Di kampungku dahulu, bulan puasa berarti juga bulan datangnya seni berjalan keliling kampung sambil memukuli apa saja. Bermacam-macam namanya tergantung cara tiap-tiap kampung menyebutnya. Kampung ini menyebutnya sebagai kothekan. Kampung di sana sebagai lamporan. Di kampungku, lampor adalah sejenis hantu yang ditakuti anak-anak. Untuk mengusirnya, dibutuhkan aneka tetabuhan. Entah bagaimana caranya, seni mengusir setan itu berubah menjadi alat untuk penggugah makan sahur. Tapi apapun namanya, isinya sama saja, barisan anak-anak kampung dengan bermacam-macam alat penimbul kegaduhan. Bisa panci-panci rombeng, ember rusak dan besi-besi batangan.
Kini seni semacam itu sudah tak ada lagi. Peran lamporan sekarang sudah digantikan oleh pengeras masjid yang biasanya dipacak tingi-tinggi. Dulu jumlah masjid masih sedikit sekali tanpa pengeras suara lagi. Untuk mendengarkan suara bedugnya yang bertalu, leher harus diulur tinggi-tinggi karena masjid itu letaknya jauh sekali. Kini masjid di daerahku jumlahnya telah banyak sekali. Satu RW satu masjid, setiap masjid punya loudspeaker yang keras sekali. Maka seni lamporan sebagai penggugah makan sahur itu jelas tak diperlukan lagi. Apalagi setelah masjid, juga ada penggugah baru yang agresif bernama televisi.
Jadi telat makan sahur adalah risiko yang kini tak perlu ditakuti. Karena jam sekian, masjid yang di sana sudah memberi aba-aba, yang suaranya terdengar hingga kemari menimpau suara masjid kami. Sejenak kemudian, disambung lagi dengan masjid di wilayah kami sendiri ganti menimpa suara mereka. Sahut-menyahut, timpa-menimpa, asyik sekali. Padahal di masjid itu, tidak cuma ditunggui seorang penjaga saja karena relawannya bisa banyak sekali. Baru saja si Fulan masuk untuk mengingatkan tentang jam makan sahur, sebentar kemudian telah masuk lagi si Badu untuk menegaskan kapan waktu imsak tiba. Oya, para relawan itu tak harus yang tua, tapi juga yang muda, dan anak-anak boleh juga. Apalagi ada jenis anak, remaja dan orang tua, ada yang begitu gembira setiap melihat mikrofon menggeletak begitu saja.
Selain tersedia banyak pilihan gaya, juga tersedia pilihan waktu. Misalnya jika aku ingin mendengar waktu imsak yang lebih cepat, bisa mendengar masjid yang di sana, sedang yang di sini bisa agak belakangan saja. Sementara di sini masih tersedia 10 menit untuk sahur, yang di sana sudah meneriakkan bahwa waktu imsak sudah tiba. Setelahnya lalu akan terdengar azan subuh juga dengan bermacam-maca gaya. Ada yang merdu, ada yang sambil terbawa kantuknya dan ada yang begitu melengkingnya sehinga begitu menginjak nada tinggi harus keseleo pula. Tidak mengapa, karena untuk beribadah, kita memang tidak butuh menunggu hingga suara menjadi merdu.
Selain gaya azan juga tersedia bermacam-macam gaya kebersihan. Ada yang begitu longgarnya sehingga sehabis pulang mengaji, anak-anak bebas membuang sampah apa saja di got-got sekitarnya. Ada yang berupa gelas bekas air mineral, ada yang berupa plastik bekas bungkus es campur, ada pula malah lembaran jurnal keagaman yang sudah beraling fungsi menjadi burung mainan. Biasanya kesibukan mengaji kami tinggi sekali sehingga untuk menyediakan tong sampah jadi tak sempat lagi. Sementara di sini begitu longgar, di sana bisa begitu ketat. Begitu Anda masuk, lantai itu akan dicuci kembali begitu Anda pergi.
Setelah soal kebersihan juga tersedia berbagai pilihan merayakan lebaran. Untuk yang agak keburu, bisa memilih hari ini dan untuk yang sedikit sabar, bisa menunggu esok hari. Tidak mengapa, karena di kampungku, perbedaan sudah menjadi soal biasa dan kami bergembira menyambutnya. Kami tahu, semua ini demi kerinduan kami pada Tuhan. Dan Tuhan selalu tak tega pada orang-orang yang merindukan-Nya.
Bagikan ke teman Anda, Share & Be Happy!
|
|
Baca juga artikel lainnya dari Prie GS - Budayawan dan penulis SKETSA INDONESIA
|
 |
Turangga Titihan Sekaring Bawana
|
 |
Iklan Meditasi Itu
|
 |
Pelajaran Yang Tak Pernah Aku Tamatkan
|
 |
Anakku Kena Jotos
|
 |
Lidah Simon Cowell
|
|
|
| Artikel Selanjutnya : |
 |
Ide Brilian Perlu Teknik Komunikasi Untuk Menyampaikannya
(Artikel Tetap) -
Rabu, 10 Oktober 2007
|
 |
Dunia Ini Rata
(Artikel Tetap) -
Kamis, 18 Oktober 2007
|
 |
Menciptakan Kepuasan Bagi Eksekutif
(Artikel Tetap) -
Kamis, 18 Oktober 2007
|
 |
Harta Karun Untuk Semua
(Artikel Tetap) -
Jumat, 19 Oktober 2007
|
 |
Haru Lebaran
(Artikel Tetap) -
Senin, 22 Oktober 2007
|
|
| Baca juga artikel sebelumnya : |
 |
Pengaruh Buku
(Artikel Tetap) -
Selasa, 09 Oktober 2007
|
 |
12,5 Dollar
(Artikel Tetap) -
Senin, 08 Oktober 2007
|
 |
Hijaunya Rumput Tetangga
(Artikel Tetap) -
Rabu, 03 Oktober 2007
|
 |
Ibu Rumah Tangga: Lokomotif Perubahan Dunia
(Artikel Tetap) -
Senin, 01 Oktober 2007
|
 |
Komunikasi Berdasarkan Gerak - Pemikir (thinker)
(Artikel Tetap) -
Senin, 01 Oktober 2007
|
|
|