Diam-diam saya sering mengamati
perilaku putri saya saat hujan tiba. Jika
kami sedang dalam perjalanan, sambil bersama misalnya, itulah saat ia langsung
terdiam, memandangi jendela, berlama-lama, tegak lurus di kejauhan. Saya pernah
mencoba menggoda dan ia marah luar biasa. Sejak itu saya percaya pada tebakan
saya: anak ini pasti sedang menikmati situasinya. Mudah saja saya menebak
karena saya sendiri mengalami perasaan
yang sama. Bedanya anak ini sekarang menikmati
dari jendela mobil pribadi, sementara
bapaknya dulu cukup dari jendela kereta murahan dan bus-bus omprengan, yang semua
terasa sebagai kemewahan.
Seperti anak ini, dari
balik jendela, saya juga terbiasa memandang jauh. Seluruh tulisan yang bekelabat
saya baca dalam hati, seluruh pemandangan, sawah gunung, awan-awan, titik air,
pepohoanan, saya rekam, saya simpan dalam ingatan dan saya semayamkan dalam
hati, hingga hari ini. Seluruh film yang saya tonton, seluruh musik yang saya dengar, seluruh konser yang saya lihat,
sulit menandingi rekaman keindahan di dalam
hati saya ini. Jika kenangan itu kembali
saya munculkan, tubuh saya seperti mengambang di lautan awan dan jiwa saya
mekar ke horizon terjauh, ke kaki langit nun di sana yang saya tak paham batas-batasnya. Saya seperti
mengikuti jagat saya yang secara teori memang melar terus saban hari menuju ke jarak
terperi.
Apalagi saat itu, sejak kelas dua SD, saya mulai jatuh
cinta dengan gadis tercantik di kampung saya. Ia satu-satunya gadis yang kecantikannya
telah menggemparkan seluruh desa, yang
popularitasnya telah melebar ke desa-desa tetangga. Siang malam saya mabuk
dibuatntya. Dan di setiap perjalanan itu, apalagi ketika hujan tiba, wajahnya
berpendaran di seluruh titik air. Ke manapun mata saya memandang, jatuhnya ke
wajahnya juga. Inilah periode jatuh cinta paling luar biasa dalam hidup karena
seluruhnya cuma birisi keindahan. Inlah periode platonik itu, yakni tahapan cinta
ketika ia belum berurusan dengan pertengkaran, dengan bayar SPP anak, mencuci
ompol dan harus tegang menghadapi kenaikan harga-harga.
Itulah periode ketika imajinasi manusia melayang dengan kemerdakaan
penuh. Dan itulah tradisi yang mengubah sejarah
dan peradaban manusia. Hampir tidak ada pengetahuan yang tidak dilahirkan dari
imajinasi. Dari sains hingga ketuhanan. Ketika melihat apel Jatuh Newton menemukan
gravitasi, saat Ibrahim melihat bulan dan
matahari tenggelam ia mulai menemukan Tuhan yang lebih tinggi. Karena itulah
saya mulai mengerti pernyataan Einstein bahwa imajinasi jauh lebih penting
katimbang ilmu pengetahuan.
Maka saat melihat anak saya sedang menatap hujan itu, saya
ingin memberi ruang yang terbuka untuk kemerdekaannya. Biarlah ia lakukan
penjelajahan yang keindahannya hanya dia sendiri yang tahu. Tabungan keindahan
itu nyaris tak terhinga, dan cuma imajinasi yang sanggup mengakomodasi.
Kata-kata terlalu muda untuk menjelaskan seluruh kerumitannya.
Melihat putri saya terdiam, saya juga ikut terdiam, tetapi
benak kami pasti penuh dan sedang bersama-sama dalam penjelajahan. Satu titik
air di benaknya, pasti akan berpendaran ke seluruh jiwanya. Satu kelebat pohon,
akan memantulkan ribuan bayangan. Segumpal awan pasti akan mengembang menjadi
kasur busa seluas jagat raya. Dan itulah ekstase artisitik itu. Mabuk keindahan
tanpa harus didongkrak oleh pil-pil perangsang. Saya pernah berbincang dengan mantan penembak jitu. Jika ia sedang
ingin membidik kepala lawan, ia akan menenggak pil tertentu. Makin penuh hati seseorang
dengan dendam dan kebencian, makin agresf pil ini mengambil peran. ‘'Dan kepala
lawan, akan tampak sebesar bukit,'' katanya.
Tetapi pil-pil semacam
ini sungguh tidak diperlukan jika tujuannya cuma untuk mendatangkan kegembiraan.
Keindahan dan kegembiraan adalah sesuatu yang sederhana. Untuk datang, ia cukup
diberi ruang dan dimerdekakan. Bantulah siapa saja mulai dari anak-anak Anda,
anggota keluarga tetangga dan siapa saja yang membuthkan untuk memiliki
ruang-ruang itu. Maka akan banyak sekali jiwa di sekitar Anda yang akan menjadi sehat dan gembira.
Bagikan ke teman Anda, Share & Be Happy!
|
|
Baca juga artikel lainnya dari Prie GS
|
 |
Rezeki Tak Terduga
|
 |
Teman Istriku Cantik Sekali
|
 |
Menunda Kemarahan
|
 |
Saya dan Bakat Saya
|
 |
Berkah Seorang Penipu
|
|
|
| Artikel Selanjutnya : |
 |
Are You Tgif Or Tgim Person
(Artikel Tetap) -
Rabu, 29 Oktober 2008
|
 |
Hukum Kepercayaan
(Artikel Tetap) -
Kamis, 30 Oktober 2008
|
 |
Pabrik Sepatu
(Artikel Tetap) -
Sabtu, 01 November 2008
|
 |
Mengapa Harus Percaya Diri Saat Berbicara
(Artikel Tetap) -
Minggu, 02 November 2008
|
 |
Impian Menjadi Selebritis Ternama
(Artikel Tetap) -
Senin, 03 November 2008
|
|
| Baca juga artikel sebelumnya : |
 |
Tips Kesuksesan Ala Socrates
(Artikel Tetap) -
Senin, 27 Oktober 2008
|
 |
Suatu Hari Di Kelas Hypnotherapy
(Artikel Tetap) -
Sabtu, 25 Oktober 2008
|
 |
Perbaiki Hubungan Dengan Kata Maaf
(Artikel Tetap) -
Jumat, 24 Oktober 2008
|
 |
Semangat Menghargai Apa Yang Kita Punya
(Artikel Tetap) -
Kamis, 23 Oktober 2008
|
 |
Jangan Mau Jadi Pengusaha
(Artikel Tetap) -
Rabu, 22 Oktober 2008
|
|
|