Sudut pandangku tentang
diriku ternyata sangat berkaitan dengan
sudut pandangku dengan rasa cemburu. Ketika aku memandang diriku sebagai pemain
gitar, senang sekali aku jika ada pamain gitar yang lebih buruk kualitasnya dariku. Kepadanya aku
merasa menang dan kalau ia mau, aku bisa menasihatinya berlama-lama, bukan
untuk membuatnya pintar, tetapi lebih dari sekadar untuk meneguhkan
kemenanganku. Buktinya, kalau anak itu nanti benar-benar pintar karena nasihatku dan malah menyalip
kemampuanku, murkalah hatiku.
Tetapi ketika hobi main gitar ini aku tinggalkan dan aku berpindah
hobi menjadi pelukis, cuma soal-soal lukisanlah yang bisa membuatku cemburu.
Pandanganku terhadap dunia gitar menjadi dingin dan datar. Walau seluruh gitaris
terbaik di dunia bergabung untuk memanas-manasi hatiku, aku akan melihatnya
sebagai sekadar pertunjukan. Saling cemburu yang kualami dulu kini kutatap sebagai
soal yang menggelikan.
Apakah ini berarti aku sudah makin bijak dan matang? Tidak.
Kecemburuan itu cuma sekadar sedang berpindah tepat. Kali ini ke dalam dunia
seni lukis. Seluruh soal menyangkut lukisan membuatku peka. Seluruh pembicaraan
tentang lukisan tanpa melibatkan namaku akan kutafsirkan sebagai penghinaan.
Dan ketika dari seorang pelukis aku
berpindah ke seni sastra, seluruh soal lukisan yang dulu aku anggap sebagai soal
terpenting di dunia itu membuatku malu. Lukisankanku yang kuanggap sebagai mahakarya
malah bisa kubagi-bagikan gratis belaka. Di antaranya ia teronggok di tumpukan
gudang dan meranggas oleh ketidakpedulian.
Tetapi kepada siapa saja sastrawan seangkatan yang mulai mendapat pujian,
hatiku jadi tidak tenang karena menurutku, seluruh pujian itu hanya layak
dialamatkan kepadaku. Jika ada kritikus lupa menyebut-nyebut namaku dalam
deretan sastrawan masa depan, ia akan kutetapkan sebagai lawan.
Aku tak tahu berapa banyak lagi perpindahan minat ini harus
kulakukan karena kemungkinan hidup ini ternyata begini kaya dan terbuka. Karena
hanya dengan menggesar bacaanku saja bisa berubah minatku atas segala sesuatu.
Hanya dengan menggeser pergaulanku, bisa bergeser pula profesiku. Tetapi ke manapun minat dan proses itu menuju ia selalu bertemu dengan rasa cemburunya yang baru. Pilihan-pilihan
yang baru itu rasanya selalu diikuti oleh kerikil dalam sepatu. Tiba-tiba di
dunia baru itu, ada juga orang yang bakatnya melebihi bakatku, ada keberuntungan
yang tampaknya lebih besar tapi bukan untukku. Dan itu biasa membuatku marah
setiap waktu.
Lalu siapa kamu, mahkluk bernama cemburu yang tak lelah-lelahnya
mengikutiku itu? Oh, ia ternyata bukan ia yang setia mengikutiku, melainkan
akulah yang setia mengajaknya. Ketika aku berpindah tempat, sang cemburu ini kuiminta
untuk dengan sengit mengawasi apa saja yang sehubungan dengan duniaku yang baru.
Lalu dunia itu menjadi soal yang amat serius, yang paling penting dan paling mendesak untuk diurus. Kepada
sola-soal lain aku mudah menjadi rileks tetapi kepada soal yang satu itu, aku mudah
menjadi tegang.
Ternyata inilah pokok persoalannya: begitu yang satu mementing, yang lain menyederhana. Begitu
yang satu memfokus, yang lain mengabur. Hidup dengan satu fokus memang ada kalanya penitng. Tetapi ternyata
memfokuskan yang satu bukan berarti boleh mengaburkan yang lain. Mementingkan
yang satu bukan berarti boleh meremehkan
yang lain. Karena semua ternyata penting dan tidak ada yang paling penting
sehingga tak perlu ada yang paling aku irikan cuma gara-gara sedang ku anggap paling
penting.
Maka ketika aku cemburu pada satu hal, aku cukup mengedarkan
pandanganku ke segenap penjuru, untuk mengagumi seluruh kepentingan yang disebar
merata di seluruh jagat raya sehingga semua soal lebih mudah terlihat setara.
Prie GS
Bagikan ke teman Anda, Share & Be Happy!
|
|
Baca juga artikel lainnya dari Prie GS
|
 |
Haru Lebaran
|
 |
Saat Aku Terima Sms-mu
|
 |
Anak-anak Nakal
|
 |
Dua Jam Sebelum Keberangkatan
|
 |
Soal-soal yangMemang Harus Terjadi
|
|
|
| Artikel Selanjutnya : |
 |
Penawaran Terbaik Hanya Untuk Anda
(Artikel Tetap) -
Selasa, 02 Desember 2008
|
 |
How To Be A Good Sales For Yourself
(Artikel Tetap) -
Rabu, 03 Desember 2008
|
 |
Cermin Perilaku Di Jalan, Cermin Perilaku Diri Kita
(Artikel Tetap) -
Kamis, 04 Desember 2008
|
 |
Kritik
(Artikel Tetap) -
Jumat, 05 Desember 2008
|
 |
Stress Management
(Artikel Tetap) -
Sabtu, 06 Desember 2008
|
|
| Baca juga artikel sebelumnya : |
 |
Tranformasi Ke Alam Bawah Sadar
(Artikel Tetap) -
Minggu, 30 November 2008
|
 |
Batman & Superman
(Artikel Tetap) -
Jumat, 28 November 2008
|
 |
Multikultural
(Artikel Tetap) -
Rabu, 26 November 2008
|
 |
Pleonoxia Atau Motivasi
(Artikel Tetap) -
Senin, 24 November 2008
|
 |
Kita Harus Berubah
(Artikel Tetap) -
Jumat, 21 November 2008
|
|
|