Bagikan Umpan, Dapatkan Ikan
III. Gong ~ Posisi Serang
CETUSAN GELORA JIWA
Tersebutlah dua orang sahabat yang mempunyai bakat yang sama sejak kecil, mereka adalah Si Cerah dan Si Matang. Sejak kecil mereka suka sekali menggambar. Keduanya anak nelayan miskin, walau mereka serba kekurangan dan tidak dapat membeli peralatan gambar, tapi tidak memupuskan kemauan keras mereka untuk menggambar. Melukis mereka dapat lakukan dengan sarana apapun, mulai dari coretan di atas pasir, goresan batu kapur di atas papan hingga goresan arang di atas batu. Mereka terus berlatih di manapun dengan sarana apapun, namun tentunya bukan merupakan corat-coret sembarangan yang merusak pemandangan.
Latihan demi latihan, tahun demi tahun Cerah dan Matang dengan ketekunannya berkembang menjadi pelukis yang handal. Dengan kerja kerasnya akhirnya mereka dapat mengumpulkan uang bersama dan membeli peralatan lukis yang memadai, di sinilah dimulainya kari mereka sebagai pelukis sebenarnya.
Cerah dan Matang mulai dengan segenap hati melukis karya pertama mereka tentang keindahan musim semi. Satu bulan dilalui dengan kesungguhan, keduanya masing-masing menghasilkan satu lukisan yang luar biasa indah tentang musim semi. Keduanya dapat mereka jual dengan harga yang lumayan untuk ukuran mereka, sehingga pada akhirnya mereka mampu membeli peralatan lukis lengkap untuk mereka pribadi. Di sinilah ambisi pribadi untuk tampil lebih baik dari sang sahabat mulai timbul.
Di bulan kedua, masing-masing bekerja keras untuk melukis sebaik-baiknya dan target mereka bukan satu melainkan dua lukisan. Benar saja, pada akhir bulan ke dua Cerah menyelesaikan dua lukisan, demikian pula si Matang. Kedua lukisan merekapun itu laku dijual dengan harga yang bagus, karena memang mereka menghasilkan lukisan yang sangat indah.
Cerah dan Matang mulai dikenal sebagai pelukis muda yang berbakat, namanya mulai tergores di jajaran seniman. Keduanyapun mulai berancang-ancang untuk membuat kejutan yang lebih besar di bulan ketiga. Cerah dan Matang mulai saling memandang sebagai pesaing yang harus dijatuhkan, bukan sebagai sahabat lagi. Di akhir bulan ketiga, keduanya masing-masing menghasilkan tiga lukisan yang sangat indah dan baik Cerah dan Matang menjualnya dengan harga yang sangat bagus. Sesungguhnya tiga lukisan yang berkualitas dalam satu bulan merupakan kerja keras dan pengorbanan yang luar biasa untuk pelukis muda seperti mereka, namun rupanya determinasi untuk saling mengalahkan membuat mereka mampu untuk melakukan itu.
Si Matang mulai berpikir, sesungguhnya untuk menghasilkan lukisan yang indah itu dibutuhkan hati yang tulus dan damai, sehingga dapat melahirkan kualitas bukan kuantitas. ”Tidak ada gunanya menganggap si Cerah sebagai lawan, toh sekarang kehidupanku sudah cukup baik” pikir Si Matang. Di akhir bulan ke empat sungguh luar biasa, Cerah tetap menghasilkan tiga lukisan, sementara Matang hanya satu lukisan. Tiga lukisan Cerah yang indah dan Satu lukisan Matang yang indah berbobot setiap bulan. Cerah semakin kaya, mengejar ketenaran dan melupakan persahabatannya, bahkan memandang si Matang tidak pantas sebagai pesaingnya.
Selanjutnya bulan demi bulan dilalui dengan tiga lukisan si Cerah yang semakin berambisi menjadi terbaik dan satu lukisan si Matang, hingga suatu saat di awal perayaan tahun baru musim semi diadakanlah pameran lukisan di istana Raja. Semua pelukis diundang untuk memamerkan lukisannya di ruang utama kerajaan. Ini merupakan pameran lukisan yang terakbar yang pernah terjadi. Seratus lukisan yang indah dari puluhan pelukis terkenal seantero negeri tergantung di istana raja. Tentunya Cerah ambil bagian dengan tiga lukisan terbarunya dengan yakin akan tampil sebagai pelukis terbaik. Sungguh sangat tidak disangka-sangka, si Matang yang biasanya hanya satu lukisan per bulan, kali ini ambil bagian dengan empat lukisan dengan tema ”Semi-Panas-Gugur-Dingin”.
