Pohon Kayu Berbunga
Indah
V. Bing ~Posisi Seimbang
Si Bongkok Menendang Langit
Alkisah di
jaman para pendekar, tersebutlah seorang ibu yang sedang hamil yang ditinggal
mati suaminya akibat kejahatan yang dilakukan oleh seterunya yang dijuluki
Tompel Merah. Demi menyelamatkan jiwa sang anak yang dikandungnya, ibu berjalan
berhari-hari dan makan seadanya yang ditemuinya di jalan, hingga akhirnya
sampai di sebuah desa terpencil di pinggir sebuah hutan, disanalah sang ibu
menghantar putranya ke dunia. Harapan sang ibu adalah melahirkan seorang anak
laki-laki yang gagah perkasa, tampan dan kuat untuk menebus dendam dengan
mengembalikan nama baik sang ayah.
Lahirlah
seorang bayi mungil yang sehat, sungguh kegembiraan yang tak terkira baginya. Sang
ibu menghidupi bayinya dengan mencari kayu dan makanan di hutan. Hari berlalu
hari, sepuluh bulan sudah usia sang bayi, sang bayi belum bisa menegakkan
kepalanya. Ibu dengan yakin serta terus memanjatkan doa kepada yang maha kuasa
agar sang bayi diberikan kesempurnaan.
Dua tahun sudah
usia sang bayi, ternyata si kecil memang punya kelainan, yaitu tidak bisa
berdiri tegak, alias bongkok. Melihat kondisi putranya, sang ibu sangat sedih,
" Bagaimana mungkin putraku tumbuh menjadi pendekar yang handal, kalau secara
fisik saja sudah tidak sempurna?
Bagaimana nama baik ini keluarga dapat dipulihkan?" Teriaknya dalam hati
sambil melelehkan air mata.Walau
merasakan pukulan batin dahsyat melihat kenyataan, sang ibu tetap yakin, bahwa kelak
sang anak tumbuh kekar sempurna, menjadi pendekar tangguh dan mampu memulihkan
harkat dan martabat keluarga, walaupun dia sendiri tidak tahu caranya. Hari
hari dilalui dengan ketabahan dan memperlakukan sang anak sebagaimana anak normal,
hingga sang anak pun tidak pernah tahu kalau tubuhnya tidak sempurna.
Tepat pada
ulang tahun ketiga, si kecil dibawa menuju sebuah perguruan silat untuk
didaftarkan sebagai murid. Begitu sampai di depan pintu gerbang perguruan, sang
ibu sudah ditolak, karena pakaian mereka yang telihat miskin dan mereka hanya
punya sedikit uang saja.Tanpa kecil
hati, sang ibu berjalan seharian menggendong si kecil menuju perguruan lain di
balik bukit yang konon lebih baik. Sang ibu diterima dan persilahkan masuk
bertemu pimpinan perguruan, namun dijelaskan, bahwa si kecil tidak dapat
diterima sebagai murid, karena kondisi fisiknya yang bongkok tidak mungkin
berlatih silat. Langkah berat mengiringi kesedihan hati sang ibu meninggalkan
perguruan itu, namun hatinya tetap berkeyakinan, bahwa anaknya adalah karunia
Tuhan yang terlahir lengkap dengan kesempurnaannya.
Dalam
perjalanan panjang kembali ke gubuknya, senja mulai tiba, nampak di sebuah kuil
tua di pinggiran sebuah sungai yang airnya mengalir bening. Sang ibu nampak
letih setelah seharian mengendong si kecil itu bergegas ke sungai membasuh muka
dan kakinya. Dari balik tas kainnya dikeluarkanlah sepotong kue kering,
dibasahinya sebagian dengan air untuk si kecil.
Tiba-tiba
terdengar langkah lembut dari dalam kuil mendekat, ternyata dihadapannya
berdiri seorang biarawati tua yang tersenyum menyapa dengan sorot mata yang
sangat ramah. "Saudaraku, engkau telah berjalan jauh rupanya." Dipersilahkanlah
mereka untuk beristirahat di bilik di samping kuil. Biarawati ini menghidangkan
dua mangkok sup jagung hangat, setelah dengan sangat lahap ibu dan anak ini
menghabiskannya, setelah itu berceritalah dia tentang kemalangan yang
menimpanya hingga mereka sampai di kuil itu. Dengan sabar biarawati tua ini
mendengarkan kisah sang ibu yang bercerita sambil menangis meratapi nasibnya,
serta keinginannya yang berapi-api agar anaknya menjadi pendekar ulung untuk
membalas dendam sang ayah dan mengembalikan nama baik keluarganya. Setelah
ceritanya berakhir, tanpa berkomentar biarawati mempersilahkan sang ibu beristirahat
dan meminta untuk menemuinya pukul enam pagi besok di ruang tengah kuil.
Sang surya
telah menyingsing terang, pukul delapan pagi sudah, sang ibu sudah menanti di
ruang tengah kuil sejak sebelum pukul enam pagi, namun biarawati tua itu tidak
kunjung hadir. Hatinya mulai gundah dan gelisah, dudukpun tidak tenang. Dalam
kegundahannya ini sang ibu mencoba menenangkan diri, menyalakan dupa dan bersembahyang.
