Dalam kehidupan
sehari-hari, sering kali kita mengalami perasaan ragu yang membuat keyakinan
kita akan apa yang sedang kita usahakan menjadi goyah. Perasaan ragu tersebut
biasanya muncul ketika kita memutuskan suatu langkah yang cukup beresiko
terhadap masa depan. Apa saya bisa berhasil ya? Pertanyaan ini kadang muncul
melihat realita bahwa ternyata segala sesuatu yang kita inginkan tidaklah mudah
kita wujudkan. Banyak kendala yang tiba-tiba datang di saat-saat keyakinan kita
juga diuji.
Sesungguhnya
keragu-raguan ini sangat berbahaya karena selain mengikis semangat kita, juga
bisa menarik hal-hal tidak diinginkan yang kita takutkan menjadi kenyataan
sebagaimana cara kerja hukum tarik-menarik (
Law of Attraction). Apa yang
kita takutkan benar-benar terjadi karena pikiran kita secara tidak kita sadari
memikirkan dan menarik ketakutan-ketakutan itu menjadi kenyataan dalam hidup
kita. Hal ini merupakan faktor dari dalam diri yang harus kita waspadai, jangan
sampai target keberhasilan kita rusak karena perasaan ragu yang seringnya tidak
beralasan.
Rasa cemas, waswas,
ragu dan sejenisnya menjadi musuh keyakinan diri. Jika kita yakin akan berhasil
dalam apa pun bidang yang sedang kita geluti, maka keraguan untuk berhasil
menjadi musuh utamanya. Keyakinan diri harus kita pupuk dan keraguan yang tidak
beralasan tersebut harus kita musnahkan jika tidak ingin energi kita tersedot
oleh rasa waswas / keraguan tersebut.
Semua pekerjaan
mengandung resiko dan pengorbahan. Kalau hasil akhir yang kita inginkan adalah
hasil yang cemerlang, maka yang perlu kita tanamkan ke dalam diri kita adalah
perasaan yakin akan berhasil. Jadi, tidak hanya sekedar
positive
thinking, tapi juga
positive feeling.
Apa pun kendala yang
mungkin menghadang akan bisa kita hadapi tatkala kita bersedia untuk terus
belajar dan mempersiapkan diri menghadapi resiko yang akan muncul. Meskipun
mungkin ada faktor-faktor penghambat di luar kendali yang bisa saja menghadang,
dengan adanya kepercayaan diri yang tinggi membuat kita bisa segera menguasai
keadaan di saat kegagalan terjadi.
Penghambat kesuksesan
seseorang sejatinya ada pada diri orang tersebut. Faktor internal menjadi sumber
utama kesuksesan atau kegagalan seseorang dalam kehidupannya. Ini lebih pada
sikap seseorang dalam menghadapi suatu situasi yang sulit yang di dalamnya
sebuah emosi bicara dengan keras. Emosi yang terpancar ini menjadi cerminan
konsep diri yang mendasari setiap keputusan dan tindakannya. Ada orang yang
positif dan punya kepercayaan diri kuat; konsep dirinya bagus. Ada juga orang
yang pesimis dan kurang percaya diri dalam menghadapi suatu situasi yang
menantang sehingga kemajuan tidak bisa ia raih. Dengan kata lain ia
stagnant, terhenti--tidak ke mana-mana. Ini karena konsep diri atau
pandangan seseorang tentang dirinya sendiri negatif; menganggap diri sendiri
tidak mampu atau tidak punya keyakinan akan berhasil. Jadi, belum apa-apa dia
sudah ragu dengan kemampuan dirinya sendiri. Kalau sudah demikian, siapa yang
akan mempercayainya?
