~ Menunjuk Pohon Murbey untuk Memaki Belalang
V. Bing ~ Posisi Seimbang
Jendral Kancil
Di sebuah rimba nan lebat terdapatlah sebuah kerajaan rimba yang dipimpin oleh seekor harimau putih. Sang harimau putih adalah raja tua yang sangat bijak, dia selalu adil dalam bertindak dan bijak dalam bertutur. Kerajaan rimbanya pun selalu makmur dan tentram.
Suatu ketika, datanglah sekelompok binatang dari hutan sebrang yang terbakar dan tandus berpindah dan bergabung menempati rimba sang raja. Sang raja harimau putihpun dengan tangan terbuka menerima mereka yang sedang kesusahan sebagai rakyatnya. Tanpa disadari adalah awal mula permasalahan yang dihadapi sebuah kerajaan rimba yang sedianya aman dan tentram.
Populasi pendatang semakin banyak, walau sama speciesnya namun beragam latar belakangnya. Ini menimbulkan banyak perubahan dalam tatanan dan cara berpikir masing-masing kelompok binatang, perlahan perubahan pola pikir ini menimbulkan kelompok-kelompok yang khusus, timbul kelompok Kera, Anjing, Kucing, tikus, serangga dan berbagai kelompok lainnya yang menganggap masing-masing lebih superior dan penting dibanding komunitas lain dalam kerajaan rimba sang raja harimau putih.
"Hmm, aku melihat benih-benih perpecahan setelah kedamaian dan kemakmuran meliputi kerajaanku selama berpuluh-puluh tahun." Keluh sang harimau putih gundah.
"Rajaku yang bijak, sebaiknya kita terbuka dan segera mengadakan pembicaraan dengan seluruh elemen komunitas yang ada dalam masyarakat kita, dengan begini cepat atau lambat ini akan menimbulkan perpecahan kerajaan kita tuanku." Kata Jendral Kancil, jendral penasehat sang raja.
"Dengan ijin dan restu Paduka, hamba akan memimpin pembicaraan itu dan Paduka bergerak di balik layar sebagai back upnya." Usul Jendral Kancil.
"Usulan bagus, baiklah ini adalah tongkat komando tanda kekuasaan ku. Lakukanlah segera." Sabda sang Raja.
Di suatu pagi yang cerah berkumpulah para pimpinan-pimpinan komunitas penghuni rimba. Ada 8 pimpinan dari 12 kelompok besar yang berpengaruh yang hadir yaitu, pimpinan Serangga, Unggas, Tikus, Kucing, Anjing, Kambing, Kuda , Kerbau, sementara itu pimpinan Buaya, Gajah, Reptil dan Beruang mereka tidak hadir. Mereka yang tidak hadir merasa mempunyai kekuatan untuk berdiri sendiri daripada harus bergantung dengan kelompok yang lain.
Kancil mulai memimpin rapat kelompok pimpinan rimba yang yang hanya dihadiri oleh 8 pimpinan kelompok berpengaruh. Walau tubuhnya kecil, Jendral Kancil dengan tegas menyerukan pentingnya persatuan dan kesatuan bagi kerajaan rimba yang dipimpin Sang Harimau Putih sambil mengacungkan tongkat mandat Sang Raja Harimau Putih pimpinan rimba.
Di tengah rapat, pimpinan anjing dan kucing dengan ponggahnya meninggalkan rapat seraya mengatakan "ini bukan urusan kami". Tanpa bergeming dan terpengaruh situasi, Jendral Kancil tetap meneruskan memimpin rapat dengan tegas dan berapi-api hingga rapat selesai.
Rapatpun selesai dengan kesepakatan 6 pimpinan kelompok untuk mempertahankan kerajaan rimba dipimpin oleh sang raja rimba Harimau Putih. Tiba-tiba sang Harimau Putih keluar dari balik tempat rapat dan berdiri gagah diatas batu seraya berkata, "Terima kasih saudaraku, kita harus tetap bangun dan bersatu demi kesejahteraan semua binatang di rimba raya ini". Semua pimpinan binatang yang hadirpun membungkukan kepala tanda hormat kepada sang raja rimba.
Malam itu juga Harimau Putih sang raja memerintahkan pasukan kerajaan untuk bersiap menangkap pimpinan Anjing dan Kucing yang meninggalkan rapat tanda tidak mendukung. Sang Jendral Kancil hadir tepat pada waktu sebelum perintah dijalankan dan segera berkata kepada sang raja,"Maaf Paduka Raja, bukankah kalau kita menunda sehari untuk persiapan yang lebih mantap untuk mengepung dan menangkap pimpinan Beruang untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya secara hukum akan lebih tepat."
"Apa maksudmu Jendral ?" sahut sang Raja.
"Beruang adalah salah satu simbol kekuatan di kerajaan rimba ini, namun jumlahnya tidak terlalu banyak, jadi tidaklah terlalu sulit untuk menangkap pimpinannya.
"Menangkap pimpinan Beruang dan dengan tegas meminta petanggungjawabannya secara hukum kita, maka akan menunjukkan ketegasan sikap Paduka. Ini akan memberikan pelajaran sekaligus contoh bagi yang lain atas akibat tindakan dan sikap yang tidak benar yang telah dilakukan." Tegas sang Jendral Kancil.
