Sejak anak saya meminta makan
malam dengan menu nasi kucing yang telah saya ceritakan di kolom pertama itu,
saya makin sering mengulang menu makan malam dengan cara yang sama dengan nasi
kucing rasa yang sama: sambal ikan teri. Sudah nasinya nasi kucing, ikannya
ikan teri pula. Dua nama yang sama-sama mewakili pihak yang kecil, murah, kalah
dan pinggiran. Tetapi sambil memelototi sekepal nasi dan sejumput teri itu,
saya menatap betapa luar biasa peran si kecil dan si kalah itu bagi si besar dan si menang. Sulit membayangkan perang gerilya
bisa kita peragakan jika cuma mengandalkan tentara yang serba cekak peralatan.
Perang gerilya menjadi perang yang sulit
dikalahkan karena ada rakyat di belakangnya. Dan rakyat yang menyembuyikan
pejuang, menyokongnya dengan makanan apa saja itu, adalah pihak yang papa.
Kolom nasi kucing seri
pertama ini pun ditanggapi oleh kalangan yang luas tetapi sejatinya mereka
berasal dari kesempitain yang sama: sama-sama pernah dibesarkan oleh nasi murah
ini ketika mereka masih miskin dan merintis jalan. Jadi, dalam diri nasi kucing,
tersimpan kasih saying untuk si lemah, si miksin, si kekurangan dan kepada
mereka yang tengah berjuang. Ini sungguh peran yang cuma bisa dijalankan oleh
para spiritualis tingkat tinggi. Karena hanya kelas semacam itu yang sanggup menjadi relawan bagi penderita kusta
yang bertugas nun jauh di pedalaman sana.
Itulah ruhani yang menghuni para aktivis yang dengan gembira masuk keluar hutan
bukan cuma untuk merawat lingkungan tetapi untuk memintarkan anak-anak
terbelakang. Itulah ruhani para guru yang berjibaku mengajar anak-anak sekolah di pelosok desa, di lokasi-lokasi banjir
dan kawasan bencana.
Walau ruhani seperti itu sebetulnya tidak mengenal ruang
dan waktu. Ia boleh tinggal di mana saja, tak cuma di pedalaman dan pelosok-pelosok
desa. Ia juga boleh berada di kota
dan di pusat-pusat keremaian termasuk pada para petugas pitstop di sebuah
balapan. Televisi hanya mengenal para pembalap, tetapi tidak pernah menggubris
siapa pengisi bahan bakar, siapa pengangkat roda dan pemasang mur dan bautnya.
Di tengah kesibukan balapan yang gemuruh dan gegap gempita, terselip
peran-peran sepi yang begitu mendasarnya. Cukup sebagai pemutar sekrup saja
itupun dengan tubuh berbalut jaket dan wajah tertutup helm. Publik dan media massa hanya butuh pekerjaannya
tetapi tak perlu mengenal wajahnya.
Itulah peran para pemasang lampu dan penata setting di sebuah lokasi syuting.
Mereka berpeluh sejak pagi hingga pagi lagi cuma untuk mempersiapkan kemunculan
bintang utama yang berakting sekejap saja. Sekejap, dengan bayaran paling
tinggi ditambah bonus paling terkenal pula. Dan peran para pekerja itu nanti cukup
dicantumkan di dalam
credit tittle di
akhir ceirta dengan kecepatan yang mata telah kesulitan menatapnya. Itulah kenapa,
ketika para pekerja ini butuh menunjukkan prestasinya, tak ada jalan lain kecuali
mengabarkannya ke kanan dan ke kiri bahwa: ‘'Lhaa itu sinar terang yang menerangi
pipi bintang film itu adalah lampu hasil rakitanku!''
Tapi pasti jarang sekali para pekerja di jalan sunyi yang
menempuh keputusan seperti itu. Biasanya, mereka lebih suka menyimpan
seluruhnya di dalam hati. Baik kesedihan, baik kegembiraan. Bahwa
mereka sering sedih, itu pasti. Tetapi bahwa mereka juga sering bergembira itu
juga pasti. Tetapi dalam sedih, mereka
tak butuh pembelaan. Di dalam gembira mereka
tak meminta tepuk tangan.
Perasaan seperti itulah yang muncul setiap saya makan nasi
kucing. Inilah nasi yang menemani para mahasiswa miskin, para buruh pabrik,
para penganggur dan anak-anak sekolah
yang cekak uang saku. Inilah nasi yang menemani siapa saja yang sedang menempuh
jalan sunyi. Itulah kenapa, meskipun murah harganya, sengsara bentuknya, tetapi
sama sekali tak kehilangan kelezatan saat memakannya. Inilah mungkin nasi yang mendapat
rasa hormat langsung dari jagat raya!
Prie GS
Bagikan ke teman Anda, Share & Be Happy!
|
|
Baca juga artikel lainnya dari Prie GS
|
 |
Ada Langit Di Rumahku
|
 |
Perginya Imam Kami
|
 |
Pelajaran Yang Tak Pernah Aku Tamatkan
|
 |
Persainganku Dengan Bae Young Jun
|
 |
Menomorsatukan Sekolah
|
|
|
| Artikel Selanjutnya : |
 |
Ramalan Yang Selalu Berhasil
(Artikel Tetap) -
Sabtu, 17 Januari 2009
|
 |
Gagasan
(Artikel Tetap) -
Senin, 19 Januari 2009
|
 |
Akibat Komunikasi Koruptif
(Artikel Tetap) -
Selasa, 20 Januari 2009
|
 |
Heroic Leadership I
(Artikel Tetap) -
Kamis, 22 Januari 2009
|
 |
Moment Of Change
(Artikel Tetap) -
Jumat, 23 Januari 2009
|
|
| Baca juga artikel sebelumnya : |
 |
Maafkan Saya
(Artikel Tetap) -
Kamis, 15 Januari 2009
|
 |
Fenomena Alam Bawah Sadar Membengkak
(Artikel Tetap) -
Rabu, 14 Januari 2009
|
 |
How To Start A Business
(Artikel Tetap) -
Selasa, 13 Januari 2009
|
 |
2009 : The Year Of Opportunity
(Artikel Tetap) -
Senin, 12 Januari 2009
|
 |
AGAR MIMPI MENJADI NYATA
(Artikel Tetap) -
Jumat, 09 Januari 2009
|
|
|