Seorang sahabat
mencurahkan kegelisahan, kegalauan dan ketidakmengertiannya tentang kebijakan
sunset policy yang didapatkannya dari
berbagai media informasi yang ada belakangan ini. Inilah yang membuat sobat itu
bingung. Berita sebelumnya berkata bahwa para pemilik NPWP baru akan
mendapatkan pembebasan dari membayar fiskal ke luar negeri di awal tahun 2009.
Sebulan setelahnya, informasi berubah menjadi: hanya mereka yang memiliki NPWP
satu bulan di depan sebelum keberangkatannyalah yang berhak menikmati bebasnya
fiskal dimaksud. Seminggu menjelang tahun baru, keluar lagi informasi bahwa
mereka yang punya NPWP bisa langsung mencicipi nikmatnya sajian otoritas
perpajakan nasional berupa bebas fiskal.
Sungguh sebuah komunikasi koruptif
yang terjadi seenaknya tanpa memikirkan kepentingan publik. Jika sudah
berkuasa, lupa bahwa ada tangan-tangan yang mengusungnya (baca: rakyat) yang
harus dilayani dengan hati, jujur dan bertanggung jawab. Sinyalemen Lord Acton
bahwa
‘power tend to corrupt' bukan
merupakan isapan jempol belaka jika melihat kejadian di atas.
Lain soal
sunset policy, lain pula hal kelangkaan
BBM. Beberapa daerah mengalami ketiadaan bahan bakar kebutuhan dasar penduduk itu.
Usut punya usut, pengusaha SPBU tidak berani memesan atau menambah stok BBM-nya
karena simpang siurnya sikap pemerintah soal ini. Bisa dibayangkan, bagaimana gaya komunikasi macam ini
bisa diterapkan oleh pemerintah yang notabene memiliki pakar ekonomi yang konon
sering mendapat apresiasi global itu. Informasi yang tidak tegas dan jelas,
menyebabkan rakyat yang harus menerima akibatnya. Bukankah ini sebuah
komunikasi koruptif yang menyebabkan masyarakat luas terpuruk semakin jauh
dalam samudera penderitaannya? Bagaimana ini bisa tidak segera disikapi? Betapa
komunikasi yang tersampaikan kepada masyarakat menjadi rumor yang tidak jelas
juntrungannya. Padahal komunikasi itu adalah menyampaikan apa yang ada di
pikiran si penutur untuk mengurangi rasa
ketidakpastian sebagaimana dikatakan oleh
Barnlund (1970).
Gaya komunikasi seperti itu tentu tidak salah
secara substansif, namun ia menjadi keliru dan mengalami deviasi destinasi jika
dilakoni secara impulsif - dilakukan kapan saja sesuka hati sang pemberi pesan.
Padahal tujuan komunikasi dibuat
pasti untuk mendapatkan kesepahaman sang penerima pesan yang muaranya akan
diterjemahkan ke dalam aksi nyata sesuai butir-butir keputusan itu.
Ada baiknya, pemerintah dan
semua korporasi yang kerap bersentuhan dengan pelayanan publik
menginternalisasikan teori komunikasi yang sangat legendaris dari salah satu teoritikus komunikasi massa yang pertama dan paling terkenal Harold
Lasswell. Dalam artikel klasiknya (1948), ia mengemukakan model komunikasi yang
sederhana namun sarat hasil yakni:
who says what in which channel to whom
and with what effect - "siapa" "mengatakan "apa" "dengan
saluran apa", "kepada siapa" , dan "dengan akibat apa" atau "hasil apa".
Seluruh elemen persyaratan sebuah
komunikasi yang baik ada disana. Jika kita kembali ke persoalan
sunset
policy dengan menggunakan teori ini, yang mungkin kurang dalam prosedur
komunikasi publik disana adalah masalah ‘hasil' yang ingin dicapai.
