"Kemungkinan operasi jantung ini
berhasil hanya 2 persen," begitu kata seorang bapak dalam sebuah percakapan
telepon. Secara tidak sengaja saya mendengar kalimat bernada penuh kesedihan
bercampur kekhawatiran itu ketika saya sedang berada di ruang tunggu ICU Rumah
Sakit Harapan Kita, Jakarta. Saat itu saya sedang menunggu anak pertama kami (Priscilla
Natali Winarto) yang baru saja menjalani operasi jantung.
Teringat pengalaman kami beberapa
hari sebelum operasi, ketika sang dokter berkata, "Operasi jantung yang akan
dijalani anak bapak sebenarnya termasuk operasi jantung paling ringan namun
sayangnya anak bapak terlalu kecil untuk dioperasi." Maklum, anak kami akan
menjalani operasi saat usianya baru 41 hari dengan berat badan hanya 2,1
kilogram. Ia terlahir prematur (34 minggu) dengan berat hanya 1,6 kilogram.
Ya, beberapa hari setelah kelahiran,
Priscilla didiagnosa menderita kelainan saluran
pembuluh darah di dekat jantungnya. Dalam dunia medis, penyakit ini dikenal dengan istilah
persistent
ductus arteriousus (PDA). Saluran tersebut seharusnya menutup
secara otomatis ketika bayi lahir ke dunia ini, maksimal dalam waktu dua kali
dua puluh empat jam. Lihat betapa besar keagungan Tuhan! Bukankah kita nyaris
tidak pernah tahu kalau saluran itu ada, apalagi mendoakan agar saluran itu
tertutup? Ketika berada di dalam kandungan ibu saluran itu memang terbuka karena berfungsi untuk mengalirkan
makanan dan oksigen dari ibu kepada sang janin. Sebagai catatan penting, untuk
menutup saluran itu diperlukan biaya puluhan juta rupiah.
Ketika saya tanyakan kepada dokter
berapa persen tingkat keberhasilan operasi anak kami, ia menjawab, "Sekitar 90!
Namun ada kemungkinan lain yakni kalau tubuhnya tidak tahan terhadap bius, ia
akan terus koma atau organ dalam tubuhnya yang masih begitu kecil mengalami
infeksi setelah operasi."
Saat itu kami pun mengalami
kegelisahan luar biasa. Sudah tidak terhitung berapa banyak air mata yang
tumpah dan berapa banyak doa yang selalu kami panjatkan. Dengan penuh kasih dan
harapan, saya memandangi wajah istri saya sembari berkata, "Dalam nama Tuhan
saya akan menandatangi surat persetujuan operasi ini." Istri saya mengangguk
perlahan sebagai tanda ia setuju.
Pengalaman kami dan bapak seperti
yang saya sebutkan di awal cerita ini adalah sebuah pengalaman tentang
pentingnya harapan dalam hidup. Mentor saya, Dr. John C. Maxwell berujar
, "Where there is no hope in the future,
there is no power in the present." Ya, jika tidak ada harapan akan hari
esok yang lebih baik, tentu tidak akan ada kekuatan untuk hari ini.
Saya pernah membaca sebuah penelitian yang mengatakan
seseorang dapat bertahan hidup selama empat puluh hari tanpa makan, empat hari
tanpa minum, empat menit tanpa oksigen namun hanya empat detik tanpa harapan.
Begitu orang kehilangan harapan, ia cenderung berpikir segalanya telah berakhir
sehingga ia pun memutuskan untuk bunuh diri. Angka empat detik barangkali
diambil dari lamanya waktu yang dibutuhkan untuk meloncat dari sebuah gedung
tinggi hingga sampai ke tanah.
Harapanlah yang membuat orang berani mengambil risiko dan
melangkah maju menuju hari esok yang lebih baik. "Jika dokter berani memutuskan
untuk melakukan operasi itu berarti mereka masih memiliki harapan," kata
seorang sahabat. Saya yakin itu benar, seberapa kecil kemungkinan operasi itu
berhasil
toh harapan tetap ada.
Puji Tuhan, operasi anak kami
berhasil dan saat artikel ini ditulis, ia telah berusia dua tahun empat bulan.
Ia tumbuh menjadi anak yang manis, lincah, aktif, ramah dan mau diajar. Anda
bisa membaca kesaksian mengenai Priscilla secara lebih utuh dalam buku saya
yang berjudul
The Power of Hope (Elex
Media Komputindo, 2007).
Pengalaman mengajarkan kami betapa
pentingnya harapan dalam keseharian hidup manusia. Saat artikel ini saya susun,
anak kedua kami (Timothy Stanley Winarto) yang baru berusia 11 hari sedang
dirawat di rumah sakit karena kuning
(hiperbilirubin).
