Suatu ketika hiduplah seorang guru spiritual yang
sangat dihormat oleh orang banyak. Setiap hari, sekelompok orang berdiri di
depan pintu rumahnya untuk mencari nasihat, mengharapkan penyembuhan atau
berkat darinya. Setiap kali sang guru berbicara, orang banyak itu akan
mematuhinya. Namun di antara para pendengarnya itu ada seorang yang selalu
mencari kesempatan untuk menentang sang guru. Ia senantiasa mencari kelemahan
sang guru dan menertawakan segala kekurangan sang guru. Murid-murid sang guru
sangat tidak suka akan sikap orang itu. Mereka menganggapnya sebagai jelmaan
setan.
Suatu hari "setan" itu jatuh sakit dan meninggal.
Semua orang merasa lega. Secara lahiriah mereka kelihatan berdukacita, namun di
dalam hati mereka senang karena kata-kata sang guru yang begitu inspiratif
tidak akan diganggu lagi dan mereka tidak akan pernah lagi merasa "diteror"
oleh kecaman serta tingkah laku orang yang tidak sopan itu.
Namun alangkah terkejutnya orang banyak dan
murid-murid sang guru manakala mereka menemukan sang guru tenggelam dalam
suasana dukacita akibat kepergiaan "setan" tersebut. Seorang murid memberanikan
diri bertanya, apa yang membuat sang guru begitu berduka. "Sesungguhnya saya
sedang berduka bagi diri saya sendiri. Di sini saya dikelilingi oleh
orang-orang yang menghormati saya. Orang yang sudah meninggal itu adalah
satu-satunya yang menentang saya. Saya takut setelah kepergiannya saya tidak
berkembang lagi," kata sang guru sambil menangis tersedu-sedu.
Apa pelajaran yang bisa kita petik dari cerita
sederhana yang saya kutip dari buku
Doa
Sang Katak (karya Anthony de Mello) itu? Saya sendiri mendapat satu
pelajaran penting darinya yakni mengenai kritik. Dalam hidup ini orang
cenderung mengharapkan pujian dan pengakuan namun berusaha sekuat tenaga untuk
menghindari kritik. Dalam dunia politik kita kerap melihat bagaimana penguasa
membungkam kaum pengritik yang bernama oposisi.
Sesungguhnya kritik dapat kita jadikan sebuah
momentum untuk memperbaiki diri. Saya masih ingat pengalaman bertahun-tahun
silam ketika saya baru saja terjun menjadi pembicara seminar. Seusai acara saya
senantiasa bertanya kepada beberapa peserta seminar, panitia seminar, istri dan
tim saya tentang apa saja kekurangan saya selama presentasi dan sesi tanya
jawab berlangsung. Jawaban yang paling umum saya terima adalah saya berbicara
terlalu cepat sehingga peserta terkadang menjadi tergopoh-gopoh mengikuti
presentasi saya. Hal senada juga kerap saya dapatkan dalam lembar evaluasi seminar.
Kritik tersebut membuat saya menjadi lebih peka
akan kebutuhan dan keinginan peserta. Keterbukaan terhadap kritik pada akhirnya
juga membuat saya mengetahui kalau sebuah seminar atau training akan lebih
efektif jika diselingi dengan sejumlah permainan dan pemutaran klip
singkat. Pada akhirnya semua kritikan
itu membuat saya semakin berkembang menjadi pembicara seminar yang lebih baik
dari hari ke hari. Saya tidak mau berhenti sampai di sini. Hingga hari ini pun
masih terus belajar agar terus berkembang.
Seorang teman pernah berpesan agar kita jangan
menganggap remeh orang yang mengkritik kita, terutama dalam sebuah event.
Mengapa? "Karena bisa jadi, dialah orang yang paling serius memperhatikan
Anda!" katanya. Wow, sebuah nasihat yang sungguh berharga! Secara jujur, saya
harus mengakui kalau dulu saya termasuk orang yang sangat tidak suka dikritik
namun seiring perjalanan waktu sikap saya terhadap kritik berubah drastis.
