jumlahnya.
Hal ini barangkali pernah dialami oleh sebagian orang yang
mengawali dunia usaha. Saya pun demikian. Pada awal menjalankan sebuah bisnis
yang kini saya tekuni, masalah serupa saya temui. Apalagi, usaha saya memang
tergolong jenis usaha keluarga dan melibatkan teman-teman dekat. Pada awal
usaha, saat mendapat proyek besar, uang selalu saja habis untuk ini dan itu.
Apalagi, kalau sudah mendapat "ikan besar" alias proyek yang bernilai cukup
untuk menghidupi beberapa rekan dan keluarganya. Istilahnya, kalau sudah
senang, lupa segalanya. Lupa harus bayar listrik, telepon, internet,
transportasi, dan lain sebagainya.
Karena itu, saya sangat memahami apa yang dialami oleh rekan
tersebut. Dan, saya pun mencoba men-
sharing-kan
pengalaman saya saat menghadapi kejadian serupa. Semoga, hal ini juga bisa
berlaku dan bermanfaat bagi Anda semua.
Yang pertama, pertegas pengaturan keuangan kita. Kedua,
pisahkan uang usaha dan uang pribadi. Dan yang utama, jangan mudah tergoda.
1.
Atur
keuangan kita
Cara
paling mudah untuk mengatur keuangan usaha adalah dengan menyepakati sejak awal
berapa porsi uang yang akan digunakan sesuai dengan lalu lintas uang yang
dibutuhkan. Bagaimana caranya? Kalau pengalaman saya, sebelum mendirikan usaha,
sepakati dulu jumlah uang yang akan digunakan untuk membayar gaji, opersional
perusahaan, serta berapa keuntungan yang akan digunakan mengembangkan usaha dan
untuk ditabung.
Karena
masih di awal mendirikan usaha keluarga, maka yang pertama dulu saya lakukan
adalah membagi porsi 30:30:30:10. Porsi 30% saya ambil buat gaji yang sudah
ditentukan sejak awal. Jadi, jika misalnya ada pemasukan sebesar Rp 20 juta,
yang Rp 6 juta langsung dipotong di awal untuk disisihkan sebagai gaji.
Kemudian, 30% disisihkan untuk operasional
perusahaan seperti sewa kantor, biaya listrik, telepon, fax,
transportasi, dan lain sebagainya.
Selanjutnya,
yang 30 persen berikutnya digunakan untuk mengembangkan usaha. Dalam hal ini
biasanya uang akan saya tabung dalam satu rekening tersendiri yang hanya untuk
kepentingan usaha. Sisanya, yang sepuluh persen yakni senilai Rp 2 juta saya
sisihkan untuk tabungan keluarga atau pribadi. (Bagian membagi tabungan usaha
dan pribadi ini akan saya jelaskan di poin kedua nanti.)
Pola
pembagian dengan struktur jumlah prosentase tersebut tidak mutlak. Namun, yang
diperlukan adalah kedisplinan membagi berdasar nilai yang sudah disepakati
tersebut. Dengan cara itu, ketika kita membagi nilai kontrak dengan rekanan
atau relasi dan karyawan, kita akan lebih mudah mengaturnya. Yaitu, diambil
dari porsi gaji yang 30% tadi.
Nah,
tapi... ada tapinya... Kadang, uang gaji itu tidak cukup untuk memberi bagian
pekerja kita. Biasanya, kemudian saya akan mengambil dari uang operasional.
Sehingga, sisa yang 30 persen dan 10 persen sudah pasti aman. Kalau masih belum
cukup juga? Ya, harus kita pikirkan ulang berapa nilai yang pantas untuk
menggaji pekerja kita. Yang penting, kita tetap disiplin mengaturnya. Namun,
kalau dari pengalaman saya, angka 60% biasanya sudah lebih dari cukup untuk
memenuhi kepentingan yang berbau "bayar membayar" alias "kewajiban" sebagai
seorang pengusaha. (Catatan: kalau masih ada sisa dari porsi yang 60%, maka
uang tersebut langsung dimasukkan di jatah yang ditabung untuk kepentingan
pengembangan saha.)
2.
Pisahkan
uang pribadi dan uang usaha
Biasanya,
kalau usaha masih kecil, kita memang cenderung sering menyamakan antara uang
yang kita terima dalam usaha dan uang untuk kepentingan pribadi. Sebab, kita
biasanya menyimpan uang itu dalam satu nomor rekening. "Masih kecil, nggak usah
maca-macam laah." Begitu biasanya anggapan saya waktu awal memulai usaha. Hal
ini juga saya dapati dari beberapa pengusaha kecil yang mengawali merintis
usaha dari bawah.
