Dengan melihat
keindahan di setiap wajah, kita akan saling memperkaya kebajikan di hati, dan
memperbesar kesempatan untuk menangkap pesan-pesan keselarasan....
(James Redfield -
penulis "The Celestine Prophecy").
Teramat
banyak pembelajaran dan pengungkapan hakikat yang bisa kita petik dari berbagai
frasa dalam kehidupan, termasuk juga dari para pemimpin bisnis. Salah satunya
adalah saat kita mengamati pola kesuksesan Microsoft. Dewasa ini nyaris seluruh
bisnis peranti lunak di dunia seperti "diwajibkan" untuk melayani Bill Gates
dan Microsoft-nya.
Landscape bisnis terkini seolah mengatakan bahwa bila kita
menginginkan suatu
software untuk laris
di pasaran, maka operasi berbasis
Windows
adalah sebuah keharusan. Alhasil, popularitas
Windows dilipat gandakan oleh jutaan
programmer yang dengan "sukarela" menciptakan software-software
berbasiskan
Windows .
Faktanya, ada banyak figur cemerlang
lainnya yang kesuksesannya juga digandakan oleh lingkungannya. Beberapa bahkan begitu
alami hingga seolah-olah alam semesta memang melayani mereka. Dari dalam negri,
kita bisa belajar dari figur Ary Ginanjar dengan Konsep ESQ-nya, atau dari
Andrea Hirata dengan Laskar Pelangi-nya.
Mungkinkah
setiap orang bisa menikmati "penggandaan" tersebut? Kabar gembiranya, sesungguhnya
seperti itulah "cetak biru" penciptaan alam semesta, yaitu diciptakan untuk
melayani SETIAP manusia, tanpa kecuali. Tuhan Semesta Alam sendirilah yang
menjamin, bahwa apa yang ada di langit dan di bumi telah "ditundukkan" untuk
manusia sebagai rahmat daripada Nya.
Bumi dan seisinya tunduk pada Sang
Maha Pengatur, karena itulah alam semesta akan memberikan "segalanya" selama
kita SELARAS dengan Hukum-hukum Tuhan. Termasuk di dalamnya adalah hukum
humaniora, hukum sebab-akibat, hukum fisika, marketing, hukum dagang, matematika
dan masih banyak lagi hukum Tuhan lainnya.
Demikian
pula manusia, bila kita ingin "menikmati" fasilitas sebagai pengelola atas bumi
dan seisinya, maka kita WAJIB menciptakan keselarasan. Lantas bagaimana cara kita
mempelajari keselarasan tersebut? Ada tiga prinsip utama dalam mempelajarinya:
- Hidup itu sendiri adalah sebuah
pembelajaran yang tiada henti
- Jalani hidup dengan BERBAIK SANGKA pada
Sang Pencipta
- Terakhir, berguru langsung pada Sang Maha
Pemilik Ilmu, agar selalu mengilhamkan HAKIKAT sejati di hati kita
Ketiganya saling berhubungan dan sesungguhnya merupakan
pondasi kesuksesan.
Inilah
yang membedakan seorang sukses sejati dengan mereka yang "sekedar" kaya
pengetahuan teoritis maupun praktek. Para insan luarbiasa tersebut, apapun
bidangnya, telah berdiri di zona HAKIKAT. Mereka sadar betul akan apa perannya,
apa yang dituntut dari keberadaannya, dan apa yang harus mereka berikan pada
semestanya.
Bill
Gates tidak akan secermerlang sekarang bila ia berkarya di bidang otomotif,
demikian pula Soichiro Honda tidak akan melegenda bila berkarya di bidang
software. Barack Obama, sang presiden terpilih, tidak akan sepopuler sekarang
bila setamat Harvard dulu, ia memilih berkarier di Wallstreet yang bergelimang
uang. Lantas pertanyaannya, bagaimana kita "menemukan" tugas sejati kita?
Dengan
berpegang pada 3 prinsip utama di atas, berikut ini adalah beberapa langkah
yang dapat membantu Anda menemukan tugas sejati. Langkah-langkah ini adalah
hal-hal yang sudah sering disampaikan oleh para "pendaki" spiritual:
- Kehidupan dengan segala suka dukanya,
adalah pembelajaran bagi kita
- Kesukaran, adalah salah satu cara Tuhan
memperkenalkan diri Nya pada kita, bahwa kita ini mahluk serba terbatas, yang
masih perlu banyak belajar
- Kesukaran, adalah salah satu cara Tuhan
memberitahu kita bahwa jalan yang kita tempuh keliru, atau mungkin jalannya
benar tapi cara-caranya yang keliru
- Sesudah kesukaran PASTI ada kemudahan,
selama kita mampu menyikapi kesukaran sebagai pembelajaran
- Saat kita berada dalam kemudahan, saat
segalanya serba dipermudah, itulah sesungguhnya cara Tuhan memberitahu bahwa
inilah jalan hakiki kita.
Sebagai penutup, berikut ini sedikit cuplikan dari
buku "
The Corporate Mystic" karya Heyderman,
"...
Para sufi jaman modern tidak lagi
tinggal di pesantren, kuil atau vihara. Mereka adalah para pemimpin bisnis, top
leader atau CEO. Mereka hidup hanya untuk melayani dan membuat orang-orang
disekelilingnya bahagia. Harta sama sekali tidak mengikat hidup mereka...."Ditulis oleh Tommy Setiawan, seorang trainer,
penulis dan pengamat industri MLM. Tommy dapat dihubungi melalui
blowbytommy@yahoo.com atau melalui 0812
80 56772.
Bagikan ke teman Anda, Share & Be Happy!
|
|
Baca juga artikel lainnya dari Tommy Setiawan ( Daftar Artikel Selengkapnya )
|
 |
Kesuksesan Sama Dengan Ukuran Seberapa Besar Anda Menguntungkan
|
 |
Pasangan Hidup Merupakan Guru Kita yang Sejati
|
 |
Roda Nasib Itu Default Nya Memang Selalu Berputar
|
 |
Dalam Keheningan Peta Solusi Akan Tampak Lebih Jelas
|
 |
Harga Dari Sebuah Target Kehidupan
|
|
|
| Artikel Selanjutnya : |
 |
Gunakan Modal Dalam Diri Anda
(Artikel Tetap) -
Senin, 10 November 2008
|
 |
Senyumlah, Dunia Akan Mencintaimu
(Artikel Tetap) -
Selasa, 11 November 2008
|
 |
Jangan Bekerja Terlalu Keras
(Artikel Tetap) -
Rabu, 12 November 2008
|
 |
Yes We Can
(Artikel Tetap) -
Kamis, 13 November 2008
|
 |
Mukzizat Keikhlasan
(Artikel Tetap) -
Jumat, 14 November 2008
|
|
| Baca juga artikel sebelumnya : |
 |
Ketika Aku Sedang Tidak Setuju
(Artikel Tetap) -
Sabtu, 08 November 2008
|
 |
Merayakan Perbedaan
(Artikel Tetap) -
Jumat, 07 November 2008
|
 |
Belajar Dari Sebuah Bakpau
(Artikel Tetap) -
Rabu, 05 November 2008
|
 |
Impian Menjadi Selebritis Ternama
(Artikel Tetap) -
Senin, 03 November 2008
|
 |
Mengapa Harus Percaya Diri Saat Berbicara
(Artikel Tetap) -
Minggu, 02 November 2008
|
|
|