Hasil yang akan dicapai mengalami pasang
surut bagaikan fluktuasi harga saham di pasar bursa. Pada satu periode yang
begitu singkat, sasaran yang akan dicapai sudah mengalami perubahan yang tidak
jelas. Sangat impulsif sifatnya. Padahal komunikasi awal sudah terlanjur
diproses dalam mental setiap pendengarnya untuk selanjutnya diintegrasikan
dalam diri. Belum pun terjadi proses
adjustment - penyesuaian -
policy
itu sudah berubah lagi. Bukankah konstruksi informasi yang sudah mulai
mengembrio untuk menjadi bayi itu harus runtuh dan memberikan kemalangan buat pemiliknya?
Pemahaman pembuat kebijakan rasanya perlu ditambah dengan rasa empati sebelum
sebuah kebijakan disosialisasikan. Karena itu, tidak berlebihan jika akhirnya
komunikasi jenis ini dimasukkan dalam kategori komunikasi koruptif.
Komunikasi
jenis ini memiliki kecenderungan menyebarkan berita-berita yang kelihatannya
baik untuk memberikan efek positif sesaat. Selanjutnya, sebagian elemen
penyokong informasi akan dipreteli satu demi satu yang akhirnya tidak lagi
membuat bangunan informasi yang utuh. Informasi macam ini akan menjadi sebuah ide
koruptif yang tidak komprehensif lagi sebagaimana niat awal sang penggagasnya. Rakyat mengalami
kebingungan kolektif atas insentif positif yang sejatinya baik dan mulia itu.
Untuk itu, alangkah baiknya jika setiap korporasi mulai memikirkan pentingnya
proses sebuah komunikasi sebelum disampaikan kepada publik. Karena komunikasi
itu adalah sebuah proses transaksi informasi menurut
Barnlund (1970).
Informasi dijual, pendengar membeli. Jika informasi berubah-ubah,
pembeli tidak akan percaya. Jika sudah demikian, biaya besar pembuatan media
promosi dan sosialisasi tidak mungkin berbanding lurus dengan proyeksi target
dan destinasi yang akan dicapai. Pertimbangan yang baik dalam hal itu tentu akan mencegah akibat komunikasi
koruptif yang pasti sangat merugikan dan merendahkan derajat korporasi.
Pelatih & Penulis Buku-buku Komunikasi
Email: ponijan@central.net.id
Bagikan ke teman Anda, Share & Be Happy!
|
|
Baca juga artikel lainnya dari Ponijan Liaw ( Daftar Artikel Selengkapnya )
|
 |
Komunikasi Berdasarkan Golongan Darah
|
 |
Komunikasi Berdasarkan Sistem Representasional - Auditory
|
 |
Kesan Pertama Begitu Menentukan
|
 |
Makhluk Tuhan Paling Laris
|
 |
Ide Brilian Perlu Teknik Komunikasi Untuk Menyampaikannya
|
|
|
| Artikel Selanjutnya : |
 |
Heroic Leadership I
(Artikel Tetap) -
Kamis, 22 Januari 2009
|
 |
Moment Of Change
(Artikel Tetap) -
Jumat, 23 Januari 2009
|
 |
Anak Kucing (1)
(Artikel Tetap) -
Selasa, 27 Januari 2009
|
 |
Iklim Kejujuran
(Artikel Tetap) -
Kamis, 29 Januari 2009
|
 |
How To Become A Touching Heart Leader Using Hypnosis Techniques?
(Artikel Tetap) -
Jumat, 30 Januari 2009
|
|
| Baca juga artikel sebelumnya : |
 |
Gagasan
(Artikel Tetap) -
Senin, 19 Januari 2009
|
 |
Ramalan Yang Selalu Berhasil
(Artikel Tetap) -
Sabtu, 17 Januari 2009
|
 |
Nasi Kucing (2)
(Artikel Tetap) -
Jumat, 16 Januari 2009
|
 |
Maafkan Saya
(Artikel Tetap) -
Kamis, 15 Januari 2009
|
 |
Fenomena Alam Bawah Sadar Membengkak
(Artikel Tetap) -
Rabu, 14 Januari 2009
|
|
|