Apa arti kerja bagi
Anda?" tanya saya kepada sejumlah kawan.
"Aktivitas untuk memperoleh nafkah
hidup," jawab Didi yang pengusaha.
"Kegiatan yang melibatkan usaha mental
atau fisik yang dilakukan untuk mencapai suatu tujuan atau hasil," ujar Elly
yang dosen perguruan tinggi.
"Tugas-tugas yang harus ditunaikan," kata Wawan
yang tentara.
"Mengembangkan potensi diri, memenuhi panggilan batin, mencari
nafkah sekaligus memberi makna pada hidup melalui karya-karya kita," urai Bagong
yang pegawai.
***
Di sekolah kehidupan
kita menyaksikan bahwa cara pandang atau peta yang kita pergunakan untuk memberi
makna pada pekerjaan, akan mempengaruhi sikap dan perilaku kita dalam bekerja.
Seorang yang memaknai
pekerjaannya sebagai sesuatu yang penting, bernilai, bahkan mulia, misalnya,
akan menunjukkan sikap kerja yang berbeda dengan mereka yang memaknai
pekerjaannya sebagai hal yang tidak penting, tak bernilai, bahkan hina.
Orang-orang yang memaknai pekerjaannya sebagai sesuatu yang pantas dibanggakan
akan menunjukkan perilaku kerja yang berbeda dengan orang-orang yang merasa malu
dengan pekerjaan mereka.
Masalahnya
bukan pada "apa yang dikerjakan", tetapi pada bagaimana mereka memaknai
pekerjaan tersebut.
Seperti seorang kawan
bernama Anton yang memaknai pekerjaannya hanya sebagai pekerjaan untuk nafkah
hidup semata. Statusnya sebagai wiraniaga di perusahaan asuransi terkemuka
negeri ini, sebenarnya cukup bisa dibanggakan. Namun, ia sedikit sekali menaruh
minat atas apa yang dikerjakannya dan tak menyukai sifat pekerjaannya yang
memberikan banyak tantangan. Hanya karena merasa wajib bekerja agar mendapatkan
penghasilan, maka Anton bertahan di tempat kerjanya itu. Akibatnya, Anton sangat
sensitif terhadap soal jumlah komisi yang diperolehnya. Jika komisinya berkurang
sedikit saja dari biasanya, atau ia mendapatkan informasi ada komisi yang
sedikit lebih tinggi di perusahaan asuransi lain, maka ia langsung ingin
cepat-cepat pindah kerja. Kalau ada kesempatan kerja di luar industri asuransi
pun, sepanjang hal itu memberikan penghasilan lebih besar, Anton akan segera
merasa tertarik. Saat-saat yang paling menyenangkan bagi Anton adalah tanggal
pembayaran komisi/gajian. Selebihnya adalah kewajiban yang harus dilakukan.
Berbeda dengan Anton,
kawan bernama Tommy memaknai pekerjaannya sebagai karier. Ia ingin ada
peningkatan karier dari waktu ke waktu. Artinya, ia tidak melihat uang atau gaji
sebagai satu-satunya faktor penentu kepuasan kerjanya. Ia juga memperhitungkan
soal-soal lain, terutama soal kekuasaan/jabatan, status sosial, dan gengsi.
Walau gajinya sebagai kepala bidang operasional sebuah bank nasional yang sudah
mapan hanya rata-rata industri saja, namun ia tetap bersemangat karena merasa
ada prospek karier untuk menjadi kepala cabang di tahun-tahun mendatang. Lagi
pula, ia sudah mulai mendapatkan fasilitas pinjaman untuk membeli mobil
idamannya, sesuatu yang menaikkan gengsinya di lingkungan kerabat dan tempat
pemukimannya. Bagi Tommy,
ia akan mulai berpikir untuk mencari
pekerjaan baru, bila kariernya sudah mentok tak kemana-mana.
Lain lagi halnya
dengan Titin yang bekerja sebagai penulis lepas. Ia memaknai pekerjaannya
sebagai panggilan batin. Ia mencintai pekerjaannya, dan antara pekerjaan dengan
irama kehidupannya sehari-hari tak terlalu banyak bedanya. Sebagai ibu dari dua
anak remaja yang sudah ditinggal mati oleh suaminya, Titin terkadang ikhlas tak
mendapatkan imbalan material apapun dari karya tulisnya yang dipublikasikan
pihak lain untuk tujuan sosial. Ia merasa memang itulah tugasnya. Ia merasa ada
kemuliaan dari apa yang dikerjakannya. Dan ia juga sangat menikmati kebebasan
waktu kerjanya yang menurutnya "tak ternilai harganya". Sebab, sebagai penulis
lepas ia bisa mengatur sendiri waktu untuk mengurus anak-anak dan mencari
nafkah. Ia juga tidak harus terikat pada lokasi kerja seperti kantor, karena
bisa bekerja dimana saja berkat laptop sederhana miliknya. Karenanya, walau
penghasilan Titin tak berlebihan, ia tak pernah berpikir untuk berganti
pekerjaan.
Baik Anton, Tommy,
maupun Titin, adalah wajah dari orang-orang di sekitar kita.
Orang-orang seperti
Anton selalu mengutamakan gaji, komisi, uang. Status sosial, gengsi, jabatan,
dan panggilan hidup urusan belakangan. Sepanjang pekerjaan mereka menghasilkan
uang yang lebih banyak, mereka bersemangat dalam bekerja. Sementara orang-orang
seperti Tommy masih bersedia bersabar dengan gaji yang pas-pasan, asalkan diberi
jabatan formal, kekuasaan memimpin sejumlah bawahan, dan gengsi karena bekerja
di perusahaan terkemuka. Dan bagi orang-orang seperti Titin, pekerjaan haruslah
berkaitan dengan keyakinannya atas kontribusi hidupnya bagi keluarga, bangsa,
masyarakat, atau dunia. Tak soal penghasilan pas-pasan, tanpa jabatan mentereng,
tak punya kantor yang megah, dan sebagainya. Asal ada keyakinan bahwa
karya-karyanya berguna bagi banyak orang, ikut mendorong proses-proses
kebudayaan, membuat dunia menjadi tempat yang lebih indah dan layak dihuni,
cukuplah.
