Setiap lebaran tiba kampungku
malah dicekam sepi. Tetangga yang sibuk mudik cuma membuktikan bahwa kampung
ini hanyalah wilayah transit. Ia cuma
dihuni ketika kita butuh bekerja dan menghidupi keluarga. Kedudukannya lalu setara dengan tempat rekreasi. Orang-orang
ramai berdatangan di siang hari, tetapi ketika malam menjelang ia ditinggal
sendiri. Menatap kampung ini tanpa teman di saat mestinya ia penuh keramaian
lalu menerbitkan rasa ibaku. Lebaran tahun ini menggerakkan niatku untuk menemani kampungku yang sepi.
Pagi-pagi, setelah rampung salat Idul Fitri, aku mengajak
anak istriku keliling kampung menyambangi warga yang tersisa. Orang-orang yang
kudatangi itu semula kaget, lalu gembira, pada akhirnya ada yang berkaca-laca.
Kaget karena tradisi kunjung mengunjungi nyaris mati di kampung transit seperti
ini. Gembira karena mendapat kunjungan adalah sebuah harga. Tepatnya, ia mendatangkan
perasaan berharga. Terharu, karena di
antara tetanggaku itu, ada yang kedudukannya sungguh tak kusangka-sangka.
Ia seorang nenek yang tinggal sendiri d rumah kecilnya.
Rumah itu sederhana tapi bersih dan rapi.
Ini semua membuktikan bahwa di dalam kesendiriannya, nenek ini sanggup meramaikan hidupnya.
Ia pasti jenis orang tua yang sehat lahir dan batinnya. Tetapi tak peduli seberapapun
ia sehat, nenek ini tetaplah pihak yang sedang sendiri. Pintunya yang ia biarkan terbuka itu,
pasti pintu yang penuh doa, agar ada saja tamu yang nanti menjenguknya.
Dan benar pula dugaanku. Ketika kami sekeluarga datang, kedatangan yang pasti tak
ia duga, nenek ini menyambut kami dengan kegairahan sedemikian rupa. Ia memegang
tanganku seperti aku ini cucunya yang hilang lama. ‘'Saya titip jiwa raga,''
katanya. Kalimat ini langsung sekali. Saya
terdiam dibuatnya. Betapa ketuaan, kesendirian, adalah musuh yang menggentarkan.
Dan ia cuma bisa ditaklukkan oleh perasaan ditemani. Padahal untuk merasa sepi
dan ditinggalkan, manusia tidak perlu menjadi setua nenek yang sendiri ini. Buatlah diri Anda sebagai
pribadi yang tidak aktual, pribadi yang dijauhi kanan-kiri, pihak yang tertolak
di sana-sini. Percayalah, tak butuh waktu lama bagi Anda untuk depresi dan pelan-pelan mati.
Bunga-bunga di belukar
itu, kenapa tumbuh dengan sempurna walau ia dililit semak dan duri, ya karena seluruh
isi belukar itulah sesungguhnya adalah teman-teman sejati. Di dalam ekosistem itulah terdapat mata rantai yang
menghidupkan, menguatkan dan saling menemani. Manusia
yang sendiri adalah manusia yang sedang
terpisah dari mata rantainya. Nenek ini bisa
saja sedang mengalami keterpisahan itu. Tetapi melihat rumah kecilnya yang
rapi, bahasanya yang hidup dan jabat tangannya yang hangat, aku tidak sedang melihat ancaman sepi. Aku hanya sedang melihat
orang tua yang sendiri. Bahwa kesendirian
butuh teman, aku mengerti. Tetapi nenek ini kuyakini telah sanggup menghadirkan
aneka teman dalam kesendirian. Entah kenapa, aku tak terlalu khawatir lagi pada
nasib orang tua ini.
Kekhawatiranku malah kepada seluruh orang-orang, termasuk
diriku sendiri, yang tampaknya dikelilingi keramaian, tetapi sesungguhnya ia senantiasa
kesepian. Jangan-jangan semakin aku
meleburkan diriku dalam keramaian cuma semakin menegaskan kesepianku. Jangan-jangan
semakin aku dikelilingi banyak teman semakin menegaskan bahwa sejatinya aku tak
berteman.
Di rumahku memang berkumpul seluruh anggota keluargaku, di
dalam rumah setiap kali kami berpapasan, tetapi bisa jadi kami tak pernah benar-benar
saling bertemu. Aku bisa saja begitu jauh dari anak-anakku, walau setiap hari
mereka lalu-lalang di sebelahku. Dengan istri, bisa saja aku merasa tak pernah
berjumpa walau setiap malam kami tidur di bawah selimut yang sama. Akhirnya
yang aku cemaskan bukan nenek yang hidup sendiri di rumah kecilnya ini,
melainkan diriku sendiri, atau orang-orang sepertiku, yang diam-diam kesepian di tengah keramaian.
Prie GS
Bagikan ke teman Anda, Share & Be Happy!
|
|
Baca juga artikel lainnya dari Prie GS
|
 |
Ketika Aku Sedang Tidak Setuju
|
 |
Badut Ulang Tahun
|
 |
Orang Kalah
|
 |
Lampor Kerinduan
|
 |
Pelajaran Yang Tak Pernah Aku Tamatkan
|
|
|
| Artikel Selanjutnya : |
 |
Belajar Dari Kesalahan Orang Amerika
(Artikel Tetap) -
Jumat, 10 Oktober 2008
|
 |
Penerangan Ketika Listrik Padam
(Artikel Tetap) -
Senin, 13 Oktober 2008
|
 |
Saya Ingin Anda Sukses, Saya Harus Membuat Anda Sukses
(Artikel Tetap) -
Rabu, 15 Oktober 2008
|
 |
Buatan Indonesia
(Artikel Tetap) -
Kamis, 16 Oktober 2008
|
 |
Salah Satu Penghambat Kesuksesan
(Artikel Tetap) -
Jumat, 17 Oktober 2008
|
|
| Baca juga artikel sebelumnya : |
 |
Ciptakan Kemenangan Anda
(Artikel Tetap) -
Rabu, 08 Oktober 2008
|
 |
Pertanyaan Yang Berkualitas Menghasilkan Jawaban Yang Berkualitas
(Artikel Tetap) -
Senin, 06 Oktober 2008
|
 |
Logika Atau Kendala
(Artikel Tetap) -
Minggu, 05 Oktober 2008
|
 |
Betapa Hal Kecil Bisa Bisa Merubah Hidup Anda
(Artikel Tetap) -
Kamis, 02 Oktober 2008
|
 |
Empat Penjara Hati
(Artikel Tetap) -
Rabu, 01 Oktober 2008
|
|
|