Tanpa sengaja kami berdua -saya dan istri saya- sama-sama terpaku dengan pemandangan sebuah mobil mewah di depan kami. Pagi hari mendung itu kami melaju dari Yogya, pulang menuju Solo. Sebuah mobil Mercy keluaran terbaru berjalan tepat di depan dengan kecepatan sedang -mungkin sekitar enampuluh-tujuhpuluh kilo perjam-. Saya pun bisa mengikuti laju mobil itu di belakang, sehingga cukup lama mobil itu ada di depan mobil saya.
"..kapan ya kita mampu beli yang begituan..", seloroh saya kepada istri saya. Bukan sebuah pertanyaan serius sih, hanya sekedar memecah keheningan daripada sepi.
"..ah,.. ndak usah beli, kalaupun suatu saat kita mampu,.. nggak usah beli!!" sergah istri saya.
"..lho..?!"
“.. kalo cuman butuh mobil sih, nggak perlu kaya' begituan.., buat apa,.. mau gaya?.. , biar pakai mercy juga,.. bangun tidur pasti jelek mukanya..” jawab istri saya. Kami pun tertawa bersama. Mendengar jawaban istri saya ini, untuk kesekian kalinya saya harus bersyukur. Tuhan telah menganugrahi saya seorang istri yang bisa melihat secara jelas antara 'kebutuhan' dan 'keinginan'.
Beberapa saat kami berhenti bercanda tercekat ketika melihat apa yang dilakukan penumpang mercy di depan. Dengan ringan mereka membuka kaca jendela dan membuang ke jalan begitu saja sampah daun pisang pembungkus makanan dan beberapa plastik. Ya! Dibuang begitu saja ke jalan! Tanpa mengurangi laju kendaraan. Membuat saya dan istri saya saling pandang. Terlihat wajah keheranan di raut muka istri saya.
“..kenapa..? .. apa orang kalau mau kaya, harus sopan dulu..?” kata saya. “..mungkin dia lupa membawa tempat sampah di mobilnya...” lanjut saya sekenanya.
Memang itulah yang ada di sekitar kita saat ini. Penampilan seseorang belum tentu identik dengan tingkat kedewasaannya dalam menghargai kehidupan ini. Perilaku seseorang dalam membuang sampah sebenarnya adalah contoh sederhana sampai dimana dia menghargai kehidupan. Pernah saya lihat, ada sebuah iklan di televisi yang mengajak kita semua untuk mendidik diri kita dengan perilaku sederhana, yaitu membuang sampah pada tempatnya. Atau pun beberapa kali saya lihat ada baliho-baliho yang juga mengajak kita untuk membuang sampah pada tempatnya. Saya khawatir hal itu, sampai sekarang pun ternyata hanya masih sebatas jargon-jargon yang dipandang sebelah mata oleh kita.
Dan perilaku kita sebagai masyarakat yang maish juga kurang peduli dan menghargai kehidupan itu, ternyata tidak mengenal kelompok sosial ekonomi. Seorang kaya -dilihat dari mewah mobilnya- ternyata juga membuang sembarangan. Seorang berpunya, dari kacamata saya, seharusnyalah mereka memiliki lebih banyak potensi dan kesempatan untuk selalu memberdayakan dirinya, memperluas wawasannya, punyalebih banyak kesempatan untuk merenung, memiliki kemampuan untuk membeli makanan bernutrisi sehat yang bisa membangun otak yang sehat, sehingga bisa berpikiran secara sehat.
Atau entahlah, mungkin si kaya dalam mobil mewah itu berpikir bahwa sah-sah saja mereka membuang sampah di jalan, '..toh, pasti ada yang bertugas membersihkannya', mungkin begitu pikirnya.
“Buanglah sampah pada tempatnya”, bisa jadi sebuah kata-kata klasik, yang saya yakin hampir semua orang pernah mendengar nasihat ini. Tapi mengapa masih juga ada yang membuang sampah tidak pada tempatnya? Sebuah slogan seperti itu memang terkadang dilema. Kalau kita terlalu sering mengucapkannya, orang akan cenderung terbiasa mendengar, dan bisa jadi nasihat itu hanya akan menjadi slogan klise tanpa makna. Tapi kalau jarang disampaikan, namanya manusia, akan cenderung untuk lupa akan pentingnya 'membuang sampah pada tempatnya'. Dan semua kata-kata itu seperti tak ada lagi artinya.
Kalimat 'buanglah sampah pada tempatnya'-pun tiba-tiba saja tergumam dalam hati saat saya melihat kejadian di atas. Saya pun berusaha untuk tidak bosan menuangkannya dalam artikel ini.
"..nggak usah beli mercy, pa..., bisa-bisa kita jadi buang sampah sembarangan.." kembali istri saya berkata. Saya hanya tersenyum kecut. Sindiran untuk kita semua.
16 Desember 2008
Pitoyo Amrih
www.pitoyo.com
Bersama Memberdayakan Diri dan Keluarga
Bagikan ke teman Anda, Share & Be Happy!
|
|
Baca juga artikel lainnya dari Pitoyo Amrih ( Daftar Artikel Selengkapnya )
|
 |
Buanglah Sampah Pada Tempatnya
|
 |
Mensyukuri Perbedaan
|
 |
Semangat Menghargai Apa Yang Kita Punya
|
 |
Berbagi Alam Dengan Anak Cucu bagian II
|
 |
Krisis Listrik Bukan Kiamat
|
|
|
| Artikel Selanjutnya : |
 |
Do More To Achieve More
(Artikel Tetap) -
Senin, 22 Desember 2008
|
 |
Teman Istriku Cantik Sekali
(Artikel Tetap) -
Rabu, 24 Desember 2008
|
 |
Krisis? Terus Kenapa?
(Artikel Tetap) -
Rabu, 31 Desember 2008
|
 |
Harapan Dan Tantangan Di Tahun Baru 2009
(Artikel Tetap) -
Kamis, 01 Januari 2009
|
 |
Renungan Akhir Tahun
(Artikel Tetap) -
Jumat, 02 Januari 2009
|
|
| Baca juga artikel sebelumnya : |
 |
Perahu Dalam Botol
(Artikel Tetap) -
Senin, 15 Desember 2008
|
 |
Melompati Rintangan-rintangan Anda
(Artikel Tetap) -
Jumat, 12 Desember 2008
|
 |
Apa Yang Akan Saya Pikirkan Hari Ini
(Artikel Tetap) -
Kamis, 11 Desember 2008
|
 |
Brrrrrr...
(Artikel Tetap) -
Selasa, 09 Desember 2008
|
 |
Kampung Suka Vs Kampung Duka
(Artikel Tetap) -
Senin, 08 Desember 2008
|
|
|