Padahal,
jika kita mau berdisiplin, sejak awal harusnya kedua dana-usaha dan
keluarga/pribadi-harus segera dipisah. Mengapa? Karena dengan begitu manajemen
keuangan kita jauh lebih terarah. Nantinya, jika pemisahan ini jelas, kita akan
tahu betul berapa dana pengembangan usaha yang bisa kita maksimalkan. Dan, kita
pun bisa sadar kalau kebutuhan keuangan pribadi kita sedang berlebih ataupun
kurang. Jika kita tahu persis kondisi keuangan, maka ini akan bisa mengerem
kita saat banyak mendapat orderan. Sehingga, diharapkan kita cenderung tidak
boros karena sudah tahu betul alokasi keuangan kita.
3.
Jangan
mudah tergoda
Poin
ini bagi saya adalah yang utama. Dan, kalau boleh saya singkat, poin ini bisa
saya sebut sebagai sebuah bentuk usaha mendisiplinkan diri. Sebab, kunci utama
mengatur keuangan usaha keluarga adalah pada disiplin kita untuk mematuhi porsi
prosentase yang kita atur untuk keuangan usaha dan keluarga.
Waktu
saya tanya kepada rekan saya yang mengaku sulit menabung, ia memang menyebut
bahwa godaan utama justru sering datang jika sedang banyak order. Barang-barang
tadinya belum terlalu penting, jadi seperti "minta dibeli". Ada kalanya, saat uang masuk dalam jumlah
besar, tiba-tiba kita merasa butuh ini dan itu. Pasang internet, TV kabel,
entertain klien, sewa gedung yang lebih berkelas, beli baju dengan alasan agar
bisa lebih pantas bertemu klien kelas atas, dan lain sebagainya.
Apakah
semua keinginan tadi salah jika dipenuhi? Tidak juga. Tapi, ada satu kunci yang
ingin saya sampaikan di sini. Kunci ini adalah cara "menahan godaan" yang
sering diungkap oleh para perencana keuangan. Caranya yaitu dengan membedakan
kebutuhan dan keinginan. Sebelum membeli barang atau ingin memenuhi hasrat
tertentu dengan dalih membesarkan usaha, tanyakan dulu, apakah itu merupakan
kebutuhan mendesak atau keinginan yang bisa ditunda. Jawaban ini yang akan
menentukan ke mana uang Anda akan digunakan.
Semoga
bermanfaat dan selamat mengatur keuangan usaha Anda....
Agoeng Widyatmoko adalah seorang konsultan
independen UKM dan perencana usaha keluarga. Bukunya 100 Peluang Usaha telah
jadi buku best seller dan menginspirasi banyak orang untuk membuka usaha. Ia
dapat dihubungi di agoeng.w@gmail.com atau
SMS ke 0812 895 0818
Bagikan ke teman Anda, Share & Be Happy!
|
|
Baca juga artikel lainnya dari Agoeng Widyatmoko - Konsultan independen usaha kecil (UKM)
|
 |
Berjumpalitanlah, Peluang Itu Semakin Dekat
|
 |
Jangan Takut Untung
|
 |
Carilah Masalah
|
 |
Kesempatan Itu Datangnya Berkali - Kali
|
 |
Kkn - kekoncoan Itu Wajib
|
|
|
| Artikel Selanjutnya : |
 |
BuatAction Plan Buat Diri Anda Sendiri
(Entrepreneur Corner) -
Sabtu, 15 Maret 2008
|
 |
Good Investment
(Entrepreneur Corner) -
Senin, 24 Maret 2008
|
 |
Berani Saja Tidak Cukup
(Entrepreneur Corner) -
Rabu, 09 April 2008
|
 |
Bayi-bayi Bisnis
(Entrepreneur Corner) -
Rabu, 23 April 2008
|
 |
Dana Sos, Uang Penyelamat II
(Entrepreneur Corner) -
Selasa, 13 Mei 2008
|
|
| Baca juga artikel sebelumnya : |
 |
Untung Besar Atau Untung Berlipat?
(Entrepreneur Corner) -
Selasa, 04 Maret 2008
|
 |
15 Hari Lagi Menuju Full Tda
(Entrepreneur Corner) -
Jumat, 22 Februari 2008
|
 |
Belajar Dari Bayi Dan Tomat Busuk
(Entrepreneur Corner) -
Selasa, 19Februari 2008
|
 |
Butuh Modal Usaha? Gampaaang....
(Entrepreneur Corner) -
Selasa, 29 Januari 2008
|
 |
Tetaplah Bertahan Dan Tetaplah Bergerak
(Entrepreneur Corner) -
Jumat, 11 Januari 2008
|
|
|