Shiv Khera dalam bukunya
You Can Win dengan tegas mengatakan, "Satu-satunya cara agar Anda
tidak dikritik adalah tidak melakukan apa-apa, tidak berkata apa-apa atau tidak
mempunyai apa-apa. Dan karena itu Anda tidak akan pernah mencapai apa pun dalam
hidup ini." Bukankah orang cenderung
untuk tidak merasa iri kepada orang lain yang sama sekali tidak memiliki
prestasi dalam hidupnya? Pepatah bijak pun mengingatkan, semakin tinggi pohon
semakin kuat angin menerpanya. Namun jika pohon itu memiliki akar, batang, dan
dahan yang kuat, ia akan mampu bertahan terhadap tiupan angin yang kencang.
Akar, batang dan dahan yang kuat itu dapat kita
ibaratkan sebagai reaksi kita menghadapi berbagai kritikan itu. Jika kita mau
bersikap rendah hati dan terbuka, kita akan senantiasa sadar kalau kita ini
masih manusia, makhluk yang penuh dengan segala kekurangan. Orang sering lupa
kalau nasihat dan tegoran terkadang bisa hadir dalam bentuk kritik yang paling
pedas. Tidak perlu bereaksi secara berlebihan. Sikap yang paling bijaksana
adalah mencoba melihat segi positifnya.
Memang tidak semua orang memiliki motif yang benar
ketika melontarkan kritik. Ada yang memang ingin membantu, namun ada pula yang
memang sudah hobinya mengkritik orang lain. Meski begitu, kalau kita berlaku
defensif, kita tidak akan dapat belajar apa-apa. Ambillah hikmah dari setiap
kritik yang membangun. Orang yang mengkritik kita dengan motif yang benar
sesungguhnya dapat menjadi semacam alarm peringatan dini bahkan konsultan
gratis. Hargailah mereka dan ucapkan terima kasih. Kemudian, dengan pikiran
terbuka lakukanlah evaluasi demi perbaikan di kemudian hari. Jadikan kritik
sebagai bekal tambahan bagi perjalanan sukses Anda sehingga kritik itu akan
membangun Anda menjadi insan yang lebih baik. Bagaimana menurut Anda? ***
* Paulus Winarto adalah pemegang 2 Rekor Indonesia
dari Museum Rekor Indonesia (MURI) yakni sebagai pembicara seminar yang pertama
kali berbicara dalam seminar di angkasa dan penulis buku yang pertama kali
bukunya diluncurkan di angkasa. Sejumlah bukunya masuk dalam kategori best seller
(al: First Step to be An Entrepreneur, Reach Your Maximum Potential, Be Strong, Melejit di Usia Muda dan The Power of HOPE). Ia banyak menimba ilmu kepemimpinan dari guru
kepemimpinan internasional, Dr. John C Maxwell. Guru marketing Hermawan Kartajaya
menjuluki Paulus sebagai "manusia kompleks". Paulus dapat dihubungi melalui e-mail: pwinarto@cbn.net.id atau www.pauluswinarto.com
Bagikan ke teman Anda, Share & Be Happy!
|
|
Baca juga artikel lainnya dari Paulus Winarto
|
 |
Antara Ya Dan Tidak
|
 |
Antara Iman, Harapan Dan Pemaksaan Kehendak
|
 |
Change for Growth (bagian 1)
|
 |
You are Born to Win
|
 |
The Power Of Hope
|
|
|
| Artikel Selanjutnya : |
 |
Stress Management
(Artikel Tetap) -
Sabtu, 06 Desember 2008
|
 |
Kampung Suka Vs Kampung Duka
(Artikel Tetap) -
Senin, 08 Desember 2008
|
 |
Brrrrrr...
(Artikel Tetap) -
Selasa, 09 Desember 2008
|
 |
Apa Yang Akan Saya Pikirkan Hari Ini
(Artikel Tetap) -
Kamis, 11 Desember 2008
|
 |
Melompati Rintangan-rintangan Anda
(Artikel Tetap) -
Jumat, 12 Desember 2008
|
|
| Baca juga artikel sebelumnya : |
 |
Cermin Perilaku Di Jalan, Cermin Perilaku Diri Kita
(Artikel Tetap) -
Kamis, 04 Desember 2008
|
 |
How To Be A Good Sales For Yourself
(Artikel Tetap) -
Rabu, 03 Desember 2008
|
 |
Penawaran Terbaik Hanya Untuk Anda
(Artikel Tetap) -
Selasa, 02 Desember 2008
|
 |
Memandang Dari Lain Jurusan
(Artikel Tetap) -
Senin, 01 Desember 2008
|
 |
Tranformasi Ke Alam Bawah Sadar
(Artikel Tetap) -
Minggu, 30 November 2008
|
|
|