"Tuhan menganugrahkan dua telinga dan satu
mulut kepada manusia." Kalimat itu rasanya sudah berdiam lama dalam ruang
kognitif setiap orang. Persoalannya, apakah kalimat itu selesai pada tingkat
pengetahuan semata atau sudah sampai pada tingkat aplikasi dalam kehidupan
sehari-hari. Ada
sebuah fakta yang patut direnungkan dalam hal ini. 80% waktu manusia habis
digunakan untuk berkomunikasi. 45%
dialokasikan untuk mendengar dan sayangnya terdapat sekitar 75% kata-kata yang
dibaikan, disalahpahami dan dilupakan. Sungguh sebuah ironi komunikasi yang
seharusnya tidak terjadi jika keterampilan mendengarkan menjadi menu utama dan
pertama saat bercengkerama dalam ranah bursa kata ini. Hal ini memberikan
sebuah indikasi bahwa 'mendengarkan' menjadi persoalan serius yang tidak dapat
diremehkan untuk meraih pemahaman komprehensif dalam sebuah diskusi.
Ternyata terdapat banyak sekali jenis keterampilan
mendengar menurut para ahli. Ada yang disebut mendengar aktif, analitis,
empatik, kritis, selektif, atentif, apresiatif, sampai dengan reflektif.
Kesemua jenis mendengar ini seolah mengingatkan kita bahwa setiap orang
sejatinya ingin didengar! Namun, sayang dalam praktiknya, betapa sulit
menyatukan teori dengan aplikasi. Betapa masih banyak individu, bahkan
profesional korporasi yang belum menyadari bahwa keterampilan satu ini akan
meninggikan citra diri dan profit secara permanen dan militan jika dilakukan
dengan penuh ketulusan dan keseriusan. Mari kita lihat, bagaimana seorang
profesional
call center, baik yang
bertugas di udara mau pun di darat, masih berdebat dengan pelanggan atau
pencari informasi dengan kata-kata sarkastis, emosional, merendahkan sampai
dengan menghina. Betapa pelanggan dihadapkan pada situasi terpidana dalam
kepedihan. Padahal mereka adalah pengisi pundi-pundi korporasi yang membangun
citra positif emiten di lantai bursa. Bercermin dari kejadian itu, terlihat ada
persoalan serius dalam hal mendengarkan. Karenanya, teori yang relatif pas
untuk kasus ini adalah '
reflective listening'
yang diharapkan mampu meningkatkan kinerja korporasi. Teori ini bermula dari
praktek konseling dan
psychotherapy yang
dilakukan oleh Carl Rogers terhadap pasiennya. Walau pun
reflective listening ini pertama kali dipraktikkan di dunia medis,
bukan berarti tidak dapat diaplikasikan
dalam situasi lainnya, misalnya bisnis. Justru jenis mendengar ini, pakar
komunikasi Deborah Tannen menyebutnya sebagai
rapport-talk (bicara untuk membina hubungan), akan memberikan
feedback yang sangat positif, konstruktif
dan empatik dari pelanggan ke profesional korporasi.
Reflective
listening adalah sebuah
tindakan mengulang secara verbal apa yang didengar dari orang lain. Mengulang
apa yang diucapkan dan dirasakan oleh pihak lain akan menunjukkan rasa empati
terhadap apa yang dialami oleh sang penutur. Kalimat yang di-
rephrase tersebut akan mengubah subyek
‘saya' menjadi ‘kita.' Artinya, ketika seseorang menyampaikan keluh kesahnya
secara subyektif, teknik
reflective listening
akan mengubahnya menjadi keluhan bersama - keluhan ‘kita.' Karena materi
keluhan menjadi keluhan bersama. Berdasarkan situasi ini, sang pengeluh akan
merasa bahwa dia tidak sendirian dalam menghadapi peristiwa tidak menyenangkan
tersebut. Ini adalah
reflective listening.
Pendengar memberikan rasa empati melalui keterlibatan emosinya terhadap apa
yang dialami oleh sang pencetus masalah.
Ada empat komponen yang menjadi syarat minimal
dalam melakukan
reflective listening:
empathy, acceptance, congruence, dan
concreteness. Pertama, e
mpathy (empati) mewajibkan pendengar
untuk memfokuskan diri pada pemberi keluhan yang tengah menumpahkan saran,
kritik atau pun masukan atas apa yang dialaminya. Disini, referensi yang
dipakai harus bingkai orang yang tengah menyampaikan keluhan. Dengan demikian, kondisi
‘merasakan' apa yang dialami oleh orang lain akan membuat sang pengeluh
mendapatkan sebuah penghiburan. Ternyata, ia dipahami. Hal ini sangat penting,
terutama dalam menangani pelanggan yang sedang marah atas sebuah produk atau
pelayanan yang tidak sesuai dengan yang diharapkannya. Jika rasa empati
dikedepankan secara simpatik, niscaya, luapan lahar emosi akan menjadi salju
penyejuk di musim panas.
