Kita semua tentu tidak asing dengan ketiga kata berikut ini : tua, sakit, dan mati. Saking seringnya kita melihat orang tua, orang sakit dan orang mati sehingga seakan ketiga peristiwa ini tidak membekas apa-apa di saat kita menjumpainya. Padahal dalam ketiga hal tersebut, ada kenyataan yang seharusnya membuka lebar mata kita, bahwa kitapun dapat mengalaminya pula. Akan tetapi itulah realita dari kebanyakan orang, bahwa kenyataan yang seharusnya menjulang tinggi di depan mata tersebut, seakan terlupakan.
Kitapun mungkin saat ini mengalami menjadi seorang tua yang mulai berumur lanjut. Dalam perjalanan hidup kita, sangat sering kita mengalami sakit, mulai dari yang ringan sampai berat. Akan tetapi tentu kita masih hidup dan belum mati dalam kehidupan ini, walaupun cepat atau lambat setiap manusia yang pernah dilahirkan, pasti akan mengalami kematian. Jadi sampai kehidupan kita saat ini, paling tidak satu atau dua dari ketiga hal tersebut, kita juga mengalami dan merasakannya.
Dua dari tiga ataupun kesemuanya, baik kita mengalaminya langsung maupun menyaksikan orang lain menghadapinya, sebenarnya merupakan tiga ’utusan khusus’ untuk mengingatkan kita bahwa setiap manusia tak akan luput darinya. Memang ada orang yang kurang beruntung sehingga sebelum mencapai usia tua sudah harus meninggalkan dunia ini.
Setelah kita menyadari kenyataan ini, bagaimana sikap bijaksana dalam menyikapi ketiganya ?.
Sewaktu kita sakit atau menyaksikan orang lain sakit, ingatlah bahwa sepanjang kehidupan kita akan banyak sakit yang kita derita. Ingatan ini dapat menjadi pendorong bagi kita untuk menjaga kesehatan diri sebaik-baiknya sehingga sakit akan menjadi kata yang jarang mampir kepada diri kita. Ingatan akan sakit ini juga dapat digunakan untuk memacu kita dalam berbuat lebih banyak kebaikan bagi diri sendiri, keluarga dan orang lain selagi kita sehat dan mampu melakukannya.
Orang-orang tua dan lanjut usia yang kita jumpai seharusnya menjadi cambuk bagi kita untuk mengisi waktu kita sebaik-baiknya dengan hal-hal yang berguna, dan menjadi motivasi bagi kita untuk menyebarkan pengaruh baik dan positif kepada lingkungan kita seluas mungkin, selagi usia kita masih memungkinkan. Sebelum kita memasuki usia senja, mulailah dari sekarang membuat persiapan sedikit demi sedikit baik dari sisi finansial (dana pensiun misalnya), maupun non finansial, seperti membesarkan dan mendidik anak sebaik-baiknya sehingga menjadi orang-orang yang berbakti dan mengingat orang tuanya.
Pada waktu kita mendengar atau melayat sanak keluarga kita, tetangga, teman, kenalan dan orang-orang lainnya yang meninggal, seharusnya bukan hanya duka cita dan sedih hati yang kita tampilkan, seyogyanya juga memperkuat tekad kita untuk memanfaatkan dan mengisi sisa kehidupan, yang kita sendiri tidak tahu berapa lama, dengan lebih banyak kebaikan dan kedamaian bagi sesama. Cobalah untuk sejenak merenung sewaktu kita dihadapkan pada kenyataan akan kematian tersebut, ingin sebagai apa dan seperti apa kita dilepas sewaktu diri kita yang meninggal. Tentunya kita semua ingin dikenang sebagai orang dengan hal-hal baik yang lebih banyak dibanding yang kurang baik. Kita ingin meninggalkan jejak positif pada orang-orang yang kita kenal dan harus kita tinggalkan sewaktu tiba saatnya nanti. Sekaranglah waktunya untuk mulai merealisasikan tujuan akhir ini. Mulailah untuk merajut dan menanam benih-benih positif dalam diri orang-orang yang kita kenal maupun akan kita kenal sepanjang sisa kehidupan kita.
Karena itu, sebelum sakit mendera, sebelum usia tua menjelang, dan sebelum kematian menjemput kita, marilah pergunakan diri dan segenap kemampuan kita untuk membawa lebih banyak kebaikan bagi diri sendiri, keluarga, dan lingkungan kita.
Selamat memulai menjadi contoh yang baik dengan mempraktekkan kesadaran akan kenyataan dari tiga ’utusan khusus’ di atas dan menjadikan ketiganya motivasi guna memperbaiki diri dan mengisi sisa kehidupan kita dengan sebaik-baiknya !
Selamat memulai menjadi ’manusia baru’ !
Penulis : Toni Yoyo (toni_yoyo@yahoo.com)
Bagikan ke teman Anda, Share & Be Happy!
|
|
Baca juga artikel lainnya dari Toni Yoyo, STP, MM, MT
|
 |
Di-Mentor-I Dan Me-Mentor-I
|
 |
Tak Bisa Kembali
|
 |
Bodoh Teriak Bodoh
|
 |
Polisi Tidur Kehidupan
|
 |
Refleksi Keseharian
|
|
|
| Artikel Selanjutnya : |
 |
Daun Terakhir Yang Tidak Pernah Gugur
(Artikel Tetap) -
Senin, 16 Juli 2007
|
 |
Komunikasi Berdasarkan Ekspresi - Pendorong (driver)
(Artikel Tetap) -
Kamis, 19 Juli 2007
|
 |
Berikan Makna Pada Kekalahan
(Artikel Tetap) -
Jumat, 20 Juli 2007
|
 |
Tak Bisa Kembali
(Artikel Tetap) -
Senin, 23 Juli 2007
|
 |
Meditasiku Yang Gagal
(Artikel Tetap) -
Senin, 23 Juli 2007
|
|
| Baca juga artikel sebelumnya : |
 |
The Power Of Change
(Artikel Tetap) -
Kamis, 27 September 2007
|
 |
Karakter
(Artikel Tetap) -
Senin, 17 September 2007
|
 |
Indonesia Next
(Artikel Tetap) -
Senin, 03 September 2007
|
 |
Kesadaran Pada Kewajiban Sukses
(Artikel Tetap) -
Rabu, 29 Agustus 2007
|
 |
Hidup Mengalir Seperti Air
(Artikel Tetap) -
Senin, 23 Juli 2007
|
|
|