Empat lukisan dengan tema ”Semi-Panas-Gugur-Dingin” dari si Matang, sungguh merupakan masterpiece yang spektakuler dan berkualitas tinggi. Sangat luar biasa, karena dibalik keindahan masing-masing dari keempat lukisan itu, keempatnya juga merupakan satu kesatuan tema lukisan yang tidak dapat dipisahkan, baik keindahanya maupun spirit yang tertanam di dalamnya. Lukisan ”Semi-Panas-Gugur-Dingin” akhirnya tidak diperjual belikan, namun dipersembahkan kepada sang raja dan oleh sang raja di tempatkan dalam gedung utama kerajaan sebagai koleksi pusaka negara. Sang raju juga menganugrahkan jabatan bangsawan di bidang seni kepada si Matang.
Sungguh penghargaan yang luar biasa dan memang merupakan mahakarya yang luar biasa luapan gelora emosi jiwa yang dicetuskan dengan segenap kesungguhan dan ketulusan sang pelukis dalam berkarya. Disinilah si Cerah telak terhempas karirnya, selain harapannya menjadi yang terbaik kandas oleh sahabatnya yang direndahkan selama ini, Cerah juga sakit-sakitan karena tiga lukisan indah per bulan merupakan pekerjaan berat yang luar biasa berat membuatnya kurang tidur dan kesehatannya melemah.
Pembaca yang budiman,
Cerah memforsir dirinya untuk mengejar ambisi menjadi yang terbaik hingga meninggalkan faktor-faktor lain yang lebih esensi dalam kehidupan.
Keputusan si Matang membuat satu lukisan per bulan telah mendorong ambisi ketamakan Cerah menjadi lebih tak terkendali, seolah sang sahabat telah menyerah bertanding dengannya. Sementara itu walau satu lukisan per bulan Matang tetap presisten dengan kualitas karyanya yang terlahir dari ketulusan dan totalitas luapan jiwanya dalam berkarya yang akhirnya menghantarnya menuju kemuliaan yang sejati.
Pesan moral strategi ini.
Menjadi yang terbaik diantara pesaing memang harus, ini adalah motivasi kehidupan. Tetapi menjadikan hasil yang terbaik dengan mengkontribusikan apa yang terbaik yang kita punyai, walaupun perlahan namun pasti akan menghantar kita kepada kemuliaan yang sejati.
Kisah asli terjadi pada Dinasty Han (220 AD), saat Pang Juan dari Wei menyerang Han, sementara Sun Bin dari Qi datang menyelamatkan Han. Sun Bin menyalakan 100.000 lentera di malam 1, kemudian turun menjadi 50.000 lentera di malam berikutnya dan menjadi 30.000 lentera di malam selanjutnya.
Pang Juan menganggap Sun Bin turun moral dan segera mengejar pasukan Sun Bin hingga ke bukit Mailin. Disinilah Pang Juan beserta pasukannya dihabisi oleh 10.000 pasukan panah Sun Bin dari atas bukit. Pang Juan tewas tepat disekitar pohon yang ditulis Sun Bin sebelumnya ”Di sinilah Jendral Pang Juan akan gugur”
Riduan Goh ~ Wealth is Mine
www.pamrich.com
Nantikan Strategy #18.
Bagikan ke teman Anda, Share & Be Happy!
|
|
Baca juga artikel lainnya dari Riduan Goh ~ Wealth is Mine
|
 |
36 Ji (stratetgy) For Happy Life - Strategy Ke - 20
|
 |
36 Ji (stratetgy) For Happy Life - Strategy Ke-19
|
 |
36 Ji (36 Stratetgy) For Happy Life #8
|
 |
36 Ji (stratetgy) For Happy Life - Strategy Ke-28
|
 |
36 Ji (strategy) For Happy Life - Strategy Ke-29
|
|
|
| Artikel Selanjutnya : |
 |
Komunikasi Berdasarkan Golongan Darah
(Artikel Tetap) -
Senin, 18 Desember 2006
|
 |
Hujan
(Artikel Tetap) -
Minggu, 21 Januari 2007
|
 |
Hukum Newton Ketiga
(Artikel Tetap) -
Kamis, 08 Februari 2007
|
 |
Dua Belas Ekor Babi
(Artikel Tetap) -
Senin, 18 Juni 2007
|
 |
36 Ji (stratetgy) For Happy Life - Strategy Ke-18
(Artikel Tetap) -
Kamis, 21 Juni 2007
|
|
| Baca juga artikel sebelumnya : |
 |
Komunikasi Berdasarkan Pola Laku - Connector (Penghubung)
(Artikel Tetap) -
Rabu, 13 Juni 2007
|
 |
Buah Pisang Yang Hilang
(Artikel Tetap) -
Selasa, 12 Juni 2007
|
 |
Berinvestasi Kebajikan
(Artikel Tetap) -
Selasa, 12 Juni 2007
|
 |
Pemuka Agama Dan Pembuat Sabun
(Artikel Tetap) -
Senin, 11 Juni 2007
|
 |
Hanya Lara Yang Tahu
(Artikel Tetap) -
Jumat, 08 Juni 2007
|
|
|