Kedua,
acceptance (penerimaan) sangat terkait
erat dengan empati. Penerimaan ini memberikan penghargaan kepada setiap orang
bahwa mereka sesungguhnya berharga. Artinya, siapa pun yang menyampaikan
keluhan atau sejenisnya itu, apakah ia dari strata sosial ekonomi bawah,
pelanggan kecil sampai dengan rakyat jelata pengantri raskin sekali pun, harus
diterima secara empatik dan simpatik sebagai aset penggerak roda korporasi
secara perlahan namun konsisten. Adalah keliru, apabila dalam praktek
korporasi, banyak petugas di garda depan mengabaikan hal ini hanya karena
melihat penampilan sang pengeluh/pencari informasi yang tidak sesuai dengan
standar yang biasa dihadapi. Jika ini terjadi, konsep penerimaan disini menjadi
sebuah teori kosong belaka. Sang pencari informasi akan kecewa dan akhirnya
pindah ke lain hati (baca: korporasi lain). Karena, di kening setiap orang
sesungguhnya terpatri sebuah kalimat
‘make
me feel important.'
Ketiga,
congruence (harmoni). Harmoni disini merujuk
pada ketulusan dan pengertian atas apa yang terjadi pada orang lain. Artinya,
jika kita juga merasa kecewa atas apa yang dialami oleh orang yang mengeluh,
tunjukkan melalui bahasa
nonverbal
bahwa hal itu juga terasa sama kadarnya oleh kita. Bahasa tubuh ini harus
secara tulus diekspresikan, bukan dibuat-buat. Hal ini akan dengan mudah
dilihat dan dinilai oleh orang lain sebagai tulus atau palsu. Melalui praktik harmoni ini (sinkronisasi
verbal dan
nonveral), ikatan emosional akan semakin kuat terpatri dalam ruang
afeksi sehingga pindah ke lain hati akan menjadi pertimbangan dengan urutan
terbawah.
Keempat,
concreteness (kekonkretan). Poin ini
mengacu pada hal-hal yang lebih bersifat spesifik daripada generik. Sebagian
pendengar, tanpa sadar atau ketidaktahuan, sering memberikan komentar atas
keluhan atau ungkapan orang lain secara generik tanpa menyentuh ke inti keluhan
yang menjadi persoalannya. Misalnya, ketika ada orang mengeluhkan soal
pelayanan
call center yang tidak
baik, sering petugas di garda depan mengatakan bahwa hal itu tengah ditangani
oleh perusahaan dan memerlukan waktu yang tidak dapat ditentukan kapan
selesainya. Ini adalah contoh ketiadaan kekonkretan seperti dimaksud di atas.
Lalu, bagaimana mengatasi hal ini? Seharusnya, sang petugas melokalisir
persoalan secara fokus. Ia seharusnya mengatakan bahwa
call center mengalami gangguan selama 2-3 hari kerja dan akan bisa
diatasi dalam 1-2 hari ke depan. Ia mengonkretkan persoalan secara tepat (
call center saja) bukan korporasi secara
umum yang terlalu rumit meski hanya untuk dibayangkan. Dengan melokalisir
persoalan secara sempit dan spesifik, rasanya persoalan akan lebih mudah
menemui solusi.
Jika setiap pendengar memiliki empat orientasi minimal
dalam
reflective listening di atas,
empathy,
acceptance, congruence dan
acceptance,
rasanya berjuta keluhan di kolom-kolom surat pembaca selama ini akan mengalami masa surut
secara kuantitatif mau pun kualitatif. Semoga begitu adanya!
Bagikan ke teman Anda, Share & Be Happy!
|
|
Baca juga artikel lainnya dari Ponijan Liaw ( Daftar Artikel Selengkapnya )
|
 |
Makhluk Tuhan Paling Laris
|
 |
Komunikasi Berdasarkan Pola Laku - Doer(Pelaku)
|
 |
Always Address Customer by Name
|
 |
Pikat Pelanggan Dengan Reflective Listening
|
 |
Komunikasi Berdasarkan Ekspresi - Pendorong (driver)
|
|
|
| Artikel Selanjutnya : |
 |
Bangkit!!!
(Artikel Tetap) -
Kamis, 20 November 2008
|
 |
Kita Harus Berubah
(Artikel Tetap) -
Jumat, 21 November 2008
|
 |
Pleonoxia Atau Motivasi
(Artikel Tetap) -
Senin, 24 November 2008
|
 |
Multikultural
(Artikel Tetap) -
Rabu, 26 November 2008
|
 |
Batman & Superman
(Artikel Tetap) -
Jumat, 28 November 2008
|
|
| Baca juga artikel sebelumnya : |
 |
Kenangan Yang Tak Ingin Saya Kenang
(Artikel Tetap) -
Selasa, 18 November 2008
|
 |
Imajinasi Menguasai Dunia
(Artikel Tetap) -
Senin, 17 November 2008
|
 |
Mukzizat Keikhlasan
(Artikel Tetap) -
Jumat, 14 November 2008
|
 |
Yes We Can
(Artikel Tetap) -
Kamis, 13 November 2008
|
 |
Jangan Bekerja Terlalu Keras
(Artikel Tetap) -
Rabu, 12 November 2008
|
|
|