Sudah empat hari ia disinar di ruang perawatan bayi RS Borromeus, Bandung.
Sebelum diopname di rumah sakit, Timothy sebenarnya sudah sempat pulang ke
rumah selama dua hari namun keadaan berkata lain, ia harus kembali ke rumah
sakit. Siang tadi, saat kami menjenguk, keadaannya sudah jauh membaik.
Kemungkinan dalam beberapa hari ke depan, ia sudah boleh berkumpul kembali bersama
kami di rumah.
Ayah kandung saya pun saat ini
sedang dalam tahap pengobatan yang intensif lantaran berbagai macam penyakit,
seperti pembengkakan jantung, penyempitan pembuluh darah otak, kolesterol
tinggi, hipertensi dan batu empedu.
Hidup memang selalu naik-turun.
Kadang di atas, kadang di bawah. Ketika sedang di atas, jangan pernah mabuk dan
lupa diri. Namun ketika sedang di bawah, jangan pernah putus harapan. Harapan
bagi saya, ibarat bahan bakar sebuah kendaraan bermotor. Sebagus apa pun
kendaraan itu, jika ia tidak memiliki bahan bakar atau kehabisan bahan bakar
tentu ia tidak akan dapat berfungsi, apalagi melaju dengan kecepatan tinggi.
Martin Luther King pernah berkata,
"When
you lose hope you die!"
Seorang teman pernah bertanya kepada
saya, apakah ada perbedaan antara orang yang optimis dan orang yang punya
harapan? Saya ingin mengutip pernyataan Jonathan Sacks untuk menjawab
pertanyaan ini,
"Optimism is the belief
that things will get better. Hope if the faith that, together, we can make
things better. Optimism is a passive virtue; hope, an active one. It takes no
courage to be optimist, but it takes a great deal of courage to have hope."
Dari pernyataan tersebut, kita bisa
melihat bahwa ada perbedaan besar antara orang yang optimis yang orang yang
berpengharapan? Orang yang berpengharapan memiliki keberanian untuk bertindak.
Ia tidak menunggu keadaan membaik namun ia mau melakukan sesuatu agar keadaan
membaik.
* Paulus
Winarto adalah founder lembaga pelatihan non-profit HOT MINISTRY (www.hotministry.org). Ia merupakan pemegang
2 Rekor Indonesia dari Museum Rekor Indonesia (MURI) yakni sebagai pembicara
seminar yang pertama kali berbicara dalam seminar di angkasa dan penulis buku
yang pertama kali bukunya diluncurkan di angkasa. Sejumlah bukunya masuk dalam
kategori best seller (al: First Step to be An Entrepreneur, Reach Your Maximum
Potential, Be Strong, The Power of HOPE dan Melejit di Usia Muda). Ia banyak menimba ilmu kepemimpinan dari guru kepemimpinan internasional,
Dr. John C Maxwell. Guru marketing Hermawan Kartajaya menjuluki Paulus sebagai
"manusia kompleks". Paulus dapat dihubungi melalui e-mail: pwinarto@cbn.net.id
atau www.pauluswinarto.com.
Bagikan ke teman Anda, Share & Be Happy!
|
|
Baca juga artikel lainnya dari Paulus Winarto
|
 |
Kritik
|
 |
Change for Growth (bagian 1)
|
 |
Antara Iman, Harapan Dan Pemaksaan Kehendak
|
 |
Change for Growth (bagian 2)
|
 |
Hope Will Keep Us Alive (01)
|
|
|
| Artikel Selanjutnya : |
 |
Cermin
(Artikel Tetap) -
Jumat, 13 Februari 2009
|
 |
Catatan Kecil Di Hari Valentine
(Artikel Tetap) -
Sabtu, 14 Februari 2009
|
 |
Kayu Basah
(Artikel Tetap) -
Senin, 16 Februari 2009
|
 |
Pikat Pelanggan Dengan Reflective Listening
(Artikel Tetap) -
Selasa, 17Februari 2009
|
 |
Hadirkan Keagungan Tuhan Dalam Kerja
(Artikel Tetap) -
Rabu, 18 Februari 2009
|
|
| Baca juga artikel sebelumnya : |
 |
Antara Anugrah Dan Bencana
(Artikel Tetap) -
Kamis, 12 Februari 2009
|
 |
Hujan-hujanan (1)
(Artikel Tetap) -
Rabu, 11 Februari 2009
|
 |
Macgyver
(Artikel Tetap) -
Selasa, 10Februari 2009
|
 |
How To Handle The Conflicts
(Artikel Tetap) -
Sabtu, 07 Februari 2009
|
 |
Talenta Dan Karakter Pribadi
(Artikel Tetap) -
Kamis, 05 Februari 2009
|
|
|