Saat ini, banyak penelitian yang dilakukan atas nama kepentingan manusia banyak yang menggunakan hewan sebagai kelinci percobaan. Tikus, marmut, kelinci, monyet, dan berbagai jenis binatang lain acap kali dimanfaatkan untuk mengetes sebuah hasil penelitian, sebelum diujicobakan pada manusia.
Penggunaan hewan ini kemudian menimbulkan penentangan dari sejumlah aktivis penyayang binatang. Sebab, dikuatirkan, meski saat ini populasinya masih banyak, suatu saat akan punah juga jika terus dibunuh. Namun, kekuatiran para penyayang binatang ini sepertinya akan segera mendapat solusinya. Sebab,ilmuwan dari Institut Politeknik Rensselaer dan Universitas California, Berkeley, AS telah mampu mengembangkan papan kaca khusus yang sering disebut biochip sebagai pengganti hewan-hewan tersebut.
Ada dua biochip yang dikembangkan untuk bersama-sama menirukan respon tubuh terhadap zat-zat kimia. Papan pertama yang disebut MetaChip memiliki rangkaian ceruk berisi enzim hati manusia. Papan lainnya yang diberi nama DataChip berisi rangkaian ceruk sejenis yang dapat diisi kultur sel sesuai kebutuhan, bisa sel darah, jantung, paru-paru, kulit, atau ginjal. Kedua biochip inilah yang diharapkan dapat menggantikan fungsi hewan yang selama ini diuji responnya untuk sebuah penelitian.
Agar lebih terpercaya, kombinasi kedua papan tersebut dibuat sedemikian rupa hingga bisa meniru struktur organ tubuh manusia. Jadi, sejumlah ceruk di biochip dapat dipakai untuk mengukur pengaruh bahan-bahan kimia terhadap jaringan tubuh tanpa harus mencobanya pada hewan secara langsung.
Jonathan Dordick dari Ranssaelar yang akan mengomersialkan alat tersebutmelalui Solidus Biosciences, sebuah perusahaan yang didirikannya mengharap, bahwa dengan alat ini akan memperkecil jumlah hewan yang dijadikan bahan percobaan. Ia juga yakin bahwa alat tersebut bisa membantu perusahaan-perusahaan kosmetika - khususnya di Eropa - yang dilarang menggunakan hewan sebagai kelinci percobaan mulai Maret 2009.
Penemuan ini tentu menjadi sebuah alternatif yang sangat inovatif untuk menjaga kelestarian hewan-hewan tersebut. Sehingga, suatu saat kelak, tak kan ada lagi sebuah alasan yang disebut atas nama pengetahuan yang justru mengorbankan mahkluk hidup lain. Bagaimana pendapat Anda?
Bagikan ke teman Anda, Share & Be Happy!
|
|
Baca juga artikel lainnya dari Team Andriewongso.com
|
 |
Google Dan Yahoo Terpopuler
|
 |
Manusia Terbang Dengan Sayap?
|
 |
Jason Mraz Buat Sejarah
|
 |
Hari Ini, 47 Tahun yang Lalu
|
 |
Pembasmi Hama Alami
|
|
|
| Artikel Selanjutnya : |
 |
Denda Pengguna Ponsel Di Mobil
(AW Corner) -
Senin, 11 Februari 2008
|
 |
Bakteri Sebagai Sumber Energi
(AW Corner) -
Selasa, 12Februari 2008
|
 |
Ponsel Sesuai Selera
(AW Corner) -
Rabu, 13 Februari 2008
|
 |
Kenangan Hari Valentine Berharga Selangit
(AW Corner) -
Kamis, 14 Februari 2008
|
 |
Akses Komunikasi Fbi Diblok
(AW Corner) -
Jumat, 15 Februari 2008
|
|
| Baca juga artikel sebelumnya : |
 |
Bawang Bebas Tangis
(AW Corner) -
Rabu, 06 Februari 2008
|
 |
Pena Ahli Matematika
(AW Corner) -
Selasa, 05Februari 2008
|
 |
Komputer Termahal
(AW Corner) -
Senin, 04 Februari 2008
|
 |
Bali Pulau Wisata Terbaik Dunia
(AW Corner) -
Jumat, 01 Februari 2008
|
 |
Wisata Ke Angkasa
(AW Corner) -
Kamis, 31 Januari 2008
|
|
|