Liburan akhir tahun, mau ngapain?
Budi termangu berpikir di tengah kemacetan
lalu lintas Jakarta sore hari.
Ide demi ide bermunculan, usul demi usul
muncul kembali di pikiran. Mau ngapain?
Jalan2
wisata ke luar negeri? Ah .. Nilai mata uang asing sedang tinggi, mata uang
kita sedang terpuruk. Semuanya menjadi serba mahal di luar negeri. Pasti nanti
akan tergiur juga untuk belanja.
‘Sungguh
pemborosan!!', pikirnya sambil menggosok-gosok dagu.
Jalan2
ke luar kota? Masih jelas terbayang
seluk beluk jalan dengan kerlap kerlip lampu di tengah kemacetan mobil berikut
orang2nya di sepanjang jalan.
‘Ah
.. terlalu ramai', ujarnya sambil injak gas perlahan.
Mobil maju sedikit, lalu berhenti lagi.
Jalan2 di mal saja? Hmm... bosan, rasanya kok itu itu saja. Masak
sepanjang tahun di sini saja, dari mal ke mal.
'Capek kalau 'hang out' dan 'clubbing'
terus', keluhnya dalam hati sambil menoleh ke kanan, melotot pada kernet bus
yang teriak-teriak minta jalan.
Budi menarik nafas panjang. Lelah dan bosan
mulai menghinggap, entah oleh ulah kernet bus tadi, atau oleh gaya hidup yang
selama ini dijalani, atau pula karena tidak tahu mau ke mana acara liburan
akhir tahun nanti.
Secara tidak sengaja dia melirik pada kaca
spion di depan, terlihat raut wajah lelah di sana. Budi mendekatkan wajahnya
biar lebih jelas melihat. 'Ups!! .....', Lalu segera tarik mundur kembali
menjauh dari kaca itu, seakan-akan ada sesuatu yang mengejutkan di sana.
Matanya menyipit sambil melihat cermin dirinya di balik kaca itu, seakan ingin
memastikan sesuatu. Kembali dia menarik nafas panjang, kali ini dia menerawang
ke luar jendela mobilnya.
'Tahun ini saya sudah 30 tahun, tahun
depan 31', ucapnya kecil, dalam hati.
Pikiran yang tadinya mengarah tentang tempat
wisata tiba-tiba berubah menjadi wisata pikiran sendiri.
'Mau kemana hidup ini saya bawa?'.
Budi meneruskan ‘wisata pikiran'nya.
Dia baru saja selesai rapat tentang
business plan tahun depan di kantor tadi, tentang target penjualan tahun 2008.
Minggu depan akan ada rapat lanjutan setelah tadi masing-masing divisi diminta
untuk menyusun strategi guna mencapai target tersebut.
'Lalu, apa target pribadi saya buat tahun
depan? 31 tahun, bukan main. Apa target hidup saya?'.
Pikiran
Budi kembali berwisata jauh menembus kemacetan menderu.
Hidup ini hanya sekali. Ibarat air, hari
demi hari yang kita lalui tidak pernah akan kembali. Waktu juga tidak pernah
menunggu, berjalan begitu saja tanpa peduli apa yang telah kita lakukan.
Masing-masing punya tanggung jawab atas waktunya sendiri.
'Apakah saya cukup bertanggung jawab atas
waktu saya sendiri?', tanyanya dalam hati.
'Apakah tujuan hidup saya sudah
tercapai?'.
Tujuan hidup???!!
Tiba-tiba dia merasa kering di
kerongkongan.
'Apa tujuan hidup saya?'.
Bayangan
episode demi episode kehidupan muncul bergantian. Ayah, ibu, adik, teman, guru
SD, SMP, SMU, kuliah, bolos, nyontek waktu ulangan, pesta hura-hura, hingga
kehidupan sosial selepas jam kantor.
‘Ah ... apa tujuan hidup saya? Sekian lama
saya sekolah, sekian lama saya dibimbing orangtua, kuliah susah payah, dingin
menembus hujan sepulang kuliah, lembur tidak tidur berhari-hari nyusun skripsi
... masak begitu saja'.
Ada rasa mendongkol di dalam .. entah oleh
karena deruman bus di samping yang tidak sabar ingin menyalip, atau karena
merasa tidak bisa menjawab dirinya sendiri. Ada juga rasa kering di ujung
kerongkongan.
'Apa rencana hidup selanjutnya? Apakah
terus seperti sekarang ini?'.
Budi menelan ludah, sedih.
'Saya sudah tahu apa acara untuk liburan
akhir tahun ini', jawabnya dalam hati.
'Sudah waktunya bagi saya untuk bertemu
dengan diri sendiri, merenungi apa yang telah kujalankan selama 30 tahun ini
dan berpikir tentang rencana ke depan. Apa tujuan hidup saya ini? Kemana akan kubawa hidup yang hanya sekali ini?'.
Budi terdiam sejenak sambil menatap warna
langit yang mulai gelap.
'Ibarat kapal, sudah waktunya memikirkan
kemana tujuan kapal ini biar tidak terombang ambing oleh ombak kehidupan. Pelabuhan
mana yang akan saya tuju, agar saya tahu apa yang perlu saya lakukan untuk
mencapai pelabuhan tadi ... dan yang terpenting, bagaimana saya akan
menjalankannya .. mengarungi samudra kehidupan ini'.
Dia tersenyum kecil, lalu berujar pada cerminan
dirinya di balik kaca spion tadi.
‘Hidup ini hanya sekali, harus dijalani
dengan penuh arti'.
Lalu dia mengangguk mantap, lega dan
ringan.
'Saya harus punya personal planku
sendiri!! Ya .... Goal setting for my own life!!'.
Apa
rencana hidupmu untuk 2008, sobatku?
Bagikan ke teman Anda, Share & Be Happy!
|
|
Baca juga artikel lainnya dari Mariani NG ( Daftar Artikel Selengkapnya )
|
 |
Have You Ever Ordered Chaos?
|
 |
Visualisasi Atau Melamun
|
 |
Krisis Global Vs Krisis Pribadi
|
 |
Apa Yang Akan Saya Pikirkan Hari Ini
|
 |
Wisata Di Akhir Tahun
|
|
|
| Artikel Selanjutnya : |
 |
Satu Hal Terpenting
(Artikel Tetap) -
Sabtu, 15 Desember 2007
|
 |
Jangan Sekedar Mengejar KeuntunganTanpaMenyadari Risikonya
(Artikel Tetap) -
Senin, 17 Desember 2007
|
 |
Jadilah Prima
(Artikel Tetap) -
Selasa, 18 Desember 2007
|
 |
Ms Bagian 3 Dari 3 Tulisan Ml Md Ms
(Artikel Tetap) -
Rabu, 19 Desember 2007
|
 |
Penderitaan Orang Pelit
(Artikel Tetap) -
Jumat, 21 Desember 2007
|
|
| Baca juga artikel sebelumnya : |
 |
Mari Mencari Kambing Hitam
(Artikel Tetap) -
Jumat, 14 Desember 2007
|
 |
Sepatu
(Artikel Tetap) -
Kamis, 13 Desember 2007
|
 |
Md (bagian Ke-2 Dari 3 Tulisan Ml, Md, Ms)
(Artikel Tetap) -
Rabu, 12 Desember 2007
|
 |
Rekening Bank Kehidupan
(Artikel Tetap) -
Selasa, 11 Desember 2007
|
 |
Tembok Berlubang
(Artikel Tetap) -
Senin, 10 Desember 2007
|
|
|