Beruntung
saya pernah mengambil diploma seni musik di IKIP Negeri Semarang yang sekarang
menjadi Universitas Negeri Semarang. Keberuntungan pertama ialah karena topografi
kampus saya di kawasan Jl Kelud itu bagus sekali. Ia seperti kawasan puncak,
naik turun, tinggi rendah, jauh dekat. Ruang kampus itu seperti sebuah vila-vila saja layaknya. Penuh rimbun pohon-pohon
besar dengan rumput dan bunga-bunga yang rapi terpelihara. Seperti berada di sebuah pegunungan dengan banyak vila.... sungguh sebuah suasana yang bagi usia saya saat
itu, amat mudah memicu untuk jatuh cinta.
Karenanya hampir setiap saat saya bisa jatuh cinta: ada
yang pada tema sekelas, ada yang beda kelas, ada yang beda jurusan dan ada pula
yang beda fakultas, karena saat itu, rasanya kawa-kawan kuliah yang cantik
memang ada di mana-mana. Dan syukyurlah, di antara semua teman yang saya taksir
itu tidak ada satupun yang menjadi pacar saya. Macam-macam saja alasannya, tapi
terbesar adalah karena saya sendiri penyebabnya. Tegasnya, saya memang cuma asyik
jatuh cinta tetapi tidak terlalu bernafsu untuk pacaran karena pasti
ditolaknya. Rasa percaya diri ditolak inilah yang membuat saya malah merasa
bebas. Bebas jatuh cinta kepada siapa saja dan bebas putus kapan saja saya mau,
tanpa perlu pihak yang saya taksir itu membalas atau malah sekadar tahu.
Saya pernah naksir seorang teman yang begitu cantiknya
sehingga kalau saya maju terus pasti tidak kebagian. Dan benar, seluruh dari kami, mahiswa
paling top pun terpaksa harus gigit
jari, karena kecantikan yang keterlaluan seperti itu tidak cocok bagi kelas mahiswa yang payah modalnya.
Seperti yang telah saya duga, si cantik itu akhirnya kawin dengan pengusaha kaya. Dari awal saya sudah mengerti kemungkinan ini, maka untuk apa berdarah-darah
atas sesuatu yang saya tahu ia bukan
jatah saya. Tetapi untuk menjadi pacar bagi imajinasi, saya bebas pacaran sesuka
hati dengan teman ini. Persis seperti Ebiet G Ade bercinta dengan Camellia. Itu sebuah percintaan
yang menurut saya dahsyat sekali. Dari
pandangan pertama sampai Camellia masuk liang lahat, ternyata belum sekalipun
Ebiet pernah menjumpai. Apakah Ebiet menjadi gila karenanya? Tidak. Ia sehat sekali,
waras sekali dan malah suskes sekali. Karena energi jatuh cinta itu, jika cerdik
cara mengelolanya memang luar biasa.
Di dalam perasana jatuh cinta itu, semuanya menjadi penuh
sensasi. Melihat mega-mega berarak, seperti melihat puisi. Melihat jemuran
berkelebat seperti melihat burung-burung
blekok berterbangan di atas sawah kampung saya. Melihat rinai hujan, seperti
melihat air mata peri-peri cantik berjatuhan. Tak ada yang tidak indah ketika saya
jatuh cinta. Sesumbang apapun suara ini, bawaannya melulu ingin beryanyi. Sepayah
apapun tampang saya, rasanya ingin selalu berkaca. Jadi jika begini besar efek
jatuh cinta dalam mendatangkan keindahan, kenapa saya tidak jatuh cinta saben
hari saja? Maka saat itu, saya merdeka untuk jatuh cinta setiap kali tanpa
takut patah hati. Jatuh cinta semacam ini ternyata hemat sekali; tidak harus kehilangan ongkos nonton
bareng, makan bareng, dan tidak perlu repot-repot bertengkar segala. Padahal
ongkos pertengkaran itu, ongkos mental terutama, besar sekali! Sekali waktu
saya pernah pacaran beneran. Astaga... daftar pertengkaran saya ternyata lebih
panjang dari daftar kebahagiaan saya. Ini pasti melelahkan.
Padahal dalam keadaan jatuh cinta versi pertama itu, yang
ada cuma keinginan bernyanyi dan menghabiskan
berlembar-lembar kertas untuk ditulisi. Bakat menulis saya pun rasanya terpupuk
dengan hebat karena seringnya saya jatuh cinta semacam ini. Menulis saat jatuh
cinta itu luar biasa menggelegak. Seluruh dunia jadi semuanya berwarna biru saking
indahnya. Kenapa kawasan Puncak itu diburu orang Jakarta? Karena warna biru itulah. Biru, temaram, sendu,
syahdu, kelu, rindu.... itulah suasana cinta. Sementara merah, darah,
gerah...itulah warna perang, warna derita, dan itulah warna Jakarta. Maka bisa Anda bayangkan betapa menyenangkan jika jalan
menuju ke biru itu bisa saya askes setiap waktu, kapan saja saya mau. Betapa
hati akan melulu dipenuhi kegembiraan cinta. Dan hati yang penuh cinta akan melihat apa saja,
tiba-tiba dengan perasaan cinta. Berkarya apa saja jadi penuh semangat cinta.
Tetapi persoalannya, bagaimana kalau saya kemudian sudah berkeluarga? Apakah
cinta seperti ini masih aman untuk diperagakan? Biarlah akan saya ceritakan
pada kolom berikutnya!
Bagikan ke teman Anda, Share & Be Happy!
|
|
Baca juga artikel lainnya dari Prie GS - Budayawan dan penulis SKETSA INDONESIA
|
 |
Dengkur Seorang Istri
|
 |
Selimut Dalam Tidurku
|
 |
Meditasiku Yang Gagal
|
 |
Ada Rossi Di Televisi
|
 |
Iklan Meditasi Itu
|
|
|
| Artikel Selanjutnya : |
 |
Tahun Baru, Impian Baru
(Artikel Tetap) -
Jumat, 28 Desember 2007
|
 |
Memindahkan Gunung
(Artikel Tetap) -
Kamis, 03 Januari 2008
|
 |
Year 2008 : The Time To Success !
(Artikel Tetap) -
Senin, 07 Januari 2008
|
 |
Kekuatan Hati Melebihi Kekuatan Pikiran
(Artikel Tetap) -
Selasa, 08 Januari 2008
|
 |
Change Your Life
(Artikel Tetap) -
Rabu, 09 Januari 2008
|
|
| Baca juga artikel sebelumnya : |
 |
2008 Its Your Time To Move On
(Artikel Tetap) -
Jumat, 28 Desember 2007
|
 |
Kenapa Kita Tidak Bisa Merealisasikan Impian Kita ?
(Artikel Tetap) -
Kamis, 27 Desember 2007
|
 |
3 Kunci Kehidupan
(Artikel Tetap) -
Minggu, 23 Desember 2007
|
 |
Penderitaan Orang Pelit
(Artikel Tetap) -
Jumat, 21 Desember 2007
|
 |
Ms Bagian 3 Dari 3 Tulisan Ml Md Ms
(Artikel Tetap) -
Rabu, 19 Desember 2007
|
|
|