Saat akan menancapkan dupa ke tempatnya, matanya tertuju pada selembar kertas diatas
meja sembahyang yang bertuliskan "Untuk ibuku yang baik", diraihlah kertas itu
dan dibacanya
"Balas-membalas
tiada akhir apalah gunanya".
"Memulihkan
kebenaran demi kebenaran tanpa mendendam adalah Kemuliaan".
Dua baris kalimat
ini seolah tamparan bagi sang ibu, dia berlutut dan menangis sejadinya seolah
tersadarkan dari niatan buruk yang dipendamnya untuk mendidik sang anak menjadi
seorang pendekar pembalas dendam. Tiba-tiba tepukan lembut di bahu sang ibu dan
berkata, " kalau kau sudah tersadarkan, biarlah kalian tinggal disini dan
bekerja mengurus ladang di belakang kuil ini."
Tanpa pikir panjang lagi sang ibu mengangguk tanda setuju akan tawaran
biarawati itu. Sejak itu si kecil mulai belajar membaca, menulis dan mendalami
hakekat kehidupan.
Setahun telah
berlalu, intelektual dan moral si kecil berkembang pesat dan memang si Bongkok
kecil memang anak yang cerdas. Namun sayang tubuhnya yang Bongkok tampak
semakin kontras seiring dengan pertumbuhan badannya. Sang ibu kuatir cita-cita
menjadikan si pendekar tangguh itu tidak kesampaian, hingga pada suatu pagi
setelah menyapu halaman kuil, sang ibu memberanikan diri bertanya kepada
biarawati yang sedang bergegas menuju ruang ibadah.
"Guru, terima
kasih atas pendidikan yang diberikankepada
putra kami, tetapi bukankah lebih baik juga membekalinya dengan ilmu silat,
sehingga kelak juga dapat dipergunakan apabila diperlukan untuk menegakkan
kebenaran." Sambil tersenyum biarawati itu mengambil sebongkah
kayu yang tergeletak di halaman kuil dan memberikannya kepada sang ibu, "Ukirlah
kayu ini menjadi sosok pendekar tegap dan gagah." Ucapnya sambil berlalu.
Walau bingung,
sang ibu mengikuti petunjuk sang guru.
Setiap malam setelah sang anak terlelap, kayu itu diukir dengan semangat
dan perasaan, detail demi detail diukirnya dengan penuh curahan semangat dan
harapan, bahwa si kecil akan berdiri tegak dan gagah sebagai sosok pendekar
yang berahlak dan berbudi luhur. Sembilan bulan berlalu sudah, bagaikan waktu
untuk melahirkan seorang bayi, maka sebongkah kayu itu telah menjelma menjadi
sosok patung pendekar yang gagah. Biarawati kemudian menaruh patung itu di
halaman depan kuil diatas sebuah batu besar. Sejak itu setiap pagi segera
setelah melakukan doa pagi, si Bongkok kecil harus berdiri menghadap patung
pedekar gagah, kemudian berjalan tegap seperti sang pendekar mengelilingi
patung itu sebanyak seratus delapan putaran dengan mata yang terfokus pada
sosok patung pendekar gagah ini, setelah itu dilanjutkan dengan latihan silat
yang diberikan sang guru.
Suatu hari si
kecil Bongkok ini bertanya kepada ibunya," Ibu siapakah patung itu?"
"Itu adalah
kamu saat dewasa, seorang pendekar yang tangguh, berakhlak, gagah dan tegap.
Ibu sendiri yang membuat dan melahirkan sosok itu Nak". Jawab sang ibu.
Jawaban sang
ibu ini memberikan dorongan spiritual dari dalam hati sang anak, si kecil Bongkok
telah melihat visi dirinya di masa mendatang dengan jelas. Semangat ini selalu
diulang dan diingatkan setiap pagi sepanjang hari, sepanjang bulan dan
sepanjang tahun. Dua puluh tahun sudah genap usia sang anak, si kecil Bongkok
telah menjelma menjadi sosok pemuda tampan, gagah, berahklak, tangguh dan
berbadan tegap. Sungguh suatu keajaiban, ternyata dengan visi dan usaha keras
yang persisten, kodratpun dapat berubah.
Tibalah
waktunya sang anak kembali ke kota ayahnya untuk mengungkap kebenaran,
kebetulan di kota itu sendang berlangsung pemilihan ketua pendekar yang
dilangsungkan terbuka di hadapan umum. 7 orang penantang telah terkapar melawan
ketua pendekar Tompel Merah, tidak seorangpun sanggup menghadapinya. Menyeruak
dari balik kerumunan masa seorang pemuda Bongkok memberikan hormat Tompel Merah
untuk menantangnya bertanding.
Tompel Merah
berkata, " Hai pemuda Bongkok, aku sangat menghargai keberanian kamu untuk
menantangku, namun aku tidak bertanggung jawab akan resiko buruk yang akan
menimpamu, apa kamu bersungguh mau bertanding ?"Pemuda Bongkok itupun mengangguk tanda
mengerti. "Baiklah kalau itu maumu, aku
akan menggunakan tangan kiriku saja untuk menghadapimu." Seru Tompel Merah
seraya menyuruh anak buahnya mengikat erat tangan kanannya.
