Tukang sandal ini selalu
berhenti di depan rumahku, sehingga terpaksa lahirlah episode Sandal Buruk Rupa
bagian yang kedua. Bagian pertama telah terjadi hampir dua tahun lalu, dan
tukang sandal itu, hingga dua tahun kemudian berhenti lagi di depan rumahku.
Pada mulanya, setiap orang ini lewat dengan sepeda bututnya, dengan kotak kayu di
goncengannya dan ia berdiri termangu, aku ganti ikut termangu. Jika tukang
sandal dan sol sepatu itu menerawangkan sepinya pekerjaan, aku ganti menerawang
betapa ironi masih amat penuh di negaraku. Sementara hanya dengan menulis novel
saja JK Rowling memilki kekayaan yang konon melebih kekayaan ratunya sendiri,
Elizabeth, sementara dua anak muda Larry
Page dan Sergey Brin, dengan ketawa-ketiwi
bisa melahirkan Google dan menjadi milyader dunia, di depan rumahku masih ada
tukang jahit sandal dan sol sepatu.
Melihat profesi penjahit sandal ini aku serasa melihat
dinosaurus hidup kembali. Negaraku seperti museum besar, tempat bermacam-macam
kehidupan yang cuma layak ada di masa lalu masih hidup hingga kini. Setiap tukang
sandal itu termangu, aku juga ikut termangu, itulah kenapa kami merasa harus bertemu. Aku merasa harus beremphati pada
orang ini, syukur-syukur berbagi rezeki. Maka meskipun tak butuh jasanya, aku cari-cari
juga sandal yang bisa ia reparasi. Sekadar untuk berbagi kegembiraan.
Telah
kuceritakan sekitar dua tahun lalu itu, tentang sandalku yang bagus rupanya
tapi lemah jahitannya, yang kemudian aku bengkelkan ke tukang ini. Hasilnya malah
membuatku murka. Sandal itu menjadi kuat sekali, tetapi kemudian menjadi buruk
sekali. Tukang sandal ini aku marahi habi-habisan. Sandal itu, begitu habis
diperbaiki, malah langsung tidak berguna sama sekali. Tukang ini lalu kuberi
bermacam-macam kotbah, mulai dari kotbah manajemen sampai kotbah spriritual.
Bagaimana ia harus berkomunikasi sampai
bagaimana harus mengambil hati pelanggan jika tidak ingin bisnisnya mati.
Kemarahanku yang menggila itu cuma menandakan, bahwa sesungguhnya, niatku saat
itu memang tidak benar-benar ingin menolongnya, tetapi sekadar mengagumi kedermawananku
sendiri. Maka kekecewaanku ganda waktu
itu, kecewa pada diriku sendiri, kemudian kecewa pada tukang sandal ini.
Tetapi
dua tahun kemudian, tukang itu masih
juga berhenti di rumahku dengan ekspresi yang masih sama, masih termangu seperti
dulu. Tampangnya masih memelas saja. Aku
pun tergoda kembali untuk jatuh iba dan sok ingin berbuat mulia. Ee barangkali
ia telah berubah. Telah belajar dari kesalahannya kepadaku dulu. Inul Daratista
dan Elvi Sukaesih yang dulu berseteru saja
kini sudah duet, kenapa aku dan tukang sandal ini tidak berdamai. Maka kembali kucari-cari sandal yang
bisa untuk memberi proyek padanya. Bukan besarnya pekerjaan tetapi niat baik
berbagi kegembiraan itulah yang kupikirkan. Di mana ada niat, di situ ada alat.
Sandal buruk rupa itu, masih ada juga di rumahku. Maka lagi-lagi untuk yang
kedua kali, aku bertransaksi pada tukang ini. Aku sengaja membiarkan dia
berbuat apa saja, tak perlu tanya soal harga, toh pasti dia sudah berubah dan
aku hendak berbuat baik pula. Ia pasti sudah menjadi lebih baik dan mengerti
kebaikan orang lain, apalagi di depan orang yang pernah memarahinya dulu.
Tapi abrakadabra, setelah sandal itu rampung, ternyata tarifnya
mahal sekali. Lebih tinggi dari harga sandal ini ketika ia kubeli (karena
memang sandal murah). Mentang-mentang aku tak bertanya berapa, ia memukul harga
seenaknya. Orang ini benar-benar dengan sengaja memanfatakan keadaan. Aku
kecewa sekali. Tukang sandal ini ternyata belum berubah. Sakit sekali hatiku
ini karena merasa dizalimi. Tepai lebih besar lagi ternyata adalah kekecewaan
pada diriku sendiri. Aku ternyata juga
belum berubah juga. Masih sok dermawan tetapi sebelullnya hanya ingin mencari
kepuasan atas pujian.
Bagikan ke teman Anda, Share & Be Happy!
|
|
Baca juga artikel lainnya dari Prie GS - Budayawan dan penulis SKETSA INDONESIA
|
 |
Bahu Membahu Membela Yang Keliru
|
 |
Tembok Berlubang
|
 |
Turangga Titihan Sekaring Bawana
|
 |
Tentang Tiga Perjalanan
|
 |
Keramaian Di Kampungku
|
|
|
| Artikel Selanjutnya : |
 |
Mengapa Semua Orang Takut Hujan?
(Artikel Tetap) -
Rabu, 14 November 2007
|
 |
Pujian
(Artikel Tetap) -
Rabu, 14 November 2007
|
 |
Loyalty Programs That Matters (part 2)
(Artikel Tetap) -
Kamis, 15 November 2007
|
 |
Instant Money
(Artikel Tetap) -
Jumat, 16 November 2007
|
 |
The Secret,Law Of Attraction
(Artikel Tetap) -
Senin, 19 November 2007
|
|
| Baca juga artikel sebelumnya : |
 |
Kulkas
(Artikel Tetap) -
Senin, 12 November 2007
|
 |
Makan Enak Tapi Murah
(Artikel Tetap) -
Jumat, 09 November 2007
|
 |
Loyalty Programs That Matters (Part 1)
(Artikel Tetap) -
Kamis, 08 November 2007
|
 |
Penonton "ahli" Yang Belum "ahli"
(Artikel Tetap) -
Rabu, 07 November 2007
|
 |
Perjanjian Orang Tiong Hoa
(Artikel Tetap) -
Rabu, 07 November 2007
|
|
|