Sang raja mengangguk tanda setuju, jumlah pasukan ditambah dan dengan persiapan lengkap tepat saat fajar menyingsing, pasukan kerajaan sudah mengepung kelompok beruang yang masih asyik tidur. Tepat selangkah pimpinan Beruang beranjak selangkah keluar dari guanya, pasukan kerajaan telah dengan sigap menangkap dan menggiring beruang menghadap sang Raja Rimba.
Pagi hari itu seisi hutan tampak tegang, namun tidak sampai terjadi kekacauan. Tindakan kerajaan berlangsung cepat dan tegas. Sore itu juga pimpinan Reptil, Gajah, Anjing dan Kucing menghadap sang Raja Rimba dan meminta maaf serta menyatakan kesediaannya untuk mendukung sepenuhnya kesatuan kerajaan Rimba yang dipimpin Sang Raja Harimau Putih.
Ombak dan badaipun berhenti, Rimba raya menjadi tenang seperti sedia kala, semua binatang kembali bertegur sapa penuh keramahan, burungpun kembali bernyanyi riang dan kembalilah kehangatan persaudaraan, keamanan dan kesejahteraan kerajaan Rimba raya seperti sediakala.
Pembaca yang budiman,
Kucing dan Anjing memang kurang ajar, namun menangkap mereka hanya membuang waktu dan tenaga, karena mereka tidak menjadi simbol kekuatan.
Beruang adalah simbol kekuatan namun jumlahnya tidak banyak, menangkapnya relatif lebih mudah dan sekaligus memberikan efek yang telak bagi setiap pimpinan binatang yang tidak sepaham dengan keutuhan dan persatuan kerajaan rimba yang dipimpin oleh Raja Harimau Putih yang bijak.
Pertanggungjawaban Beruang sesuai dengan ketegasan hukum kerajaan Rimba menjadi contoh tindakan tegas sebagai akibat yang diterima oleh pembangkang. Ketegasan ini membuat barisan yang membangkang kembali merapatkan diri demi kesatuan Kerajaan Rimba.
Pesan moral strategi ini,
Perlu kalanya kita berpikir "out of the box" dalam framework makro.
Effektifitas dan effisiensi pada tindakan yang tepat dan tegas akan memberikan impact yang menyentuh seluruh aspek yang kita harapkan, tanpa harus mengalami pertentangan yang luas.
Kisah asli terjadi pada Dinasty Zhou era Cun Ciu, saat Qi berambisi mempersatukan China. Undangan untuk bersekutu hanya dihadiri Chen, Cai, Zhu dan Song. Negara bagian lain tidak hadir, sementara Song pun meninggalkan sekutu.
Guan Zhong, perdana mentri Qi menganjurkan raja Qi untuk menyerang Sui, negara kecil namun cukup solid. Serangan ini sekaligus menambaha aliansi Qi dan menjadi ancaman serius bagi Song.
Wei, Cao dan Song bergabung tanpa peperangan, 676 BC persatuan terbentuk dibawah kuasa Qi.
Riduan Goh ~ Wealth is Mine
1 Milyar hanya perlu nabung Rp 9 ribu.
Klik www.pamrich.com
Nantikan Strategy #27
Kura-Kura dalam Perahu (Pura-pura tidak tahu/ bodoh)
Hanya untuk :
www.andriewongso.com
Bagikan ke teman Anda, Share & Be Happy!
|
|
Baca juga artikel lainnya dari Riduan Goh ~ Wealth is Mine
|
 |
36 Ji (stratetgy) For Happy Life - Strategy Ke-24
|
 |
36 Ji (36 Stratetgy) For Happy Life #8
|
 |
36 Ji (stratetgy) For Happy Life Strategy Ke-27
|
 |
36 Ji (stratetgy) For Happy Life - Strategy Ke-10
|
 |
36 Ji (strategy) For Happy Life - Strategy Ke-30
|
|
|
| Artikel Selanjutnya : |
 |
Manajemen Diri
(Artikel Tetap) -
Senin, 17 September 2007
|
 |
Ada Rossi Di Televisi
(Artikel Tetap) -
Senin, 17 September 2007
|
 |
Waktu Ibarat Pedang
(Artikel Tetap) -
Selasa, 18 September 2007
|
 |
Tercerahkan
(Artikel Tetap) -
Kamis, 20 September 2007
|
 |
Berkah Seorang Penipu
(Artikel Tetap) -
Senin, 24 September 2007
|
|
| Baca juga artikel sebelumnya : |
 |
The Power Of Change
(Artikel Tetap) -
Kamis, 27 September 2007
|
 |
Karakter
(Artikel Tetap) -
Senin, 17 September 2007
|
 |
Refleksi Keseharian
(Artikel Tetap) -
Rabu, 12 September 2007
|
 |
Cinta, Harta Dan Sehat
(Artikel Tetap) -
Selasa, 11 September 2007
|
 |
Dua Jam Sebelum Keberangkatan
(Artikel Tetap) -
Selasa, 11 September 2007
|
|
|