Salah satu kegembiraan saya
adalah menemani istri menjemput anak berangkat dan pulang ke sekolah. Melepas
anak dengan gunungan tas di punggung, berlari menuju kelas dengan semangat penuh, serasa melepas energi murni yang
akan membersihkan udara di jagat raya yang mulai penuh polusi. Sekecil itu punggungnya,
tetapi sepenuh itu buku-bukunya. Bukan cuma soal bahwa buku itu pasti berat
sekali, tetapi lebih berat lagi pasti jika
harus menguasai seluruh isi buku itu.
Berat yang pertama adalah berat dalam pengertian sesungguhnya. Makin tebal buku-buku itu dari
hari ke hari dan makin seenaknya buku itu bergati-ganti. Pendidikan kita seperti
sengaja enggan berhemat walaupun ia sesugguhnya
bisa berhemat. Inilah yang mendatangkan berat kedua: yakni beratnya anak-anak
untuk menjadi pintar di seluruh pelajaran yang begitu banyaknya. Anak-anak yang
sudah lelah itupun harus dijejali
bermacam-macam kursus. Ada
belajar cepat, berpikir, menghitung cepat, dan malah ada yang mulai diajari kaya
dengan cepat. Kaki sekecil itu, dengan punggung seberat itu tetapi diminta berlari
secepat itu. Aduh... ini ingin cepat, atau sekadar sedang buru-buru!
Tetapi anak saya yang berlari menuju kelas itu, adalah
anak-anak yang gembira sepenuhnya dan terbebas dari prasangka. Ia menatap
dengan tulus alam sekitarnya. Ia pasti mengira sekolahnya seluruhnya berisi
kegembiraan. Ia mengira menuntut ilmu adalah sepenuhnya berisi kemuliaan tak
peduli ada jenis ilmu yang diajarkan secara keliru ruang, keliru waktu dan keliru
niat, sehingga ada jenis orang yang sudah
berilmu tapi tetap saja jadi penganguran.
Maka setiap melepas anak saya masuk kelas, perasaan saya
mengalami metamorfosis yang aneh: dari cemas atas banyaknya bahaya di sekitar hidup kita, menjadi iri pada sebuah reaksi
yang begitu rileks di hadapan kekeliruan dan bahaya. Kesadaran atas bahaya
menjadi begini meninggi di hadapan mental yang telah penuh spekulasi seperti
saya ini. Sementara anak-anak itu, sekecil dan selemah itu, bukan cuma begitu
tenang di hadapan risiko tetapi juga bahagia menatap apa saja. Tetapi apakah anak-anak
itu benar-benar lemah karena kekecilan dan kelemahannya? Tidak. Mereka ternyata
menjadi sangat kuat karena kelemahannya.
Anak-anak yang lemah itu ternyata adalah pihak yang dikelilingi
oleh manajemen resiko berlapis-lapis jutsru karena kelemahannya. Sejak janin, ia telah berada
di tempat paling solid: rahim. Dan kita tahu kecanggihan rahim, semua yang
dibutuhkan hidup ada di dalamnya. Supermarket paling lengkap pun kalah lengkap dibanding
tempat ini.
Begitu bayi lahir,
ia akan langsung mendapat perlindungan
sedemikian rupa dari orang tuanya. Lihatlah bayi-bayi modern itu: untuk
vaksinasi saja jenisnya bertambah terus dari waktu ke waktu. Dan lihatlah
perkembangan atensi atas kesehatan itu: ia tak cuma menyangkut perawatan organ-organ
primer seperti jantung, ginjal dan paru-paru tetapi juga sampai ke gigi dan
kuku. Lihatlah teknologi pergigian itu sekarang. Gigi maju sedikit saja ia harus tarik rantai ke
belakang. Sunguh tak terbayangkan di masa kecil saya dulu, jika akan ada kelak manusia
meringis dengan rantai melilit seperti itu!
Dan semua jenis pelayanan yang luar biasa ini tersedia justru
karena pihak yang dilayani itu adalah pribadi yang tidak tahu dan tak berdaya. Kepada yang tahu lagi berdaya, setelah itu mulai bergaya pula,
jengkelah hati kita. Itulah kenapa pihak yang tak berdaya selalu menarik-narik hati
kita untuk berderma.
Jadi, setiap mengantar sekolah itu rasanya asyik. Apalagi
saya juga berkesempatan melihat teman-teman istri yang cantik-cantik. ‘'Itu
temanmu yang rambutnya menggetarkan hati,'' kata saya pada istri yang terbiasa
tersenyum, entah sabar, entah sakit hati, tetapi itulah reaksi yang saya sukai.
Seperti anak saya yang lemah tapi gembira di hadapan bahaya, senyum istri yang
tampak menyerah itu justru memenjara saya dalam kasih sayangnya!
Prie GS
Bagikan ke teman Anda, Share & Be Happy!
|
|
Baca juga artikel lainnya dari Prie GS
|
 |
Badut Ulang Tahun
|
 |
Saya dan Bakat Saya
|
 |
Liburan Hati
|
 |
Ular Phyton Kekenyangan
|
 |
Dua Jam Sebelum Keberangkatan
|
|
|
| Artikel Selanjutnya : |
 |
Krisis? Terus Kenapa?
(Artikel Tetap) -
Rabu, 31 Desember 2008
|
 |
Harapan Dan Tantangan Di Tahun Baru 2009
(Artikel Tetap) -
Kamis, 01 Januari 2009
|
 |
Renungan Akhir Tahun
(Artikel Tetap) -
Jumat, 02 Januari 2009
|
 |
Krisis Global Vs Krisis Pribadi
(Artikel Tetap) -
Senin, 05 Januari 2009
|
 |
Ulat Bulu
(Artikel Tetap) -
Selasa, 06 Januari 2009
|
|
| Baca juga artikel sebelumnya : |
 |
Do More To Achieve More
(Artikel Tetap) -
Senin, 22 Desember 2008
|
 |
Buanglah Sampah Pada Tempatnya
(Artikel Tetap) -
Rabu, 17 Desember 2008
|
 |
Perahu Dalam Botol
(Artikel Tetap) -
Senin, 15 Desember 2008
|
 |
Melompati Rintangan-rintangan Anda
(Artikel Tetap) -
Jumat, 12 Desember 2008
|
 |
Apa Yang Akan Saya Pikirkan Hari Ini
(Artikel Tetap) -
Kamis, 11 Desember 2008
|
|
|