Di sebuah waktu luang seharian
saya membongkar-bongkar barang-barang lama. Saya membaca ulang buku-buku lama,
menonton rekaman DVD lama. Saya membaca ulang novel
Max Havelaar yang saya beli tapi tidak pernah saya baca dengan
seksama. Aduh, berdosa benar saya. Buku itu ternyata sastra luar biasa. Sebuah
novel sejarah yang mencekam. Dan gaya Multatuli alias Douwes Dekker itu dalam bercerita,
benar-benar bergelora ketika saya dengan teliti menyimaknya. Sinis, lucu,
cerdas. Tergelak-gelak saya dibuatnya dan bodoh benar saya bahwa humor seperti
ini pernah saya biarkan teronggok begitu
lama. Buku ini dibuka dengan narasi seorang pedagang yang pikirannya cuma
melulu kepada uang. Maka seluruh soal yang tidak mendatangkan uang ia cibir habis-habisan
termasuk kesenian. Kepada sepotong sajak yang mengatakan:
udara hitam pekat... dan waktu
sudah jam empat, misalnya, ia umpat sebagai kebohongan. ‘'Mana mungkin ada
udara sudah hitam pekat tepat pada jam empat. Bisa jadi waktu itu baru pukul
tiga seperempat,'' begitulah kira-kira rasa sinisnya.
Saya baca ulang
buku-buku Kahlil Gibran. Kecil, tipis, murah dan seperti barang tak berharga.
Tapi ya ampun, baru membuka selembar halamannya saja, saya seperti terlempar di
sebuah galaksi yang jauh. Ia langsung menggedor saya:
suka cita tak lebih adalah duka yang telah terbuka kedoknya, katanya.
Sangar benar penyair ini! Baru satu kalimat. Padahal seluruh buku itu berisi
ribuan kata yang semuanya tak selalu saya mengerti tapi entah kenapa kenindahannya
terasa di hati.
Saya menonton ulang biografi Muhammad Ali. Edan, keberanian orang ini keterlaluan.
Di depan wartawan, saat ia hendak menantang juara dunia ia tidak cuma menjawab,
tetapi juga bertanya. ‘'Apa kabar Sony Liston? Apa dia masih jelek? Juara dunia
harus ganteng seperti saya!'' teriaknya. Ali tidak cuma berani berkelahi,
tetapi juga berani disalahpahmi. Dan
keberanian itu melebar ke mana-mana hingga jauh di luar dunia tinju. Sendiri,
ia menantang politik Amerika yang hendak mengirimnya ke Vietnam sebagai wajib militer. ‘'Tak ada alasan saya pergi untuk
membunuh sesama orang miskin. Lagipula tak pernah ada Vietkong yang memangil
saya Negro!'' Untuk keyakinannya ini, ia
merelakan gelar juaranya dicopot paksa dan terancam masuk penjara. Meletup-letup gairah saya melihat keberanian
semacam ini.
Saya lalu menonton ulang dokumentasi Bruce Lee. Wuaaah...
pede-nya setengah mati. Kecil saja
tubuhnya, tetapi seluruhnya seperti cuma terdiri atas otot. Itulah otot yang
sanggup melahirkan teknik pukulan satu inchi yang fenomenal. Di dalam tubuh sekecil
itu menggelegak nyali yang menyala-nyala. Ia taklukkan Amerika dengan pukulan
satu inchi-nya dan memaksa orang-orang yang dua kali lipat tinggi tubuhnya
harus datang sebagai murid.
Lalu saya nonton konser Bee Gees di Las Vegas. Haaa.... suara falset Gibb bersaudara yang sebetulnya
aneh itu, menjelma sebagai koor yang memukau. Mereka telah menjadi para
veteran. Si bungsu, Andi Gibb bahkan telah tiada saat konser itu berlangsung.
Tetapi tenggorokan mereka seperti masih tetap sepeti sedia kala. Seluruh
penonton hafal hingga titik koma lagu mereka. Tapi tidak pernah sekalipun orang-orang ini terpancing mengacungkan
mikrofonnya ke arah penonton dan meminta
untuk menirukan nyanyiannya. Di tengah
lautan pemuja, orang-orang ini tidak sekalipun tergoda berimprovisasi macam-macam cuma karena dorongan untuk
bergaya.
Ada jenis penyanyi yang begitu mendengar tepuk tangan
langsung lenyap kesadarannya lalu bergaya terlalu dini. Baru masuk intro sudah melenggak-lenggokkan lagunya sedemikian rupa.
Penonton pasti tidak butuh ini. Penonton butuh lagu yang secara persis telah
ada di benak mereka, dan Bee Gees mengerti hukum ini. Di tengah histeria pemuja, Bee Gees tampil
lurus, patuh, tertip dan sederhana. Ini sungguh setara dengan orang kaya raya tetapi tetap hidup bersahaja.
Sungguh tirakat batin yang berat, dan hanya para juara yang sanggup
melakukannya.
Lalu saya nonton konsernya Guns N Roses. Wuaaa... urakan sekali AXL Roses itu. Kalau ia tetangga saya,
bisa jadi saya sudah meminta Pak Lurah untuk mengusirnya. Tetapi ketika ia sudah
berada di depan piano dan menyanyikan
November Rain itu.... Ups! Saya boleh tidak menyukai orang ini secara pribadi tetapi saya tidak bisa untuk tidak
menghormati bakatnya.
Terakhir:
sebetulnya saya bukan sedang ingin membuat resensi buku dan pertunjukan. Saya cuma
sedang ingin menunjukkan; ada banyak harta karun terpendam di rumah Anda. Bongkarlah
dan temukan kebahagiaan yang terancam Anda lupakan!
Bagikan ke teman Anda, Share & Be Happy!
|
|
Baca juga artikel lainnya dari Prie GS - Budayawan dan penulis SKETSA INDONESIA
|
 |
Anakku Kena Jotos
|
 |
Pulang Hanya Untuk Pergi, Pergi Hanya Untuk Kembali
|
 |
Siapa Takut Jatuh Cinta
|
 |
Selimut Dalam Tidurku
|
 |
Suatu Hari Ketika Ayat Ayat Cinta Ngetop Sekali (2)
|
|
|
| Artikel Selanjutnya : |
 |
Benda Yang Tidak Kita Bawa Ke Dunia Ini
(Artikel Tetap) -
Rabu, 16 Januari 2008
|
 |
Think And Act Positively
(Artikel Tetap) -
Kamis, 17 Januari 2008
|
 |
Komunikasiku Malang, Pelangganku Melayang
(Artikel Tetap) -
Senin, 21 Januari 2008
|
 |
Teman Masa Kecilku
(Artikel Tetap) -
Selasa, 22 Januari 2008
|
 |
Keteguhan Hati: Kunci Sukses Mulia
(Artikel Tetap) -
Rabu, 23 Januari 2008
|
|
| Baca juga artikel sebelumnya : |
 |
Berita Terbaik
(Artikel Tetap) -
Senin, 14 Januari 2008
|
 |
Permennya Lupa Dimakan
(Artikel Tetap) -
Kamis, 10 Januari 2008
|
 |
36 Ji (strategy) For Happy Life - Strategy Ke-30
(Artikel Tetap) -
Rabu, 09 Januari 2008
|
 |
Change Your Life
(Artikel Tetap) -
Rabu, 09 Januari 2008
|
 |
Kekuatan Hati Melebihi Kekuatan Pikiran
(Artikel Tetap) -
Selasa, 08 Januari 2008
|
|
|