Hentikan Berandal Lumpuhkan Rajanya
III. Gong ~ Posisi Serang
Jas Tua dan Gitar Butut
Alunan merdu gitar dan biola sayup-sayup terdengar dari balik jendela ruang latihan sekolah tinggi musik di suatu kota kecil. Sekelompok murid sedang giat berlatih untuk sebuah festival seni di awal musim bunga Tulip. Dalam kelompok musik tersebut terlihat seorang pemuda yang sangat menonjol mendentingkan gitarnya walau sudah tampak kusam. Dari pakaian dan gitar yang dipakainya terlihat pemuda ini bukan sosok yang berada, Giat nama pemuda ini. Kemampuannya dalam memetik dawai gitar bukanlah bakat dari langit, tetapi merupakan hasil latihan keras tanpa kenal putus asa dengan gitar tua pemberian almarhum ayahnya.
Giat memang menjadi sosok yang mempesona saat memainkan gitarnya, kepiawaianya mempesona seorang gadis cantik sekolah itu, Bunga namanya. Bunga memang seindah namanya, dia adalah kembang sekolah yang selalu menjadi pusat perhatian para kumbang muda di sekolahnya, termasuk diantaranya adalah si Gaya, seorang pemuda tampan anak pemilik hotel mewah di kota itu. Tampan memang sempurna, dia ganteng, berambut perlente, selalu berjas rapi, anak orang kaya dan juga jago bermain piano. Tampaknya dialah yang layak untuk mencuri hati Bunga.
Pesta musim tulip sangatlah menarik, diadakan di tengah-tengah hamparan lautan tulip warna-warni. Nuansa romatis dan sentimentil menjadikan moment ini sangatlah tepat untuk mengungkapkan kasih dengan menunjukkan kebolehan para kumbang kepada tambatan hati mereka. Gaya memang sudah sejak awal sesumbar akan mendapatkan hati si Bunga, dan akan menjadikan moment festival seni itu untuk menunjukkan kebolehanya kepada Bunga. Rencana sombongnya telah disusun rapi, dia menghamburkan banyak uang untuk memesan sebuah jas putih model terbaru dari seorang designer terkemuka di ibu kota, dia juga akan menempatkan sebuah grand piano baru berwarna putih di tengah hamparan bunga tulip untuk konsernya nanti.
Nampaknya perseteruan yang tidak seimbang antara Giat yang sederhana dengan Gaya yang kaya dan keren. Namun itulah kehidupan, memang tidak selalu berjalan ideal antara si kaya dan si miskin. Di setiap kesempatan Gaya selalu sesumbar dengan rencana besarnya, serta Gaya membayar sejumlah orang untuk menyebarkan brosur tentang penampilannya yang spektakuler itu. Sedikit banyak gertakannya ini telah membuat hati Giat sedikit menciut.
Pesta musim tulip telah tiba, setiap pemuda tampak sangat antusias dan tidak sabar untuk menampilkan kebolehannya di depat para pujaan hati. Tibalah pada babak terakhir yaitu penampilan Gaya dan Giat yang sangat ditunggu-tunggu oleh setiap orang. Giat mendapatkan kesempatan tampil dulu, Giat naik ke panggung dengan jas tua warisan sang ayah dan membawa gitar bututnya. Giat, penampilannya memang ditunggu, tetapi tidak ada tepuk tangan yang menyambut kenaikan Giat ke atas panggung.
Dengan penampilan yang lugu dan sederhana dentingan demi dentingan mengalun merdu dari gitarnya, detail petikan senar klasik yang berdenting penuh ekspresi perasaan diiringi lantunan suara merdu suara Giat telah membius penonton festival berikut juri. Giat seolah menyatu menjadi satu spirit dalam musik dan lagu, sungguh alunan musik yang membuai para penonton. Penontonpun berdiri dan gemuruh tepuk tangan mengiringi selesainya dua lagu yang dibawakan si Giat.
Saatnya Gaya naik ke atas panggung, sosok tinggi tegap berjas rapi putih bersih berdiri dan membungkuk hormat di tepi grand piano putih berkilau. Semua orang bertepuk tangan, bahkan para gadispun histeris dibuatnya. Memang pantas, karena dia memang tampan, bergaya, kaya dan berbakat. Dari tepuk tangan sambutan saja sudah menunjukkan betapa keberpihakan penonton kepada si Gaya. Dentingan demi dentingan piano mulai mengalun merdu. Tepuk tangan penontonpun tidak ada hentinya mengiringi intro lagu si Gaya. Lagu pertama dibawakan oleh si Gaya dengan bagus, ditunjang dengan penampilan dan fasilitas yang wah, penampilan Gaya cukup membuat penonton terpana.
