Sudah saya ceritakan di kolom terdahulu betapa makin hari, sakit kepala makin sering menghampiri. Seluruh dugaanpenyebabnya juga sudah saya utarakan. Bisa karena usia, pola makan dan pola berolah raga, hingga mutu kelakuan saya sebagai manusia. Tetapi karena semua kecurigaan itu memiliki risiko keliru meksipun juga memiliki kemungkinanbenar, saya sepakat untuk meringkasnya saja: bahwa yang paling dominandari itusemua ialah karena saya kurang istirahat dan terlalubanyak berpikir dan bekerja.
Setelahsaya timbang-timbang penyebab inilah yang paling saya suka karena memang sebabitulah yang paling banyaksaya rasakan. Makin tua, bukannya makin tenang, tetapi makin tegang itulah hidup saya. Karena jika karier saya gagal, kegagalan itu sepenuhnya adalah tanggung jawab saya. Padahal karier ini pula yang kepalang menjadi tumpuhan tidakcuma keluarga tetapi juga seluruh mata rantai sosial saya. Karena hidup memang tidak cuma keluarga tapi juga saudara, tetangga, orang lain dan kalau perlu bangsa dannegara, kalau mungkin adalah jagat seisinya.
Jadi menjadisemakin tua sejatinyahanya untuk makin mandiri dan sendiri. Menjadi semakin terkenal seseorang sejatinya hanya agar lebih mudah diketahui baik buruknya kelakuan. Menjadi makinkuatsejatinya hanya untuk agar seseorang berkesempatan diberi lebih banyak beban. Jadi dari sudut bertambahnya kesulitan, tidak ada yang enak dari makin menjadi tua, terkenal dan kuat itu. Seluruhnya hanya berisi tambahan pesoalan karena itulah hidup menjadi makin penuh beban.
Percayalah saya: bahkan jika perusahaan Anda membesar dan karyawanAnda makin bertambah, bukan kesuksesan yang pertama kali Anda bayangkan, tetapi beban. Hidup menjadi penuh frasa ‘'apa jadinya'' di kepala. Apa jadinya jika bahan baku naik, apa jadinya jika keuntungan menurun, apa jadinya jika karyawan nunggakbayaran, apa jadinya jika perusahaan tak berjalan, apa jadinya jika karyawan terpaksa dirumahkan.... Makin membesar dan menguat kedudukan seseorang makin memanjang daftar ‘'apa jadinya'' itu menghuni hidup kita.
Di dalam ukurannya, hidup saya itu juga mulai dipenuhi rangkaian ‘'apa jadinya'' . Apa jadinya jika anak-anak gagal mendapat pendidikan yang baik. Apa jadinya jika rumah kreditan ini gagal saya lunasi. Apa jadinya jika kekuatan saya cuma melunasi rumah yang sepetak ini. Padahal negara ini penuh tanah, gunung, ngaraidan lembah yang amat luas. Tapi apa jadinya jika di tengah keluasan itu kemampuan saya cuma menempati sebilik kecil tanah itupun harus dengan cicilan.
Tegang, itulah kemudian pekerjaan saya. Maka kerja keras sekuat yang saya bisa itulah akibatnya. Bahkan di dalam tidur pun otak saya bekerja. Mata saya terpejam tetapi jiwa saya meronta-ronta. Rampung pekerjaansatu, bukan rasa lega yangsaya peroleh, tetapi langsung bayangan pekerjaan berikutnya. Bahkan pekerjaan yang mestinya masih nun jauh di sana, hari ini sudah saya angkut ke sini untuk memenuhi kepala.
Akibatnya bisa ditebak. Tidur saya menjadi ajang kelelahan baru. Miring ke sini, miring ke sana. Di dalam setiap kemiringan hanya berisi gelisah semata. Mimpi buruk datang bergantian. Di menit ini mimpi ketemu pocongan, di menit berikutnya si pocongan sudah berubah menjadi kuntilanak kelaparan. Horor seluruhnya! Jaditidur saya itu bukan untuk menjadi tempat istirahat, tetapi malahsebagai pusat kelelahan. Karenarumitnya persoalan, apa boleh buat, kolom ini harus bersambung lagi edisi depan!
Prie GS
Bagikan ke teman Anda, Share & Be Happy!
|
|
Baca juga artikel lainnya dari Prie GS
|
 |
Hujan-hujanan (2)
|
 |
Keramaian Di Kampungku
|
 |
Hasrat Penumpukan
|
 |
Anakku Kena Jotos
|
 |
Menomorsatukan Sekolah
|
|
|
| Artikel Selanjutnya : |
 |
Siapakah Penentu Sukses Anda?
(Artikel Tetap) -
Jumat, 20 Februari 2009
|
 |
To Be A Great Best Leader
(Artikel Tetap) -
Sabtu, 21 Februari 2009
|
 |
Melihat Dari Sisi Yang Lain
(Artikel Tetap) -
Rabu, 25 Februari 2009
|
 |
Mensyukuri Perbedaan
(Artikel Tetap) -
Kamis, 26 Februari 2009
|
 |
Become A Good Driver
(Artikel Tetap) -
Jumat, 27 Februari 2009
|
|
| Baca juga artikel sebelumnya : |
 |
Hadirkan Keagungan Tuhan Dalam Kerja
(Artikel Tetap) -
Rabu, 18 Februari 2009
|
 |
Pikat Pelanggan Dengan Reflective Listening
(Artikel Tetap) -
Selasa, 17Februari 2009
|
 |
Kayu Basah
(Artikel Tetap) -
Senin, 16 Februari 2009
|
 |
Catatan Kecil Di Hari Valentine
(Artikel Tetap) -
Sabtu, 14 Februari 2009
|
 |
Cermin
(Artikel Tetap) -
Jumat, 13 Februari 2009
|
|
|