Anton, Tommy, dan
Titin amat boleh jadi merasakan kepuasan yang berbeda atas hasil-hasil
pekerjaannya. Di antara mereka juga mungkin sulit untuk saling memahami pilihan
satu dengan yang lain. Masalahnya bukan pada "apa" yang mereka kerjakan, tetapi
pada kemampuan memaknai pekerjaan itu sendiri. Artinya, bisa saja seorang buruh
pabrik atau tukang angkut sampah memaknai pekerjaan sebagai amanah atau
panggilan hidup yang harus ditunaikan. Ia bisa dengan ikhlas dan senang hati
melakukan pekerjaannya. Dan sebaliknya, seorang eksekutif muda atau manajer
senior di perusahaan terkemuka hanya menganggap pekerjaannya sebagai sarana
memperoleh uang semata. Sehingga, ia sering merasa terbebani, tidak gembira dan
kurang puas dengan pekerjaannya.
Sejumlah psikolog ahli
yang mendalami masalah kepuasan kerja dan kepuasan hidup menyimpulkan bahwa
hanya orang-orang yang mampu memaknai pekerjaannya
sebagai hal yang berkaitan dengan panggilan hidup atau amanah yang harus
ditunaikanlah yang mengalami kepuasan kerja dan kepuasan hidup paling
maksimal. Mereka umumnya memiliki minat yang tinggi terhadap apa yang
mereka kerjakan, dan menikmati sifat-sifat dari pekerjaannya. Itu sebabnya ada
kegembiraan dalam bekerja, dan motivasi mereka mengalir dari dalam batinnya.
Mereka menjadi orang-orang yang tidak saja produktif dan kreatif, tetapi juga
sekaligus loyal dengan tugas pekerjaannya.
Bagaimana kita memaknai pekerjaan yang kita pilih saat
ini? Adakah pekerjaan yang kita lakukan hari-hari ini sesuai dengan minat dan
potensi terbaik kita? Disamping soal uang, apakah pekerjaan kita berkesesuaian
dengan panggilan hidup atau amanah dari langit yang memang perlu ditunaikan?
Mampukah kita melihat kemuliaan dari pekerjaan kita? Setiap kita tentu memiliki
jawabannya masing-masing. Yang jelas, bila kita ingin meningkatkan kepuasan
kerja dan kepuasan hidup, maka hal terpenting yang mungkin perlu kita periksa
adalah bagaimana kita memaknai pekerjaan yang kita lakukan sehari-hari.
Memberi makna pada pekerjaan, itulah hal yang tak bisa
dilakukan oleh mesin-mesin canggih dewasa ini. Memberi makna pada pekerjaan juga
tak mampu dilakukan oleh kambing, kucing, dan anjing. Sebab kemampuan memberi
makna, adalah kemampuan khas yang dianugerahkan Sang Pencipta hanya kepada
manusia ciptaan-Nya. Dan dengan bekal kemampuan memaknai ini pula manusia di
mungkinkan untuk mengenal konsep kebahagiaan dalam hidupnya. Apakah kemampuan
ini kita kembangkan dengan gegap gempita, atau terbengkalai begitu saja sehingga
kita sering merasa terlunta kehilangan arah?
A
ndrias Harefa "WTS" (Writer,
Trainer, Speaker) siap membagikan kiat-kiatnya dalam memotivasi diri,
memotivasi tim, merekonstruksi pola kepemimpinan Anda dengan beberapa topik
seminar yang dapat Anda sesuaikan dengan kebutuhan SDM di perusahaan Anda
seperti:
Adversity
Quotient for Better Performance; Unbreakble Mentality; 4/14-Leadership;
7 Powerful Ways To
Motivate Yourself, dll.
Info selengkapnya kunjungi http://info-andriasharefa.blogspot.com
Bagikan ke teman Anda, Share & Be Happy!
|
|
Baca juga artikel lainnya dari Andrias Harefa "WTS" (Writer, Trainer, Speaker), motivator dan penulis 30 buku laris
|
|
|
| Artikel Selanjutnya : |
 |
Bukan Apa, Tapi Bagaimana Yang Penting
(Artikel Tetap) -
Selasa, 20 November 2007
|
 |
Hari Penuh Apriori
(Artikel Tetap) -
Rabu, 21 November 2007
|
 |
Jadilah Yang Paling Baik
(Artikel Tetap) -
Kamis, 22 November 2007
|
 |
Kalau Tidak Tahu
(Artikel Tetap) -
Jumat, 23 November 2007
|
 |
Kecerdikan Tiga Orang Tukang Sepatu , Sama Dengan Kecerdikan Zhuge Liang
(Artikel Tetap) -
Senin, 26 November 2007
|
|
| Baca juga artikel sebelumnya : |
 |
Pelajaran Yang Tak Pernah Aku Tamatkan
(Artikel Tetap) -
Senin, 19 November 2007
|
 |
Dicari: Pemalas
(Artikel Tetap) -
Senin, 19 November 2007
|
 |
The Secret,Law Of Attraction
(Artikel Tetap) -
Senin, 19 November 2007
|
 |
Instant Money
(Artikel Tetap) -
Jumat, 16 November 2007
|
 |
Loyalty Programs That Matters (part 2)
(Artikel Tetap) -
Kamis, 15 November 2007
|
|
|