Lagu keduapun dimulai, tiba-tiba ’.............tesssssss’ Setitik noda kecil jatuh dari langit terpercik di atas lengan kanan si Gaya, mungkin kotoran burung yang terbawa angin. Awalnya Gaya sedikit kaget, namun berusaha tetap tenang meneruskan penampilan ke lagu keduanya. Namun terlihat raut muka tampan yang tadinya tersenyum simpul berubah menjadi kecut dan cemas. Bait demi bait lagu dialunkan, namun terdengar nada yang mengambang dan tanpa ekpresi mengalun begitu saja hingga akhir lagu.
Penampilan kedua Gaya yang mengecewakan ini telah menghantar Giat menjadi pemenang utama dalam festival musim tulip, hati Bungapun semakin tertambat dalam kepada Giat yang tampil sempurna menyatu dengan lagu dan musiknya walau dengan perlengkapan seadanya.
Pembaca yang budiman,
Gaya memang selalu tampil rapi dan perlente, Gaya memang berbakat dalam musik, namun dia lebih percaya bahwa ketampanan, perlente dan kekayaannya merupakan modal yang lebih besar untuk mencapai apa yang diharapkan.
Secara keseluruhan Gaya mempunyai syarat yang tampil sebagai pemenang utama, namun rupanya setitik noda coklat kecil yang terpercik dari langit telah meruntuhkan kepercayaan dirinya dan akhirnya menghancurkan misinya untuk meraih hati si Bunga. Dia merasa tidak lagi perlente dan ganteng dan keren ,walau sebenarnya dia tetap ganteng dan keren walau dengan setitik noda kecil di lengan jasnya.
Pesan moral strategi ini.
Sang naga laut nan perkasa akan menjadi cacing lemah yang kepanasan bila bertarung diatas gurun pasir. Musuh akan kehilangan arah dan misinya bila ternyata apa yang dirasakan sebagai sumber motivasi sebagai modal utamanya telah hilang. Ini saat terbaik untuk memenangkan pertandingan.
Sejatinya Giat tidak memenangkan festival, hanya Gaya yang kalah melawan dirinya sendiri. Akibat persepsi negatif yang meruntuhkan sumber motivasinya. Giat hanya bermodalkan upaya dan ekspresi sepenuh hati.
Kisah asli terjadi pada Dinasty Tang ( 756 AD), saat pemberontakan besar Yin Ziqi dengan 100.000 tentara menguasai Suiyang. Zang Xun menumpas pemberontakan, namun tidak dapat memadamkan pemberontakan. Yin Ziqi pimpinan pemberontak tidak dapat ditangkap.
Operasi penumpasan kedua Zang Xun menggunakan ranting sebagai anak panah. Yin Ziqi langsung menampakkan diri dan memimpin sendiri penyerangan, karena mengira Zang Xun kehabisan anak panah. Sebilah anak panah dari kayu tebaik tepat mendarat di mata kiri Yin Ziqi, langsung meruntuhkan moral Ziqi dan pemberontakanpun dapat dipadamkan.
Riduan Goh ~ Wealth is Mine
Klik www.pamrich.com ~ Jaminan Masa Depan Keluarga
Nantikan Strategy #19.
Bagikan ke teman Anda, Share & Be Happy!
|
|
Baca juga artikel lainnya dari Riduan Goh ~ Wealth is Mine
|
 |
36 Ji (stratetgy) For Happy Life - Strategy Ke-17
|
 |
36 Ji (stratetgy) For Happy Life - Strategy Ke-12
|
 |
36 Ji (stratetgy) For Happy Life - Strategy Ke-13
|
 |
36 Ji (stratetgy) For Happy Life - Strategy Ke-11
|
 |
36 Ji (stratetgy) For Happy Life - Strategy Ke-16
|
|
|
| Artikel Selanjutnya : |
 |
Komunikasi Berdasarkan Golongan Darah
(Artikel Tetap) -
Senin, 18 Desember 2006
|
 |
Hujan
(Artikel Tetap) -
Minggu, 21 Januari 2007
|
 |
Hukum Newton Ketiga
(Artikel Tetap) -
Kamis, 08 Februari 2007
|
 |
Di-Mentor-I Dan Me-Mentor-I
(Artikel Tetap) -
Jumat, 22 Juni 2007
|
 |
Dengan Hati
(Artikel Tetap) -
Senin, 25 Juni 2007
|
|
| Baca juga artikel sebelumnya : |
 |
Dua Belas Ekor Babi
(Artikel Tetap) -
Senin, 18 Juni 2007
|
 |
36 Ji (stratetgy) For Happy Life - Strategy Ke-17
(Artikel Tetap) -
Kamis, 14 Juni 2007
|
 |
Komunikasi Berdasarkan Pola Laku - Connector (Penghubung)
(Artikel Tetap) -
Rabu, 13 Juni 2007
|
 |
Buah Pisang Yang Hilang
(Artikel Tetap) -
Selasa, 12 Juni 2007
|
 |
Berinvestasi Kebajikan
(Artikel Tetap) -
Selasa, 12 Juni 2007
|
|
|