Tanpa
terasa, seratus tahun sudah, kita memperingati Hari Kebangkitan Bangsa. Sebuah
hari yang mengingatkan kita pada cita-cita besar untuk mempersatukan bangsa.
Cita-cita itu dimulai dari sebuah perkumpulan pemuda yang didirikan oleh Dr
Soetomo, tepatnya pada 20 Mei 1908 silam. Di bawah penjajahan Belanda, para
pemuda tersebut mempunyai cita-cita luhur, demi memikirkan nasib bangsa yang
kala itu sangat buruk, selalu dianggap bodoh dan tidak bermartabat oleh bangsa
lain.
Kini,
seratus tahun kemudian, setelah hampir 63 tahun kita merdeka, kita perlu
kembali menanyakan makna Hari Kebangkitan Bangsa tersebut. Sebab, hingga kini,
cita-cita tersebut sepertinya masih harus terus diperjuangkan. Apalagi, sejak
era krisis moneter yang-bisa dikatakan-belum pulih sepenuhnya. Kita juga perlu
bertanya, apakah dalam masa kepemimpinan enam presiden yang berbeda, telah
mengantarkan kita pada era kebangkitan yang sebenarnya?
Satu abad
bukanlah masa yang singkat dalam hitungan waktu. Namun, untuk sebuah perjuangan,
nampaknya waktu satu abad berlalu dengan cepat. Karena itulah, tepat kiranya
jika momen seratus tahun Kebangkitan Nasional ini kita jadikan sebagai sarana
refleksi diri dan bangsa. Inilah saatnya menghadirkan kembali ruh dan jiwa
kebangsaan Indonesia
dalam diri dan pribadi masing-masing.
Seperti
yang dicita-citakan Organisasi Boedi Oetomo, yakni keinginan menyatukan para
pemuda dalam sebuah organisasi yang terbuka dan tidak berdasar kelompok
tertentu, maka selayaknya kita juga perlu menjadikan persatuan sebagai dasar
penyemangat untuk bangkit, sejajar dengan negara-negara lain di dunia. Sebab,
hanya dengan memosisikan diri sejajar dengan bangsa lain, kita akan mampu
menunjukkan jati diri dan kebesaran Indonesia sebagai sebuah bangsa
yang kaya, baik kaya Sumber Daya Alam, maupun manusianya.
Maka,
adanya semboyan adiluhung, Bhinneka Tunggal Ika-berbeda-beda, tetapi tetap
satu- adalah sebuah simbol kekayaan bangsa, yang perlu kita pupuk untuk menjadi
solusi kebangkitan bersama. Hanya dengan persatuan dalam kebersamaan, kita
mampu membangun kembali harga diri bangsa. Dengan semangat tersebut, kita akan dapat
mengenali kelemahan dan kekurangan, sehingga bisa dijadikan sarana evaluasi untuk
mengembalikan harkat dan martabat kita.
Mari, secara
tegas dan tuntas, kita buang semua hal negatif, seperti disintegrasi,
ketidakdisiplinan, ketidakpercayaan diri, kemalasan, keengganan belajar, dan
semua sifat serta sikap yang hanya akan membelenggu kita pada keterpurukan.
Tentu, ini membutuhkan kerja bersama dari semua pihak. Kita hilangkan sifat
saling menyalahkan dan kita ganti dengan sikap saling dukung dan dorong demi
membangun kemajuan bersama.
Kita
tumbuhkan kekayaan mental untuk membuktikan bahwa sukses juga adalah hak bangsa
kita.
Success is my right!!! Dengan
semangat seratus tahun kebangkitan bangsa, kita bangun kembali ruh dan jiwa
sebagai bangsa Indonesia
yang satu. Tak perlu menunggu instruksi dari atasan, tak perlu mencari-cari
penghargaan, kita buktikan dengan tindakan nyata, Indonesia akan segera bangkit,
sejajar dengan bangsa lain di dunia.
Salam
sukses, luar biasa!!!
Andrie Wongso
Bagikan ke teman Anda, Share & Be Happy!
|
|
Baca juga artikel lainnya dari Andrie Wongso
|
 |
Nilai Waktu
|
 |
SemangatPemenang
|
 |
Ilmu Memancing
|
 |
"Paul" Yang Mencuri Perhatian Kita
|
 |
Kebiasaan Melakukan Perbaikan
|
|
|
| Artikel Selanjutnya : |
 |
Nilai Sebuah Kepercayaan
(AW Artikel) -
Senin, 02 Juni 2008
|
 |
Bersyukur Dan Berjuang
(AW Artikel) -
Senin, 16 Juni 2008
|
 |
MemilihHidupSekaliLagi
(AW Artikel) -
Senin, 30 Juni 2008
|
 |
Penjudi Yang Sadar
(AW Artikel) -
Senin, 07 Juli 2008
|
 |
SemangatPemenang
(AW Artikel) -
Senin, 21 Juli 2008
|
|
| Baca juga artikel sebelumnya : |
 |
Doa Untuk Putraku
(AW Artikel) -
Senin, 08 Juni 2009
|
 |
SikapMentalJuara
(AW Artikel) -
Senin, 12 Mei 2008
|
 |
Cita-cita Yang Tertunda
(AW Artikel) -
Senin, 28 April 2008
|
 |
Koleksi Kalender
(AW Artikel) -
Senin, 21 April 2008
|
 |
KelinciSiPenakut
(AW Artikel) -
Jumat, 04 April 2008
|
|
|