Rasa yakin akan
berhasil (optimis) pun harus realistis karena kita tidak bisa memastikan 100%
akan berhasil dalam hal apa pun yang sedang kita ikhtiarkan, karena banyak
faktor di luar diri kita yang bisa saja terjadi. Namun yang pasti, tanpa rasa
optimis bisa dipastikan keberhasilan itu peluangnya kecil. Keyakinan dan
keraguan adalah dua hal yang saling meniadakan. Jika kita lebih memihak kepada
rasa "yakin" maka secara otomatis rasa "ragu" akan pergi. Begitu juga
sebaliknya. Bedanya jika kita berpihak pada rasa "ragu" maka yang namanya
keberhasilan akan semakin jauh dari kenyataan.
Seorang
lifter
sebelum bertanding sudah ragu akankah ia dapat mengangkat barbel seberat 1
kwintal maka bisa dipastikan ia akan gagal. Seorang
sales, baru saja
keluar kantor sudah ragu akankah ia bisa menjual produk yang ada padanya, bisa
dipastikan seharian ia tidak akan menjual satu pun produknya. Demikian juga
seorang pencari kerja, belum apa-apa sudah ragu apakah ia akan diterima dari
sekian banyak pelamar yang mendaftar; kemungkinan besar ia akan tidak
diterima.
Untuk itu, jika kita
tidak ingin gagal terus-terusan, sebaiknya kita musnahkan segala bentuk keraguan
sebelum kita memutuskan sesuatu yang menentukan hidup kjta ke depan karena
keraguan adalah salah satu penghambat kesuksesan yang perlu kita waspadai. Jika
dihubungkan dengan keyakinan kita kepada Tuhan, perasaan ragu justru akan
menjauhkan datangnya pertolongan-Nya. Ini terjadi sejalan dengan apa yang pernah
Allah SWT firmankan dalam sebuah hadist Qudsi yang artinya, "Aku menurut
persangkaan hamba-Ku kepada-Ku." Kalau kita ragu itu berarti kita tidak meyakini
akan datangnya pertolongan Allah SWT sehingga jangan disesali jika akhirnya kita
gagal.
Agus Riyanto
Penulis buku "Born To Be A Champion", bisa dihubungi melalui
webblog http://agusriyanto.wordpress.com
atau email: agus4ever@gmail.com.
Bagikan ke teman Anda, Share & Be Happy!
|
|
Baca juga artikel lainnya dari Agus Riyanto ( Daftar Artikel Selengkapnya )
|
 |
Menjadi Manusia Serba Bisa
|
 |
Badai Pasti Berlalu (2): Finding The Real Love
|
 |
Cara Membangkitkan Semangat dan Kebugaran Jiwa
|
 |
Berani Tampil Beda
|
 |
Menumbuhkan Benih Kebahagiaan
|
|
|
| Artikel Selanjutnya : |
 |
Mengaku
(Artikel Tetap) -
Selasa, 21 Oktober 2008
|
 |
Jangan Mau Jadi Pengusaha
(Artikel Tetap) -
Rabu, 22 Oktober 2008
|
 |
Semangat Menghargai Apa Yang Kita Punya
(Artikel Tetap) -
Kamis, 23 Oktober 2008
|
 |
Perbaiki Hubungan Dengan Kata Maaf
(Artikel Tetap) -
Jumat, 24 Oktober 2008
|
 |
Suatu Hari Di Kelas Hypnotherapy
(Artikel Tetap) -
Sabtu, 25 Oktober 2008
|
|
| Baca juga artikel sebelumnya : |
 |
Buatan Indonesia
(Artikel Tetap) -
Kamis, 16 Oktober 2008
|
 |
Saya Ingin Anda Sukses, Saya Harus Membuat Anda Sukses
(Artikel Tetap) -
Rabu, 15 Oktober 2008
|
 |
Penerangan Ketika Listrik Padam
(Artikel Tetap) -
Senin, 13 Oktober 2008
|
 |
Belajar Dari Kesalahan Orang Amerika
(Artikel Tetap) -
Jumat, 10 Oktober 2008
|
 |
Jaga Kampung
(Artikel Tetap) -
Kamis, 09 Oktober 2008
|
|
|