Waktu Anda baca tulisan berjudul “Pengalaman Orang” saya tidak tahu apakah Anda berfikir juga tentang me too company. Itu kan istilah yang biasa digunakan orang untuk menyatakan sebuah perusahaan yang mengekor perusahaan lain.
Benar bahwa menjadi pendahulu di sebuah bidang usaha membuat kapal bisnis kita berlayar di lautan luas dan biru. Tidak ada kapal lain yang berlayar di ‘laut’ yang sama. Tetapi itu tidak akan terlalu lama. Selalu ada pihak yang berhasil meniru Anda, apapun cara yang Anda lakukan untuk membuat produk/jasa/perusahaan Anda menjadi unik.
Saya tidak menganjurkan tetapi sekaligus tidak melarang Anda untuk mendirikan me too company. Karena ketika Anda ingin berbisnis namun tidak mempunyai kompetensi dan modal yang cukup maka, me too company adalah pilihan yang pas.
Mengapa demikian?
Karena ketika sudah ada perusahaan yang berbisnis dengan menyediakan produk/jasa tertentu, maka akan lebih mudah memperhitungkan biaya-biaya dan tarif jual, bila Anda ingin masuk ke bisnis yang sama. Tambahan lagi bahwa pasar untuk produk/jasa tersebut sudah terlihat sehingga tidak perlu menduga-duga pasar sasaran.
Tetapi kan banyak pemimpin bisnis besar yang menyatakan untuk tidak me too? Oh ya, tentu saja, karena selalu ada cara bagi setiap orang untuk tidak benar-benar mengekori perusahaan yang sudah ada. Coba saja lihat bisnis media cetak, ada berapa banyak majalah atau koran yang Anda lihat setiap hari. Mungkin lebih dari seribu judul koran dan majalah yang dapat Anda lihat di negara tercinta ini. Tetapi apakah mereka sama?
Tidak. Selalu ada cara untuk membuat produk atau jasa yang Anda sediakan tetap berbeda, tetap unik dibanding produk atau jasa yang disediakan pihak lain. Bahkan semua perusahaan yang melakukan peniruan produk atau jasa yang sudah ada memang melakukan hal ini, sehingga sebenarnya me too company dalam konteks ini bisa dibilang tidak ada.
Selain itu, juga ada waralaba yang jelas-jelas harus mengikuti semua sistem yang telah dibuat oleh franchisor (saya hanya ingin menghindari kesalah pahaman saya tentang pewaralaba dan terwaralaba saja). Apakah itu berarti para franchisee dibilang me too?
Itu jelas tidak, kata Anda. Baiklah, franchisee tidak kita kategorikan sebagai pengusaha me too. Kemudian kita juga sudah sama-sama paham bahwa peniru yang melakukan modifikasi di sana-sini untuk produk atau jasa yang mereka tiru juga tidak bisa serta merta dikatakan sebagai me too company.
Jadi sekarang me too sebenarnya sudah tidak lagi perlu kita bahas. Hanya saja setiap orang yang ingin berbisnis, mengharapkan bisnis tersebut dapat multiplying wealth. Bagi siapapun yang terlibat dalam bisnis itu. Maka silahkan saja melakukan me too sejauh tidak semua hal Anda tiru, maka Anda dapat terhindar dari tuntutan hukum.
Pengaruh yang Anda rasakan, paling besar terutama pada preferensi pasar. Maka yang perlu Anda pertimbangkan adalah bahwa kualitas dan fungsi dari produk atau jasa tersebut memang memenuhi kebutuhan pasar.
Selain itu tentu saja harga. Namun jangan khawatir, karena saya yakin bahwa sebagai pihak yang melakukan benchmark (kita toh sudah sepakat untuk tidak menggunakan istilah me too) Anda bahkan sudah dapat memperhitungkan penghematan biaya dan penetapan tarif yang dapat bersaing dengan pendahulu Anda.
Mengapa demikian? Waduh, tentu saja demikian, karena sebagai pendahulu maka produk atau jasa yang Anda benchmark harus melakukan riset dan pengembangan untuk memastikan produk tersebut memang dibutuhkan dan tidak membahayakan konsumen (dalam hal apapun). Kemudian mereka juga harus melakukan survei untuk memastikan pasar sasaran; segmen dan lokasi konsumen.
Semua itu tidak lagi Anda perlukan. Karena packaging produk atau jasa tersebut Anda sudah tahu, bahkan sudah kenal betul di mana dapat diperoleh dan bagaimana membuatnya. Sehingga Anda sudah begitu yakin tentang biaya produksinya. Anda juga tidak perlu survei pasar, karena Anda hanya perlu mendistribusikan produk atau jasa Anda ke pasar sang pendahulu.
