Ketika kami hadir dalam
acara Perayaan Tahun Baru Imlek 2559 pada 17 Februari 2008, semua yang hadir
dengan tulus memegang hio menyampaikan hormat kepada Nabi Khunghucu. Ketulusan
menghayati tata cara agama Konghucu juga dilakukan oleh Kyai, Pendeta, Pandita,
Pinandhita dari berbagai agama yang hadir.
Itulah sikap multikultural
yang terwjujud. Dengan menghormati tata cara saudara kita yang beragama
Konghucu, bukannya kita langsung menjadi beragama Konghucu, karena kami tetap
pada jatidiri kita masing-masing.
Yang beragama Islam tetap
beragama Islam, yang beragama Katolik tetap beragama Katolik, yang beragama
Kristen Protestan tetap beragama Kristen Protestan, yang beragama Buddha tetap
beragama Buddha dan yang beragama Hindu tetap beragama Hindu.
Saya jadi ingat pelaksanaan
Grebeg Maulud di Yogya, Grebeg Idul Adha di Demak serta berbagai Grebeg secara
adat Jawa yang dilaksanakan di berbagai tempat dengan arak-arakan yang membawa
gunungan lanang dan gunungan wadon. Setiap peserta dengan tanpa memperhatikan
dirinya beragama apa dan lahir dari ethnis mana, dengan tekun dan tulus
mengikuti seluruh upacara. Mana yang mau dilakukan dan mana yang tidak mau
dilakukan ketika berada dalam perhelatan termaksud, tidak ada yang menyalahkan
atau mengharuskan.
Secara khusus saya diundang
dhimas Endry untuk berperan dihadapan masyarakat dalam adat Jawa ketika
diselenggarakan grebeg Idul Adha 1428 H pada tanggal 31 Desember 2007 di
Semarang. Sebaliknya saya juga ikut bersama dhimas Endry ketika diselenggarakan
pawai ogoh-ogoh menjelang Hari Raya Nyepi 1930 Saka di sekitar Simpang Lima
Semarang pd. 2 Maret 2008 oleh umat Hindu.
Sama seperti sikap ketika
mengikuti acara Tahun Baru Imlek bernuansa Konghucu di Pecinan, grebeg Maulud
maupun Idul Adha bernuansa Islam, Pawai Ogoh-ogoh bernuansa Hindu maupun
kerumunan rakyat ketika Hari Raya Waisak di Borobudur yang bernuansa Buddha,
demikian juga kerumunan rakyat di Gua Maria Sendangsono, Kerep, Ratu Kenya
dalam nuansa Katolik serta Doa Perdamaian yang diselenggarakan di Lapangan
Simpang Lima dan Lapangan Citarum dalam Nuansa Kristen Protestan, multi
kulturalis merekatkan persaudaraan sesama bangsa Indonesia.
Itulah Indonesia.
Ceritera di atas terjadi di negeri yang
menurut Multatuli bagaikan zamrud di kalutistiwa. Zamrud atau batu giok pada
saat ini dipopulerkan dapat dipergunakan sebagai alat terapi.
Nagara kita mempunyai
berbagai corak budaya dan ethnis. Perbedaan tersebut justru menghiasi keindahan
di negeri Kesatuan Republik Indonesia.
Sejak zaman dulu rakyat
Indonesia terkenal ramah dan mudah menghargai perbedaan. Konon ketika orang
India datang, rakyat di Nusantara belajar budaya Hindustan. Ketika orang
Kamboja datang, dikenal Angling Darma, ketika orang Tionghoa datang, dikenal
berbagai cara bertani dan pengolahan hasil pertanian menjadi tahu, mi dan lain
sebagainya.
Marilah
kita hiasi tamansari Indonesia dengan berkembangnya berbagai budaya ethnis
tanpa mengorbankan jatidiri pada budaya kita sendiri. Janganlah mutlikultural
melebur berbedaan jadi kesamaan mutlak, namun menumbuhkan kemajemukan yang
indah dengan tetap pada jatidiri kita.
Bagikan ke teman Anda, Share & Be Happy!
|
|
Baca juga artikel lainnya dari D Henry Basuki
|
 |
Cermin
|
 |
Kemampuan Diri
|
 |
Bekas Paku
|
 |
Jadilah Prima
|
 |
Pusing
|
|
|
| Artikel Selanjutnya : |
 |
Batman & Superman
(Artikel Tetap) -
Jumat, 28 November 2008
|
 |
Tranformasi Ke Alam Bawah Sadar
(Artikel Tetap) -
Minggu, 30 November 2008
|
 |
Memandang Dari Lain Jurusan
(Artikel Tetap) -
Senin, 01 Desember 2008
|
 |
Penawaran Terbaik Hanya Untuk Anda
(Artikel Tetap) -
Selasa, 02 Desember 2008
|
 |
How To Be A Good Sales For Yourself
(Artikel Tetap) -
Rabu, 03 Desember 2008
|
|
| Baca juga artikel sebelumnya : |
 |
Pleonoxia Atau Motivasi
(Artikel Tetap) -
Senin, 24 November 2008
|
 |
Kita Harus Berubah
(Artikel Tetap) -
Jumat, 21 November 2008
|
 |
Bangkit!!!
(Artikel Tetap) -
Kamis, 20 November 2008
|
 |
Pikat Pelanggan Dengan Reflective Listening
(Artikel Tetap) -
Rabu, 19 November 2008
|
 |
Kenangan Yang Tak Ingin Saya Kenang
(Artikel Tetap) -
Selasa, 18 November 2008
|
|
|