Dalam sebuah diskusi yang
diadakan sebuah
event organizer,
muncul pertanyaan yang hampir selalu saya akrabi setiap kali bertemu dengan
orang yang ingin membuka usaha. "Pak, saya tertarik untuk jadi pengusaha... Ide
Bapak menarik.... Wah, saya pengen usaha ini nii..." Tapi, ujung-ujungnya,
kemudian berbagai pertanyaan tadi dilanjutkan dengan sebuah pertanyaan klasik,
"Cuma, saya belum punya modal, bagaimana ya?"
Modal bagi sebagian orang
memang dianggap sebagai hal yang paling memberatkan. Sebab, dalam pola pikir
setiap orang, kata modal selalu diidentikkan dengan uang. Memang benar. Setiap
usaha pasti menggunakan uang sebagai salah satu sarana untuk menjalankannya.
Tapi, tak mutlak. Bahkan, bisa saja nol modal alias modal dengkul.
Memangnya ada yang bisa
benar-benar modal nol? Banyak. Salah satu contoh nyata pernah saya temui dari
rekan saya. Tapi, tak perlu lah saya sebut namanya di sini. Dia menjalani fungsi
sebagai makelar alias penghubung saja. Modal dia hanya tekad dan kelugasan
berbicara untuk meyakinkan pengguna jasanya. Kalau melihat sebuah rumah yang
dijual, dia biasanya langsung bergerak cepat menghubungi sang penjual rumah.
Dia akan bertanya berapa harganya dan kalau berhasil menjualkan, berapa persen
yang masuk sebagai komisi dia. Cara seperti ini berkali-kali berhasil
membuatnya menjadi semacam
property agent
kelas kampung dengan penghasilan istimewa. Sebab, tanpa dirinya harus bergabung
dengan berbagai macam
property agent
yang sudah pasti akan mengurangi komisinya, ia tetap bisa menjadi pemasar
properti mumpuni. Dalam satu bulan, ia bisa menjualkan rumah orang paling tidak
dua atau tiga rumah. Keuntungannya? Tak perlu saya sebut di sini. Yang jelas,
dia bisa menyekolahkan ketiga anaknya di sekolah yang cukup elit, yang menurut
catatan saya biayanya cukup mahal.
Saya pun pernah mengalami
kasus yang hampir mirip. Modal saya waktu itu hanya meminjam printer teman
untuk mencetak beberapa kartu nama saya dengan posisi keren, Managing Director.
Terserah saya kan,
wong
yang bikin saya sendiri, jadi ya maunya saya dong kalau kasih nama dan jabatan
sekeren itu. Padahal, selain jadi Managing Director, saya pun merangkap jadi
sekretaris, akuntan, hingga office boy, alias semua saya kerjakan sendirian.
Tapi, siapa juga sih yang menanyakan jabatan kita saat mendapat kartu nama.
Banyak kok orang yang selalu saja langsung percaya pada sebuah status, tanpa
pernah mengecek status orang itu sebenarnya.
Nah, dari kartu nama itu,
saya mencantumkan salah satu jenis usaha yang saya geluti. Dalam beberapa kali
kesempatan, ternyata ada beberapa kenalan baru yang kemudian menghubungi untuk
presentasi jasa yang saya tawarkan. Dan, sampai saat ini, dari kartu nama yang
cetaknya pun nebeng teman itu, saya bisa mendapat beberapa
job besar.
Job orderan
ini bahkan cukup untuk menggaji beberapa rekan, yang kemudian saya jadikan
partner kerja.
Menilik kedua contoh nyata
di atas, masih ragukah Anda bahwa banyak usaha yang bermodal dengkul? Tapi oke,
kalau masih ragu, baiklah. Kita kembali sejenak ke topik seminar yang saya
hadiri saat itu. Ketika muncul sebuah pertanyaan tentang modal yang diajukan
seorang ibu, maka kemudian saya coba bertanya kepada orang itu.
"Ibu punya tabungan seratus
ribu?"
"Punya Pak," jawab si Ibu.
"Oke. Apa ibu juga punya
penggorengan, kompor, dan piring kecil di rumah?"
"Punya Pak. Malah saya
kompor ada dua, karena kemarin dapat subsidi kompor gas dari pemerintah,"
ungkap si Ibu.
"Bagus," jawab saya.
"Terus, apakah ibu bisa bikin gorengan?"
"Bisa dong. Pisang goreng saya
malah dibilang beberapa orang enak banget. Ketela goreng saya juga pas banget
di lidah, kata teman waktu saya masak di arisan rumah."
"Nah. Menurut ibu uang
seratus ribu bisa nggak buat bikin gorengan?"
"Bisa!"
"Ya sudah. Masalah modal
usaha sudah terpecahkan. Jual saja gorengan."
Ibu itu manggut-manggut
mendengar penuturan saya. Ia tak sadar bahwa selama ini gorengannya yang dipuji
oleh beberapa rekan bisa jadi sebuah usaha minim modal. Sampai tulisan ini
dibuat, saya tidak tahu apakah si Ibu itu jadi menerjuni usaha gorengan. Satu
hal yang pasti. Yang ingin saya sampaikan melalui tulisan ini adalah soal modal
uang itu sebenarnya faktor kesekian. Dengan tekad, kemauan, kerja keras,
keteguhan, keuletan, semua kesulitan untuk membuka usaha, pasti memiliki jalan
keluar. Jadi, nggak punya modal? Siapa takuuuut?
Bagikan ke teman Anda, Share & Be Happy!
|
|
Baca juga artikel lainnya dari Agoeng Widyatmoko - Konsultan independen usaha kecil (UKM)
|
 |
Berjumpalitanlah, Peluang Itu Semakin Dekat
|
 |
Jangan Kebanyakan Mimpi
|
 |
Ide Bisnis Datang Dari Mana Saja
|
 |
Carilah Peluang Di Tengah Kemalasan
|
 |
Mendingan Terjun Ke Bisnis Apa Ya?
|
|
|
| Artikel Selanjutnya : |
 |
Belajar Dari Bayi Dan Tomat Busuk
(Entrepreneur Corner) -
Selasa, 19Februari 2008
|
 |
15 Hari Lagi Menuju Full Tda
(Entrepreneur Corner) -
Jumat, 22 Februari 2008
|
 |
Untung Besar Atau Untung Berlipat?
(Entrepreneur Corner) -
Selasa, 04 Maret 2008
|
 |
Atur Doong Keuangan Kita...
(Entrepreneur Corner) -
Selasa, 11 Maret 2008
|
 |
BuatAction Plan Buat Diri Anda Sendiri
(Entrepreneur Corner) -
Sabtu, 15 Maret 2008
|
|
| Baca juga artikel sebelumnya : |
 |
Tetaplah Bertahan Dan Tetaplah Bergerak
(Entrepreneur Corner) -
Jumat, 11 Januari 2008
|
 |
Kepada Siapa Anda Curhat Tentang Bisnis Anda?
(Entrepreneur Corner) -
Senin, 07 Januari 2008
|
 |
Jangan Kebanyakan Mimpi
(Entrepreneur Corner) -
Kamis, 03 Januari 2008
|
 |
Kkn - Kekoncoan Itu Wajib
(Entrepreneur Corner) -
Rabu, 12 Desember 2007
|
 |
Tambahkan Satu Kata Ajaib Dalam Bisnis Anda
(Entrepreneur Corner) -
Selasa, 11 Desember 2007
|
|
|