Pertanding
dimulai, walau Bongkok, ternyata pemuda ini sungguh lincah, tak satupun dari ratusan
dan tendangan yang dilancarkan Tompel Merah kena sasaran, Tompel Merah tampak
sangat murka dan staminanya semakin menurun. Pada satu kesempatan yang tepat si
Bongkok melancarkan satu tendangan tegak sambil meloncat dan menimpa telak dagu
Tompel Merah hingga tidak bisa bangkit lagi, inilah jurus tendangan langit. Semua
orang terperangah dibuatnya, si Bongkong menang berhak menduduki kursi pimpinan
pendekar mengantikan Tompel Merah.
Pembaca yang budiman,
Keteguhan
hati sang ibu yang diungkapkan dalam guratan patung kayu merupakan visi yang
sangat nyata yang ditanamkan kepada si anak. Visi ini nampak jauh dari
kenyataan bahwa si anak bertubuh bongkok. Namun dengan latihan, disiplin yang
presisten akhirnya sang anak pun bertumbuh normal searah dengan visi yang
semula tampak tidak mungkin.
Kehadiran pemuda bongkok didalam
perebutan kursi pempinan pendekar telah membuat Tompel Merah menjadi sombong
dan memandang rendah yang akhirnya harus dibayar dengan kekalahan tanding
telak.
Pesan moral
strategi ini,
Visualisasi yang semakin jelas
seringkali menjadi kenyataan. Visualisasi atas apa yang kita lihat tanpa
evaluasi yang bijaksana akan membuat kesalah yang harus dibayar mahal.
Kisah asli terjadi
pada Dinasty Zhou era Zan Guo, Tian Dan dari kota Jimo mengumpulkan emas dan
dikirimkan kepada seteru bebuyutannya Qi Jie jendral dari kota Yan. Pasukan
sungguh kegirangan dan lengah melihat tanda-tanda Jimo akan menyerah kepada
Yan.
Tan Dian
mengumpulkan ribuan sapi di kotanya, tanduknya dipersenjatai dengan pedang
tajam,tubuhnya di tutup dengan sutra ungu yang di cat dengan berbagai warna,
ekornya diikat dengan merang yang telah dicelup minyak. Tepat tengah malam
sapi-sapi itu di arahkan masuk ke kota Yan melalui lubang-lubang tembok yang
telah dibuat di benteng kota Yan dan ekornya disulut api. Carut-marut dan
kebakaran menimpa kota Yan, Tian Dan diikuti 5.000 pasukan mengempur dan
menguasai kota Yan setelah sapi-sapi memporakporandakan kota Yan dan
pasukannya.
Riduan Goh ~
Wealth is Mine
Rp 30JT SIDE INCOME, MAU?
0815 878 3886 ~
www.pamrich.com
Nantikan
Strategy #30
反客為主 Fǎn kè wéi
zhǔ -
Tamu Jadi Tuan Rumah
Hanya untuk :
www.andriewongso.com
Bagikan ke teman Anda, Share & Be Happy!
|
|
Baca juga artikel lainnya dari Riduan Goh ~ Wealth is Mine
|
 |
36 Ji (stratetgy) For Happy Life - Strategy Ke-17
|
 |
36 Ji (stratetgy) For Happy Life - Strategy Ke-25
|
 |
36 Ji (stratetgy) For Happy Life Strategy Ke-27
|
 |
36 Ji (stratetgy) For Happy Life Strategy Ke-23
|
 |
36 Ji (stratetgy) For Happy Life - Strategy Ke-9
|
|
|
| Artikel Selanjutnya : |
 |
My Spirit : Menunggu Keajaiban
(Artikel Tetap) -
Kamis, 29 November 2007
|
 |
Ml Bagian Ke-1 Dari 3 Tulisan Ml, Md, Ms
(Artikel Tetap) -
Jumat, 30 November 2007
|
 |
Nilai Lebih
(Artikel Tetap) -
Jumat, 30 November 2007
|
 |
Mendongkrak Kekuatan Jiwa
(Artikel Tetap) -
Sabtu, 01 Desember 2007
|
 |
Bunga-bunga Di Rumahku
(Artikel Tetap) -
Senin, 03 Desember 2007
|
|
| Baca juga artikel sebelumnya : |
 |
Kecerdikan Tiga Orang Tukang Sepatu , Sama Dengan Kecerdikan Zhuge Liang
(Artikel Tetap) -
Senin, 26 November 2007
|
 |
Kalau Tidak Tahu
(Artikel Tetap) -
Jumat, 23 November 2007
|
 |
Jadilah Yang Paling Baik
(Artikel Tetap) -
Kamis, 22 November 2007
|
 |
Hari Penuh Apriori
(Artikel Tetap) -
Rabu, 21 November 2007
|
 |
Bukan Apa, Tapi Bagaimana Yang Penting
(Artikel Tetap) -
Selasa, 20 November 2007
|
|
|