Ada seorang karyawan yang berkeluh kesah mengenai anaknya. Kata
karyawan itu yang kebetulan seorang ibu "Anak saya tidak mau saya pergi
bekerja. Dia ingin agar saya menemani anak saya untuk belajar, bermain.
Sedangkan sudah saya lakukan sepulang kerja. Tetapi anak saya protes
bahwa ibu tidak ada waktu, sibuk bekerja, pulang sudah larut. Saya
sudah jelaskan bahwa ibu bekerja untuk mencari uang agar bisa sekolah
yang baik, punya rumah yang baik, bisa jalan-jalan. Anak saya malah
membantah bahwa Dia seperti tidak memiliki Ibu".
Berdasarkan
cerita di atas, kita hanya melihat sekilas saja, tetapi jika diambil
jangka panjang, ada beberapa kemungkinan yang terjadi, bisa menjadi
baik bisa pula menjadi buruk. Saya mengambil sisi yang buruk antara
lain si Anak akan mengalami depresi yang mendalam, kemudian bisa pula
mengambil cara / jalan untuk mencari perhatian, misalnya dengan manja
dengan orang lain, atau malah secara ekstrim yaitu narkoba, bahkan
sampai bunuh diri.
Keluhan Ibu di atas, adalah ilustrasi bahwa Ibu
sudah mengambil keputusan untuk bekerja, si Ibu tentu tahu resikonya
yaitu perhatian ke anak akan berkurang. Ibu mungkin hanya membutuhkan
waktu sebentar saja. Ibu harus menemani anak bermain, bukan membawa
pekerjaan ke dalam rumah, ataupun kerja sampai larut malam. Bisa
saja dengan cara Ibu ini mengambil cuti selama beberapa hari untuk
menemani si anak. Ini memang keputusan yang sulit, apalagi jika Ibu itu
sudah mempunyai jabatan yang cukup tinggi di perusahaan. Tetapi
keputusan ada di tangan si Ibu.
Permasalahan
ini juga terjadi di nilai mahasiswa. Seorang mahasiswa harus belajar.
Sering kali mahasiswa mengambil keputusan yaitu belajar
pada 1 minggu sebelum ujian berlangsung. Ini masih wajar, tetapi jika
mahasiswa sudah tidak mau masuk kuliah, tidak ikut ujian, maka
mahasiswa tsb tidak akan lulus matakuliah tersebut, sulit mencari
pekerjaan karena ijasah banyak angka merah, menjadi pengangguran.
Kemudian mahasiswa tersebut menyalahkan diri sendiri, dan berakibat
fatal ke mahasiswa yang bersangkutan . Mahasiswa sudah berani mengambil
resiko maka nilai akan ada di pundak dosen.Jika nilai
jelek, sebenarnya ini sudah ada teguran kepada kita, bahwa ini ada
resiko jika kita tidak perbaiki. Apalagi sampai mahasiswa sudah tidak
kuliah, maka dia harus menerima resiko yaitu tidak lulus dan tidak
melihat siapa yang bersalah.
Permasalahan
lain yaitu penyakit. Pekerja pun sering kali bekerja dengan sangat
giat. Sehingga menyita waktu untuk berolah raga, makan menjadi tidak
beraturan. Sering kali, Tuhan sudah mengingatkan kita dengan diberikan
sakit yang ringan. Tetapi seorang pekerja sering kali mengabaikan hal
ini, menyebabkan penyakit datang mulai dari flu, sakit panas, batuk
dll. Pekerja yang mengalami hal ini haruslah sadar, untuk beristirahat
sebentar. Jika tidak mau istirahat, maka akibatnya akan menjadi fatal,
tubuh menjadi ada penyakit yang lebih berat, antara lain : stroke,
darah tinggi dll.
Sebenarnya
masalah di atas, sudah ada nasehat dari Tuhan, bahwa kita melakukan
kesalahan. Dan kita harus pandai membaca kata hati atau nasehat dari
Tuhan, bahwa teguran dan nasehat itu sudah diberikan. Apakah kita mau
menjawab atau tidak, itu terserah kita. Kita harus menjawab dan
menjalankan perintah ini. Cuma kita kadang tidak mau menjawab dan
menjalankannya.
Jadi jika mengalami kondisi di atas atau yang sejenisnya, maka kita harus menjawabnya, sebaiknya berpikir bahwa Teguran sudah diberikan, maka kita harus memperbaikinya. Teguran itu jangan dibiarkan saja, harus ada tindak lanjutnya. Dan
kita jangan menyalahkan orang lain, atau kantor, atau keluarga atau
apapun, semua keputusan ada di tangan kita.
Jadi kalau kita Berani mengangkat maka harus berani meletakkan. Kita sering kali hanya berani mengangkat tetapi tidak berani meletakkan. Jika kita berani mengambil suatu keputusan, maka kita juga harus berani meletakkan keputusan yang sudah kita ambil.
Oleh :Agus Putranto, S.Kom, MT, MSc
aputra@binus.edu
eXcellent Centre in E-Learning Bina Nusantara
Bagikan ke teman Anda, Share & Be Happy!
|
|
Baca juga artikel lainnya dari Agus Putranto
|
 |
Nilai Baik Terlambat Atau Nilai Jelek Tepat Waktu
|
 |
Peduli Lingkungan
|
 |
Tukang Parkir Yang Bodoh
|
 |
Berani Mengangkat, Berani Meletakkan
|
 |
Ibu Komunikasi Anak
|
|
|
| Artikel Selanjutnya : |
 |
Kacamata Suasana
(Campus Corner) -
Kamis, 05 Juni 2008
|
 |
Tipe-tipe Penghambat Kemajuan
(Campus Corner) -
Kamis, 12 Juni 2008
|
 |
Membangun Komunikasi Anak
(Campus Corner) -
Kamis, 17 Juli 2008
|
 |
Berani Mengangkat, Berani Meletakkan
(Campus Corner) -
Selasa, 07 Oktober 2008
|
 |
Ibu Komunikasi Anak
(Campus Corner) -
Rabu, 29 Oktober 2008
|
|
| Baca juga artikel sebelumnya : |
 |
Hidup Adalah Djoeang
(Campus Corner) -
Jumat, 23 Mei 2008
|
 |
Jadilah Yang Terbaik Apa Pun Profesi Anda
(Campus Corner) -
Senin, 05 Mei 2008
|
 |
Diberi Tugas, Kok Pusing?
(Campus Corner) -
Selasa, 29 April 2008
|
 |
Pembelajar Kesalahan
(Campus Corner) -
Rabu, 12 Maret 2008
|
 |
Selalu Ada Cara Yang Lebih Baik
(Campus Corner) -
Jumat, 15 Februari 2008
|
|
|