Maka tidak ada masalah bagi Anda untuk terjun langsung ke bisnis tersebut. Masalah sekarang justru pada market size dari produk atau jasa tersebut. Di sini justru masalah Anda yang paling besar.
Sebuah produk memiliki life cycle, itu juga termasuk produk atau jasa yang ingin Anda sediakan. Sementara di masa sekarang produk sejenis tidak berarti akan memiliki life cycle yang sama. Sehingga Anda harus benar-benar memperhatikan apakah produk atau jasa yang akan Anda benchmark masih mendapatkan market size yang besar di pasar.
Mengapa market size? Tidak ada ukuran lain?
Saya yakin ada, tetapi ini yang paling mudah. Karena Anda bisa cari di outlet-outlet yang menjual produk sejenis dengan yang akan Anda jual. Bila Anda ingin berbisnis jasa maka Anda bisa lihat di tempat-tempat pemanfaatan jasa tersebut.
Berarti harus keliling wilayah? Benar. Anda jauh lebih mudah untuk keliling ke wilayah yang akan jadi pasar sasaran Anda. Mengandalkan data memang lebih akurat, tetapi lebih mahal. Kemudian ada satu hal yang perlu Anda pertimbangkan tentang data kompetitor: benarkah data tersebut?
Mari kita berandai-andai. Seberapa banyak informasi tentang performansi perusahaan Anda akan dibagikan kepada orang-orang di luar perusahaan? Tidak terlalu banyak, kan? Bahkan beberapa dari Anda akan mengatakan: tidak satupun, nanti akan diketahui kompetitor.
Nah, ketika Anda saja tidak ingin membagi informasi tentang performansi Anda, bagaimana ada orang yang tahu jumlah konsumen atau pelanggan Anda. (Kita tidak sedang bicara tentang Telkomsel yang sering mengiklankan jumlah penggunanya, ya).
Lalu bila tidak ada orang yang tahu jumlah konsumen Anda, maka bagaimana bisa ada yang menginformasikan jumlah konsumen masing-masing perusahaan di bisnis tertentu. Nah, sudah terbayang sekarang? Seberapa akurat sebenarnya market size yang dihasilkan informasi tersebut.
Sekarang kita sudah tahu market size. Informasi berikut yang perlu Anda ketahui jelas adalah pertumbuhan market size tersebut dari periode ke periode. Hari menjadi minggu, minggu menjadi bulan, bulan menjadi tahun. Ketika market size itu malah berkurang, maka berarti Anda harus mencari bisnis lain untuk dijalankan, seberapa menarikpun bisnis tersebut bagi Anda, atau seberapa mudapun usia bisnis tersebut.
Oh ya? Ya, sekarang tidak ada lagi formula waktu tertentu tentang satu jenis bisnis. Sebuah bisnis bisa saja mature atau bahkan decline dengan cepat.
Jadi, bila Anda belum punya kemampuan atau pengetahuan yang cukup untuk membuat sebuah bisnis yang unik, maka me too (dengan modifikasi) saja. Atau sekalian beli waralaba bila Anda tidak punya cukup keahlian untuk memodifikasi. Tetapi market size tetap Anda perlu perhatikan.
ardian.syam@gmail.com – Medan – Juni 2007
Bagikan ke teman Anda, Share & Be Happy!
|
|
Baca juga artikel lainnya dari Ardian Syam ( Daftar Artikel Selengkapnya )
|
 |
Cangkir
|
 |
Benarkah Ada Keberuntungan?
|
 |
Cut, Clarity, Color, Carat
|
 |
Makan Enak Tapi Murah
|
 |
Dicari: Pemalas
|
|
|
| Artikel Selanjutnya : |
 |
Sherina Dan Indonesia
(Artikel Tetap) -
Selasa, 07 Agustus 2007
|
 |
Kehilangan
(Artikel Tetap) -
Rabu, 08 Agustus 2007
|
 |
Why Me??
(Artikel Tetap) -
Kamis, 09 Agustus 2007
|
 |
Keuntungan Mendapat Gangguan Pendengaran
(Artikel Tetap) -
Kamis, 09 Agustus 2007
|
 |
Have You Ever Ordered Chaos?
(Artikel Tetap) -
Jumat, 10 Agustus 2007
|
|
| Baca juga artikel sebelumnya : |
 |
The Power Of Change
(Artikel Tetap) -
Kamis, 27 September 2007
|
 |
Karakter
(Artikel Tetap) -
Senin, 17 September 2007
|
 |
Indonesia Next
(Artikel Tetap) -
Senin, 03 September 2007
|
 |
Kesadaran Pada Kewajiban Sukses
(Artikel Tetap) -
Rabu, 29 Agustus 2007
|
 |
36 Ji (stratetgy) For Happy Life Strategy Ke-23
(Artikel Tetap) -
Jumat, 03 Agustus 2007
|
|
|